PATRONASE

Hujan lebat, di pendopo depan rumahnya, nyai Surti dawuh kepada saya;

“Pengaruh seringkali dijadikan alat untuk merampas kemanusiaan agar ikut pada apa yang kita inginkan. Tak lain prilaku itu adalah menyandera dan merampok kedaulatan nurani personal kemanusiaan.” jelas nyai Surti sambil menyeruput kopi pahit kesukaannya.

“Maksud nyai?” Responku.

“Setiap orang punya misi mempengaruhi, ia cenderung menyatakan dirinya sebagai patron untuk dihamba dan diikuti setiap ingin dan kehendaknya.” Nyai surti bernada meninggi.

“Makin tak nyantol saya, nyai” sahutku, menunduk.

Dasar, masih saja kau tolol. Oleh manusia, pengaruh, kekuasaan, uang, bahkan pengetahuan sering dijadikan rujukan untuk dijadikan patron. Padahal secara tak sadar ia telah dilucuti kebebasan dan ditelanjangi kemanusiaannya.” Bentak nyai Surti.

“Iya juga ya, nyai” Aku menggerakkan kepala.

“Iya juga, iya juga, ndasmu itu kebesaran, Goblok..! Berpatron tak pernah mendaulatkan. Jika begitu maka selamanya kau tak akan merasakan kebebasan. Terpengaruh dan akan terus-terusan bergantung dan dikendalikan.” Nyai Surti menggebrak meja kunonya.

“Lalu, Apakah saya yang mahasiswa dan berorganisasi masuk dalam kriteria itu, nyai?” Tanyaku, sungkem.

“Pertanyaanmu yang salah, goblok. Bacalah dalam dirimu itu. Kamu yang tau jawaban itu. Apa perlu tak antemi gelas, biar kepalmu mikir?” Nyai Surti marah.

Aduh, Ampun, nyai.” Sahutku.

“Mahasiswa sepertimu yang sejatinya merawat kemerdekaan dari kebergantungan, saat ini tak lain hanya berpatron pada senior-seniornya dengan dalih karir kekuasaan, modal, dan uang. Dianggapnya semua itu adalah satu-satunya jalan meraih kesuksesan dan kemapanan. Padahal sewaktu-waktu mereka hanya dipakai untuk mengkonfensi pengaruh karir dan modal-modal yang lebih besar. Bukankah itu tak lain prilaku borjuistik yang selalu kau gaung-gaungkan di gedung mayat itu, eh maksudku gedung perwakilan rakyat?” Nyai Surti sangar.

“Kalau organisasi, nyai?” Tanyaku, ketakutan.

“Sama, organisasi juga berpatron pada organisasi diatasnya. Organisasi hanya tinggal nama. Ia kehilangan marwah dan nilai-nilainya. Misinya hanya dimaksudkan untuk terus-terusan menguasai dan saling bantai. Dengannya dikejar ketokohan dan kefiguran yang semestinya tak perlu dikejar. Implikasinya bukan berjuang untuk kesejahteraan umum, justru kesejahteraan individualistik atau kelompoklah yang dihimpun melalui topeng perjuang palsu yang tertunggangi. Paham?” Nyai Surti memanas.

“Kau kira organisasimu yang ngasih kamu rezeki? Organisasimu yang ngasi kamu makan? Otakmu itu kebalik, tolol.” Bentak nyai Surti.

Aduh, sendiko dawuh, nyai.” Responku.

“Bahkan tak cuma itu, ingat, Partai politik elektoral dan kepartaian feodalistik disekitarmu, pun berpatron pada tokoh-tokoh politik yang mereka anggap sebagai imam besar yang kalau tak ikut kata mereka (para imam) seolah keimanan pengikutnya dianggap bulsit. Padahal yang mereka lakukan tak lain hanya untuk menguatkan patron masing-masing. Oleh patronase itu semua dijadikan sebagai perajut gosip-gosip, mengada-ada yang tak ada, bahkan mementingkan yang tak penting. Bukankah prilaku itu sangat tak manusiawi? Paham?” Nyai Surti menyeruput kopi pahit kesukaannya.

Ampun nyai.” Jawabku kaget.

Ampun… ampun… pertanyaanku ‘paham?’, malah dijawab ampun. Mahasiswa kok terus-terusan goblok. Ini lagi, Asal kamu tahu, lembaga-lembaga survey itu, dibuat sebagai media untuk mempengaruhi, memungkin yang sejatinya tak mungkin dan melahirkan kalkulalsi-kalkulasi dengan persentase buatan. Lagi-lagi, jelas itu juga merupakan patron-patron kapitalistik, bukan?” Jelas nyai Surti sambil membakar kemenyan.

Enggeh, enggeh, nyai.” Jawabku.

“Oleh semuanya, jadilah relasi kekuasaan dinegeri ini tak stabil, kapanpun bisa berubah-ubah. Sekarang idealis besok bisa pragmatis, saat ini pragmatis, sehari kemudian tampak idealis. Sekarang membela ‘A’esoknya bisa membela ‘B’.”

Lalu, nyai?” Tanyaku.

“Patronase semacam itu jelas tak menguntungkan siapapun, kecuali membuat rakyat dan umat tak berdikari dan tak berdaulat. Dengannya ia dibuat bergantung sebab pengaruh sudah merasuk tak disadari. Dibuatnya bergerak tanpa tahu siapa yang menggerakkan. Fanatik pada simbol, nama, pamflet dan untaian-untaian dengan alih-alih gagasan palsu.” Terang nyai Surti sambil melonjorkan kaki.

“Kira-kira apa yang harus saya lakukan, nyai?” Tanyaku.

Aduh, begini aja, sebelum kau berbuat, baiknya sadari dulu. Ini lahan subur politik massa yang reaksioner. Mengapa? Sebab realitas tak dibangun dari kesadaran dan permenungan yang mendalam. Pun politik tidak tumbuh dari dasar yang edukatif, bukan dari perlawanan-perlawanan ketertindasan yang meninabobokan kehumanisan. Ngerti?” Tandas nyai Surti.

“Maksudnya, nyai?”

Waduh, goblok bener kamu ini…! Makanya jangan hanya sibuk mencari bangkai orang, cari bangkai didalam dirimu itu, tolol..!” Bentak nyai Surti.

Enggeh, siap. Nyai.” Jawabku menggerutu.

Siap… siap… tok ndasmu iku. Jadi mahasiswa jangan cuma pintar pasang badan dan cari muka. Lepaskan dirimu dari patronase-patronase itu. Jangan biasakan bergantung dan tergantung. Mahasiswa harus berprinsip dan bebas berekspresi. Jelas?” Nyai Surti melotot.

“Satu lagi, saya pesan. Tak mau berpolitik bukan berarti diam tak melakukan apa-apa. Hadir dan ikut sertalah membangun sekitar! Sebab terlalu banyak topeng-topeng tak berkelamin berkeliaran di sekelilingmu. Jangan habiskan waktumu berkoar-koar tak jelas. Segeralah putus mata rantai yang terus menjerujimu dalam idealisme dungu itu. Jelas?” Tutup nyai Surti.

Enggeh, jelas. Nyai.” Jawabku.

Uwaaaaay, udah, sana pulang…! Aku ngantuk mau istirahat.”

Enggeh, nyai”

Tak sempat pamit, Nyai surti masuk rumah dengan buku “Islam, Negara dan Demokrasi” karya Gusdur ditangan kanannya.

Pejaten, 13 Februari 2018

Tinggalkan komentar