
Beberapa hari yang lalu, saya menerima pesan dari kawan saya, pesan itu mengajak saya untuk mengenal lebih jauh soal struktur organisasi kemasyarakatan (ORMAS) Nahdlatul Ulama (NU).
Oleh berbagai kalangan, NU dinilai sebagai ormas yang katanya terbesar dan terbaik. Saya sebagai kader yang sampai saat ini masih was-was untuk mempercayai itu, dari pesan teman saya tadi, keyakinan saya mulai bertambah. Bagaimana tidak, kira-kira isi pesannya begini,
“Kang, Dibawah komando Pengurus Besar (tingkat Pusat), di NU ada sebanyak 33 Wilayah (tingkat Provinsi), 439 Cabang (tingkat Kabupaten/Kota),15 Cabang Istimewa (untuk kepengurusan di luar negeri), 5.450 Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan), dan 47.125 Ranting (tingkat Desa / Kelurahan). Belum lagi Lembaga, Lajnah dan Banomnya. Banyak sekali, bukan?” Jelas kawan saya.
“Saking bayanyaknya kang, total 53.062 struktur tersebut dikomando oleh tiga frame model kepemimpinan. Mustasyar sebagai Penasehat, Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi dan Tanfidziyah sebagai Pelaksana Harian.” Lanjut kawan saya.
Dari pesan tersebut, saya sebagai kader NU abangan yang berkeseharian dengannya, jelas, rincian-rincian itu memberikan kebanggaan yang sangat telak, di satu sisi. Namun di sisi yang lain ada yang membuat saya sedih, cemas, dan menyakitkan. Sebab dalam beberapa temuan saya yang mungkin sulit bisa dipertanggung jawabkan keafsahannya, puluhan ribu bahkan jutaan orang-orangnya masih saja sibuk dan ribut dengan gambar-gambar, jargon dan perang identitas hanya untuk diakui ke-NUannya. Termasuk saya.
Tepat pada 31 Januari kemaren, umurmu genap 92 tahun. Kalkulasi permenungan saya, ibarat umur manusia, sembilan puluh dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tak ubahnya sebuah dimensi zaman, harus diakui, NU adalah ormas pengagung dan pelestari nilai-nilai luhur. Banyak olesan yang dikiprahkan NU dalam melukis bangsa ini. Luar biasanya, ukiran tinta emas yang harus terabadikan, ketika para ulama NU tampil terdepan dalam merebut kemerdekaan negeri ini dari dedengkot kolonial keparat.
Tak hanya disitu, Hasil rampasan-rampasan berwujud kedaulatan itu, oleh NU senantiasa dirawat, dipupuk dan disiram melalui suplay nilai kesejukan, perdamaian, kebersamaan dan spirit nasionalisme yang semakin hari semakin kokoh. Seolah tak satupun yang mampu merasukinya. Jangankan masuk, menyentuhpun seolah tak ada yang sampai. Bukan karena tak ada yang mau merusak dengan berbagai pancingan. Tapi semangat menjaga dengan kesadaran nilai dan kesejarahanlah NU masih tetap utuh dan kometmen dengan sikap kekesatriaan. Dengannya lahirklah kebebasan beragama, kerukunan berbangsa dan kesatuan bernegara.
Kembali ke soal kekayaan (struktural kelambagaan) NU, diumurnya yang semakin hari semakin berkurang (bukan bertambah), bersamaan dengan gebyar politik yang penuh dengan kepura-puraan, pencitraan, kepalsuan-kepalsuan, dan ramainya sandiwara ini, izinkan saya sedikit menyelipkan harap;
Wahai ormas penebar dakwah, diumurmu yang sudah jelas-jelas menua, semoga dakwah tak hanya menjadi ocehan dahsyat dengan sejuta kepura-puraan yang melahirkan ancaman-ancaman antar sesama pengikutmu. Bingkailah dakwah-dakwahmu itu dengan kejelasan prilaku sebagaimana para pendirimu mewarisi nilai-nilai itu. Sebab “lisanul hal afshokhu min lisanul maqol”.
Wahai ormas pegiat pendidikan, di-hampir se-abad usiamu, semoga pendidikan tak hanya menjadi ladang penggiringan manusia yang seolah diberdayakan tanpa difikirkan mau dikemanakan manusia-manusia itu. Kembalikan misi meng-karakterkan, berikan uswah dengan tindakan dan prilaku. Jangan hanya terus-terusan berorasi ilmiyah yang berujung tegang tak menarik. Murnikan kembali kapitalisasi kelas. Kembalikan sanderaan nurani kemanusiaan.
