DUIT DAN KEPERCAYAAN

Malam, selepas berkeliaran tak jelas, saya dan kawan saya menyempatkan mampir sowan ke dhalem Nyai Surti. Sampai di dhalemnya, kudapati Nyai Surti masih istirahat. Namanya murid, saya harus menunggu beliau bangun. Sekitar dua jam lamanya, saya dan kawan saya duduk bermenung sambil ngobrol banyak hal dipendopo kuno beratap jerami tepat depan rumah Nyai Surti.

Kawan saya yang dari dulu penasaran prihal sosok Nyai Surti, sampai malam itu ia penuh kehatian-hatian. Bicarapun ia pelan, semacam berbisik. “Soalnya yang saya tahu Nyai Surti itu kasar kan, kang.” Kata kawan saya saat saya tanya.

“Nyai Surti memang tipikal orang yang secara kasat mata kasar dan menakutkan, tak banyak yang bisa mengenalnya sedalam mungkin, kecuali orang-orang tertentu, Kang.” Kata saya.

“Ilmu beliau dalam dan luas, Kitab-kitab klasik seperti Riyadhoh, Bidayah, Al hikam, Taklimul muta’allim mampu beliau sulap menjadi elaborasi kekinian yang melahirkan kajian menarik dan sangat substansial bin ajaib.” Tambahku.

Wah, kok bisa, kang?” Kawan saya penasaran.

Ya bisa lah kang, yang tak bisa kan kita-kita yang goblok ini.” Jawabku ngakak.

Kawan saya pun ikut ngakak. Hwakakakak. Pertengahan ngakak, pintu Nyai Surti berbunyi, kita lupa kalau beliau lagi istirahat.

Cekrek… Ngapain kok rame-rame disini,? Dasar santri tak beradab!” Nyai Surti membuka pintu sembari sangar menyapa.

Saya kaget, lalu bergegas salaman ke beliau.

Aduh, maaf Nyai. Kita habis keliling-keliling, terus mampir kesini.” Jawabku takdzim.

“Masuk” Ajak Nyai Surti.

“Siap, Nyai.” Jawabku.

Saat di ruang tamu Nyai Surti yang berarsitektur ukiran kuno berselimut bau pekat kemenyan, kudapati kawanku tolah toleh kebingungan.

Aku pun memulai perbincangan.

Cabis ndhalem, Nyai. Jika mau jadi pemimpin bagsa ini, mengapa harus banyak duit Nyai?” Tanyaku.

“Apa? Banyak duit? Duit mbahmu. Dasar ngawur.” Nyai Surti spontan.

Ampun, Nyai. itu saya dengar langsung dari para Tuan-tuan di negeri ini, Nyai.” Responku nakal.

“Tuan siapa? Yang mana? Yang suka pencitraan itu? yang sok manis ditengah kepahitan rakyat itu? Yang berkuasa dengan melemahkan rakyat itu? Yang hanya pinter nyerocos di kaca-kaca tivi itu?” Nyai Surti menjadi.

“Tapi mereka kan pemimpin-pemimpin masa depan kita, Nyai. Yang menampung aspirasi, memberi bantuan, membuat visi-misi dan lain-lain.” Jawabku.

Ndasmu kacau. Visi-misi yang mana? Yang mana? Yang mana?” Nyai surti melotot sangar.

Ampun, nyai.” Aku takdzim.

“Visi-misi yang keluar dari bualan pemimpinnya uang yang kamu maksud tadi, itu? Hah? Iya? Dasar guoblok.” Nyai surti semakin meninggi.

Ampun, Nyai. Saya semakin tak paham.” Jawabku.

“Sebelum kau bicara soal pemimpin, pelajari dulu Ledership (kepemimpinan). Begini, Leadership itu ketauladanan, prilaku dan tindakan. Bukan sekedar mereka yang muncul mendadak ingin jadi pemimpin lalu memunculkan gaya-gaya dan akting yang meracuni rakyat itu. ” Bentak Nyai Surti.

“Maksudnya, Nyai?” Responku.

“Begini, Soal rekrutment kepemimpinan yang wujudnya adalah demokrasi, saat ini lemah dan kering. Sebab pendidikan politik membuat partai politik cenderung melakukan langkah-langkah cepat, cenderung bergantung, tak punya eksistensi, dan pinjam nama.” Jelas Nyai surti sembari menyeruput jamu pahit kesukaannya.

“Belum lagi melambungnya kost perpolitikan, prilaku pungli, mahar politik, jual beli jabatan dan semacamnya. Artinya, demokrasi semenjak dua puluh tahunan lamanya, hanyalah semacam investasi dengan berbagai transaksi, deal-deal dan jaminan-jaminan. Ngerti?” Bentak Nyai Surti.

“Mengapa demikian, Nyai?” Tanyaku.

