YANG TAK PERLU DIBELA

Gus Dur merupakan salah satu tokoh yang tak pernah usai untuk kita serap setiap lontaran-lontaran pengetahuan dan prilakunya. Sikapnya yang tenang, bijaksana dan penuh dengan pengetahuan, membuatnya (Gus Dur) tak pernah prihatin dan reaksioner dengan berbagai macam persoalan yang ada. Sosok Gus Dur hanya akan prihatin, marah dan lantang bereaksi jika asas-asas dan pilar kebangsaan diotak-atik apalagi ingin dirubah.

Bagi Gus Dur falsafah negara sudah tuntas dan final. Tak perlu diperdebatkan, apalagi dirobek, dihapus kemudian diganti dengan model falsafah baru. Memang, berbagai macam persoalan bakal selalu ada, namun spirit untuk terus mempelajari asas nilai kebangsaan dan keagamaan harus selalu diupayakan dan senantiasa didewasakan secara terus menerus.

Sikap Gus Dur terbukti jelas saat dirinya menjabat sebagai presiden, misal. Kebijaksanaan, prinsip, kometmen dan keberaniannya muncul dan hadir dalam setiap kesempatan yang cenderung dianggap tak tepat dan konyol oleh kebanyakan. Sikap kekesatriaannya tak pudar meski hantaman dan posisinyapun berada pada keterhimpitan yang menegangkan. Ia tak pernah sepakat berkompromi selama ada pelanggaran yang menciderai konstitusi negara. Padahal ketika ditelaah secara mendalam, setiap yang terlontar dari Gus Dur tak pernah ada habisnya untuk terus digali dan dipakai untuk menyikapi berbagai realitas keindonesiaan kala itu, kini dan yang akan datang.

Sejenak kita kembali pada 23 Juli 2001, dimana seorang Gus Dur menghebohkan negeri ini bahkan dunia. Ia ditetapkan lengser secara politis oleh sidang istimewa MPR kala itu. Apakah Gus Dur melakukan pembelaan kala itu meski sampai saat ini Gus Dur tak terbukti bersalah? Jelas tidak. Justru, tanpa meminta dan menghimbau, ribuan bahkan jutaan orang memadati istana negara bertanda tangan dan meminta Gus Dur untuk tidak berhenti menjadi pimpinan negara. Itu terjadi tanpa diminta dan dipolitisasi oleh Gus Dur.

Padahal, ditengah kegentingan mempertahankan jabatan kala itu, Jelas pembelaan tersebut merupakan sebuah keuntungan besar bagi Gus Dur. Sebab mayoritas dan kebanyakan umat islam membela tanpa diminta dan tanpa dikondisikan. Namun gusdur justru meminta jutaan masa yang memadati istana untuk segera balik ke tempat (rumah) masing-masing. Gus Dur rela berhenti dari tampuk kepemimpinan tertinggi negara, dan Gus Dur pun lengser. Baginya apalah arti mempertahankan jabatan jika bangsa ini pecah belah dalam pertempuran dan betumpah darah. Bagi Gus Dur, persatuan dan kesatuan Indonesia menjadi prioritas utama dan harus diutamakan. “Di dunia ini, tak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian.” (Gus Dur)

Tak sebagaimana gaya dan prilaku Gus Dur, tibalah saat dimana bermunculan berbagai kelompok, aliansi, front, dan semacamnya, yang menganggap mampu mempersatukan umat dengan status sosial atas dasar agama. Tumpukan masa atas dasar seruan-seruan moral itu dianggapnya suatu keberhasilan dan dipercayai sebagai potret kemajuan keberagamaan. Padahal banyak diantara mereka yang berada ditengah-tengah kerumunan itu tak lain hanya ikut-ikutan saja. Kata kawan saya. Artinya bukan lahir dari panggilan moral personal, tapi dipengaruhi oleh tingginya pengaruh status sosial belaka.

Uniknya, oleh mereka (kelompok tersebut), setiap persoalan selalu ditangkap sebagai suatu kepanikan dan selalu digenting-gentingkan. Padahal, banyak sekali dibalik layar sikap dan tindakan merekalah, Kebhinekaan yang jelas merupakan sunnaatullah dan keniscayaan, selalu saja dibikin alat untuk dimanfaatkan sebagai keperluan yang materialis dan kapitalis (keuang-uangan, nominal dan angka)

Prilakunya selalu ingin menerka persoalan dengan cara kolektif. Islam yang secara jelas dan tegas mengajarkan tabayyun-dialogis kini dibalikkan menjadi seruan-seruan atas nama agama dan dikumandangkan pada khalayak umum untuk menciptakan suatu pembelaan yang harus dengan masa sebanyak mungkin. Tumpukan massa itu kemudian diklaim menjadi suatu kekuatan atas dasar agama islam, padahal klaim tersebut sama sekali tak representatif dengan kalkulasi masa ummat islam secara keseluruhan. Jelas kurang masuk akal.