Wahai ormas pemilik pesantren terbanyak, Pondok pesantren sebagai bagian terpenting dalam penjagaan dan pemberdayaan umat, di usiamu yang sudah sepatutnya menjadi panutan, semoga pondok pesantren tak tercerai berai oleh prilaku yang semata-mata dikemas dengan tanggung jawab diplomatis yang terdramatisir.
Wahai ormas penegak keadilan, Ditengah marak dan lumrahnya ketidakadilan, Lembaga bantuan hukum yang telah kadung kau rajut, semoga tak hanya menjadi formalitas pewarna buatan yang dengannya kesehatan hukum di bangsa ini tak lagi terus-terusan tajam kebawah dan tumpul keatas. Dengar dan terlibatlah atas seruan-seruan masyarakat dan realitas ketidak adilan serta penindasan disekitarmu.
Wahai ormas pecinta dan pelestari seni dan budaya, ditengah bombardiran global yang serba canggih dan kerobot-robotan, semoga engkau masih terus tegak dan gegap gempita melirik seni-seni dan budaya yang katanya itu semua adalah kekuatan dan kekayaan bangsa. Jangan biarkan semuanya menjadi fosil. Berhentilah sejenak beralasan, akuilah dan hidupkan budaya-budaya itu lewat adonan sistem buatanmu.
Wahai ormas penyelamat tanah, bangsa ini subur dan terlalu istimewa untuk dirangai dengan kata. Mengapa engkau jarang hadir disaat masyarakat bawah menjerit lantaran tanah-tanah mereka dirampas dan diolah diluar yang seyogyanya. Jangan biarkan beton dan besi-besi yang tumbuh di tanah-tanah mereka. Berhentilah sejenak, sapa, tanyakan nasib dan kabar tanah-tanah mereka.
Wahai ormas pengkaji dan pembangun sumberdaya manusia, sudahkah klimaks kajian dan pembangnan sumberdaya manusiamu kau anggap berhasil? Jika iya, mengapa prilaku tak berkemanusiaan masih saja berkeliaran diareamu dengan payung pernyataan-pernyataan kobong “berjuang atasmu”. Miris diri ini melihatmu terinjak-injak dijadikan jembatan dalam kesemangatan konyol materialis tak ideologis.
Wahai ormas penangulang bencana, sebagai manusia dengan kejiwaan yang sama, saat bencana melanda, saya yakin kita berkeprihatinan dan turut berduka dengan rasa yang sama. Namun, apakah kita akan terus-terusan hidup dalam kesimpatian yang tak berujung apa-apa? Kapan kita mengeluarkan ke-empatian kita? Berlarilah sejanak, ulurkan tangan kepada mereka, simpuhlah punggung mereka meski sekedar membisikinya dengan seruan “aku turut berduka cita”.
Pada akhirnya, NU sebagai ormas yang berprinsip pada permusyawaratan yang lumrah dengan duduk-duduk melingkar. Kini hanya menjadi kerumunan tanpa sinergi, pun tak kolaboratif. Implikasinya justru terus-terusan mengembang biakkan persoalan-persoalan yang kabur, meski kadang masih saja dibenar-benarkan dan seolah mengaggap tak ada apa-apa. Bak api dalam sekam.
Pertanyaannya, Apakah kita sudah merasa puas dengan kemerdekaan yang diberikan para pendahulu kita?, Atau justru kita sendirilah yang sedang menjajah kemerdekaan?
Mungkin tulisan ini akan dinilai keras jika membacanya dengan intonasi keras, namun akan menjadi lembut jika membacanya dengan intonasi lembut pula. Atau justru ditafsikan sebagai kritik pedas yang dianggap tak sopan dan melampaui batas. Tak masalah.
Yang jelas, tulisan ini saya buat atas dasar harapan nurani bathiniyah, agar lahir dan tumbuh permenungan perseorangan sebagai NU yang harus senantiasa dihidupkan secara terus menerus. Sebab, NU tak semurah prilaku-prilaku keji, keparat dan ke-kurangajar-an kita yang kerap kali hanya sibuk membangun eksistensi ke-NUan lewat tempelan simbol-simbol dan bualan-bualan diplomatis buatan.
Saatnya kita sudahi ketidak pedulian berwangi kemaslahatan, entaskan penindasan beraroma kemakmuran dan cukupkan kemelaratan berbau kesejahteraan. Bersatulah, hadirlah, dan tampakkan pesonamu.
Sebab, “Laa yamutu wa laa yahya” itu sangat lucu menyakitkan, bukan?
Wallahu a’lam bisshawab
Pejaten, 08 Februari 2018