“Kepercayaan kering dan hilang. Sulit ditemui tauladan-tauladan pemimpin negeri ini. Leadership hanya dihabiskan di panggung-panggung formal. Leadership hanya ditampakkan dengan style-style layaknya manggung dan kondangan. Leadership hanya tinggal bualan-bualan janji gratis di sepanjang jalanan.” Nyai Surti menunduk.

“Padahal kepercayaan merupakan satu-satunya nilai yang sulit digoyah dan digombalin. Ia didasari prinsip kometmen yang kuat. Stephen Covey Jr dalam buku The Speed of Trust menyebutkan, kepercayaan itu di tingkat personal, di tingkat organisasi, di tingkat pasar, dan di tingkat masyarakat.” Lanjut Nyai Surti.

“Maka dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara, kepercayaan tersebut kemudian berwujud pada kepercayaan pada figur-figur utama pemimpin negeri, tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama; kepercayaan kepada lembaga pemerintah dan negara; kepercayaan pasar yang berpengaruh pada iklim investasi dan ekonomi; serta kepercayaan pada sistem dan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Dari sekian yang saya sebut barusan, kepercayaan itu timpang dan ngambang. Kadang tinggi dan kadang rendah.” Nyai Surti cemas.

“Lalu Bagaimana tingkat kepercayaan bisa terbentuk menjadi tinggi atau rendah, Nyai? Tanyaku

“Tentu kondisi itu bukan tak bersebab. Pada intinya, tingkat kepercayaan yang tinggi menghadirkan rasa yakin dan nyaman atas niat dan tindakan orang lain. Begitupun sebaliknya, saat tingkat kepercayaan rendah, maka yang lahir adalah rasa curiga atas niat, tindakan, integritas, dan kepentingan orang lain tersebut. Nah, menariknya, praktik kehidupan berbangsa saat ini membawa banyak konsekuensi yang mempertebal ketidakpercayaan antara satu sama lain, utamanya pada penyelenggara negara.” Nyai Surti semakin mendalam.

“Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada para figur dan tuan-tuan itu. Sebab mereka terlalu asik dalam lingkaran sandiwara kekuasaan, terlalu sibuk mengkokohkan diri dengan frame keoligarkiannya.” Nyai Surti melanjutkan.

“Barangkali prosedur dan perundang-undangan rekruitment kepemimpinan negeri ini sudah jelas dan lengkap, namun lagi-lagi keringnya kepercayaan masyarakat, hadirnya calon-calon prematur yang krisis eksistensi, serta meluasnya paradigma keduit-duitan itu jelas telah menumpulkan demokrasi dan hukum. Hukum tak lagi dipandang sebagai penegakan keadilan, tapi dirasa parsial, tinggal pasal-pasal dan dibikin seenaknya. Yang penting sesuai dengan maksud pihak-pihak yang berkepentingan. Maka, tak usah heran jika seorang nenek yang mengunduh tiga kakao atau mengambil kayu dipenjara tahunan, sementara mantan narapidana korupsi masih bisa mencalonkan diri menjadi pemimpin negeri. Konyol, bukan?” Nyai Surti meratap bengong.

“Masyarakat hanya diharapkan bahkan dituntut untuk percaya kepada semua perangkat negara tanpa ada upaya yang jelas untuk meraih kepercayaannya. Bisa kita bayangkan betapa besar biaya materiil ataupun imateriil akibat tingkat kepercayaan yang rendah ditengah-tengah masyarakat. Dan persoalan ini tidak pernah ditanggapi dengan serius. Tidak ada upaya untuk menilai dampaknya dan lalu menyusun langkah komprehensif untuk mengatasi keroposnya kepercayaan yang terus menerus ini. Baru kalau yang berkaitan dengan iklim investasi dan industri, berbondong-bondonglah mereka para tuan-tuan dalam memutilasi norma hukum dan menjilat penuh rakus.” Nyai surti ngelus dada.

“Lalu, Nyai?”

Lalu,.. lalu,.. mbahmu! Sana, pulang! Pimpin dulu dirimu sendiri. Sebab pemimpinmu ya dirimu sendiri, bukan yang lain. Paham? Sampai kapan kau pelihara tololmu itu? Banyaklah belajar soal leadership dari sosok Gus Dur. Beliau menjadi pemimpin bangsa ini tanpa tim sukses dan tanpa duit serupiahpun. Sebesar Indonesia, Bekal Gusdur, satu. Kepercayaan masyarakat. (Wawancara; Kick Andi) Ngerti?” Nyai Surti berdiri siap-siap meninggalkan tempat.

“Siap, Nyai.” Aku salaman dan pamit pulang.

Aku pulang, jarum jam menunjukkan pukul 01.00 WIB. Jalanan gelap pekat, aspal berlubang dengan genangan air keruh memprihatinkan.

Pejaten, 20 Maret 2018

Tinggalkan komentar