ANCAMAN

Oleh akal, “besar” diartikan setiap yang panjang, lebar dan luas. Suatu benda dikatakan besar sebab berunsur yang tiga tadi. Namun ingat, besar disebut besar sebab ada yang kecil. Begitu pun seterusnya. Ia relatif, asumtif dan subyektif. Besar pun tak berarti kaya dan kuasa. Tak se sederhana itu ia terdefinisikan. Ia (besar) atau dalam bahasa arab “al-akbar”, suatu yang luas, dalam, tak terjangkau. Ia tak semudah dimaknai  sebagai yang mayoritas. Mayoritas ada sebab adanya minoritas. Padahal, mayoritas tak lain hanya definisi untuk mengkalkulasi yang tak pasti.

Oleh yang maha kurang (manusia), Mayoritas didudukkan sebagai yang besar, kuat dan membanggakan. Sehingga, tiap yang mayoritas cenderung merasa luas pengetahuan, banyak teman, tenang dan tercipta kebanggaan. Dengan kemayorisannya, mengaggap paling maju, paling hebat dan superior. Solah tak ada yang bisa menyiinginya. Semestinya, mayoritas hadir sebagai pembuka pengetahuan, pun seharusnya mampu mejadi telaah ketidak tahuan. Bukan justru merasa paling tahu dan yang lain tidak. 

Mayoritas terus disalah maknai. Kata kawan saya, Konyol, jika kebesaran dimaknai sebuah keberhasilan dan kekuatan yang tak tertandingi. Jika begitu, Ia dibabibutakan oleh pengetahuan itu dan dianggapnya tak ada yang tahu selain dia. Padahal, tiap yang mayoritas sifatnya rentan dan rapuh dirapuhkan oleh kebesaran itu sendiri. 

Dalam ruang geraknya, mayoritas, melahirkan gesekan antara yang merasa paling tahu. Ia ancaman, membahayakan yang justru melahirkan kehancuran dan malapetaka. Kata Hegel, “Ketika suatu kelompok (nation state) sudah sampai pada puncaknya, hanya ada dua pilihan, kalau tidak stagnan, menurun.”. Baginya, mayoritas yang dibalut bermacam karakter, berefek pada terjadinya suatu kontradiktif. Terciptalah ketidak terimaan satu sama lain dalam yang mayoritas itu. Pun memaksakan setiap prinsip-prinsip dogma masing-masing untuk sama-sama diterima dan dibenarkan secara intrinsik. Muncul berbagai kelompok-kelompok yang mendeklarasikan norma-norma baru dengan misi di setiap panggung dimana mereka mau. Keduanya saling membenarkan dan terus menerus merasa kelompoknya paling benar diantara yang benar.

Geser prilaku asumtif, perlu pengetahuan luas dan keterbukaan yang dialogis dalam merawat kemayoritasan itu. Dengan begitu, semua akan menjadi halus, lembut santun. Pun  mengeleminir kasar, tak santun dan congkak. Menggali sedalam mungkin  yang dangkal, bukan justru mendangkalkan yang dangkal. Apalagi mendangkalkan yang dalam. 

Dengan kajian tashawwufnya, Al Ghazali, memaknabalikkan hal tersebut. “Semakin bayak tahu, semakin menegaskan bahwa kita tidak tahu”, kata dia. Baginya, setiap pengetahuan harus melahirkan suatu koreksi ketidaktahuan. Buka justru menjadikannya merasa paling tahu dan menyalahkan yang lain.

Merawat kemayoritasan dalam naungan kebhinekaan yang penuh dengan keberagaman memberikan fakta otentik bahwa bangsa ini kokoh kuat dalam persatuan dan kesatuan. Rawat kebhinekaan yang ada, hingga pada akhirnya mayoritas dan minoritas menjadi satu kesatuan untuk saling memperkaya dalam misi saling menguatkan dan mempertahankan. Lepas belenggu fanatik keyakinan, ganti dengan telaah histori masa lalu, bagaimana bangsa ini direbut dan dimerdekakan.

Tegal ampel, 22 November 2017

Tinggalkan komentar