Agama islam hadir di Indonesia sebagai suatu bentuk wujud pengejawantahan ajaran untuk menjaga kelangsungan hidup bersama, menebar rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), memberikan kenyamanan dan menyamankan. Bukan justru, islam dipakai sebagai pembelaan dan pengutukan terhadap tindakan-tindakan yang salah. Islam memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan yang salah, namun bukan lantas dengan spontan melantangkan ujaran-ujaran yang cenderung diskriminatif dan menyalah-nyalahkan.

Islam juga menganjurkan sikap tegas terhadap terjadinya berbagai realitas hidup. Islam menyeru untuk menjaga idealisme, menyatakan yang haq meski pahit sekalipun. (Qulil haqqa wa law kaana murran). Namun tegas bukan berarti mengeluarkan seluruh otot dan melantangkan seruan-seruan menghujat, menyalahkan dan mengutuk. Sebab berhati-hati dan menjaga untuk tidak menyakiti perasaan orang lain adalah prilaku yang harus selalu beriringan dengan sikap tegas itu. Kata kawan saya.

Artinya, bukan berarti tegas jika dalam menyikapi realitas justru melahirkan suatu ancaman dan tak menyamankan sekitar. Tegas berarti suatu upaya mengambil tindakan sebagai bentuk saling mengingatkan antara satu dengan yang lain guna terciptanya kenyamanan dan kesadaran bersama. Tentunya prilaku tegas harus tetap dengan norma dan nilai-nilai keislaman yang semestinya. Yakni memberikan kenyaman terhadap sekian penghuni alam-Nya. Sebab hakikat agama adalah nasihat. “Addinu nashihah.

Bangsa ini terlalu besar dibanding hanya sibuk fokus ngurusi persoalan cadar dan adzan yang hanya menjadi debat kusir dan tak kunjung tuntas. Demikian mestinya terselesaikan secara dialektis dan melakukan perjumpaan. Bukan justru saling sibuk nuding dan menyalah-nyalahkan. Pun, jika media dianggap sebagai salah suatu faktor penjajahan dan penyebab mudah tersebarnya fitnah-finah yang cenderung memecah belah, Maka sikap sigap dan tegas untuk memprioritaskan tabayyun dan dialogis harusnya lebih utama untuk diprioritaskan dan dikedepankan. Apalah arti kesadaran terhadap adanya kolonialis jika sikap dan prilaku kita masih mampu dipengaruhi dan mudah dibawa oleh prilaku kolonialis itu. Bukankah itu prilaku konyol memprihatinkan, bukan?

Pada akhrinya, kesadaran akan pentingnya pengetahuan nilai-nilai keagamaan harus selalu tersemai sedini mungkin. Keberlangsungan hidup hanyalah sebatas kompetisi dan upaya semaksimal mungkin untuk menjadi semakin dekat pada-Nya, tanpa harus sok angkuh dan sombong untuk membela agama. Apa dengan cara membela agama kemudian dinganggap tuntas meraih cinta-Nya? Konyol.

Ingat, Tuhan tak dapat diraih hanya karena pembelaanmu terhadap Agama yang kau klaim sebagai pembelaan agama Tuhan. Tanpa dibelapun ia bakalan tetap menjadibTuhan. Sebab Ia maha segalanya. Pun Ia (Tuhan) tak dapat diraih hanya dengan sekedar pelurusanmu terhadap masalah cadar dan adzan yang semestinya tak begitu penting untuk dipersoalkan itu. Akan skriptualis cara beragama kita, jika kita masih over fanatik terhadap simbol-simbol, atribut-atribut dan slogan. Ia (Tuhan) hadir dalam wujud prilakumu terhadap mereka yang tertindas, terinjak-injak, terdiskriminasi, dan diberlakukan tak adil.

Sebab, “Tuhan tak perlu dibela, bela lah mereka yang diperlakukan tidak adil.” Ujar Gus Dur.

RSU dr. H. Koesnadi, 06 April 2018

Tinggalkan komentar