FITRI

Bagi yang beragama islam ‘Aidul Fitri merupakan hari besar yang diperingati, dirayakan, dan disemarakkan. Namun pada realitanya, tak jarang perayaan hari besar sering bertolak belakang dengan nilai agama itu sendiri.

Kebertolakbelakangan tersebut seringkali luput dikoreksi lantaran manusia terlalu sibuk mengkemasnya dengan model-model tradisi pragmatis, terjerumus dalam sorot feodalistik, dan terbius oleh wabah kapitalistik.

Realitas kaum beragama selalu dipotret oleh mata kamera yang kerap kali menyajikan penampakan-penampakan mode sorot yang menggila. Pun keluhuran nilai dibantai oleh pusaran kapitalis yang memanfaatkan kelengahan-kekengahan mereka yang beragama.

Value Fitri yang semestinya termaknafahamkan sebagai ruang baru untuk mengubah pemikiran, gagasan, pandangan, dan perspektif yang tadinya dipenuhi rasa benci, curiga, dan antipati menjadi rasa cinta, percaya, dan empati terhadap semua ciptaan, sepertinya tertukar menjadi sebuah perayaan yang menakutkan dengan balutan material. Paradigma diseret dengan daya tarik yang sekedar berimplikasi pada nilai guna (skriptualis), bukan nilai manfaat (substantif).

Maka ketika tradisi bertentangan dengan filosifi yang sejatinya berimplikasi pada nilai kebaikan, kasih sayang, dan kemanusiaan, maka tradisi tak lain hanya sebatas perayaan-perayaan yang konyol, kering dan palsu. Yang tak lain sekedar formalitas yang instan dan mati bagai batu dan berhala-berhala.

Sebagai yang beragama, khususnya bagi umat Islam, di sinilah spirit ‘Aidul Fitri menjadi sangat penting untuk disubstansialkan maknanya. Bagi pemeluk keimanan, perjalanan hidup yang tiada henti, harusnya menjadi permenungan diri secara mendalam. Perlu menyadari betapa kacaunya hidup tanpa kesadaran nilai kemanusiaan. Tanpa sikap untuk saling menghargai dan menjaga, saling memaafkan dan memaslahatkan, saling mengasihi dan menyatukan. Pun menjelaskan sejatinya bahagia adalah keseriusan yang tulus memberi kenyamanan pada orang lain, bukan diri sendiri. Sebab keterlambatan dan kesalahan pemetikan nilai tak sekedar bisa ditebus dengan penyesalan dan khayalan-kayalan kosong. Ia sekedar bisa diupayakan dengan menghidupkan berbagi, merutinkan perjumpaan-perjumpaan yang dialogis, melapangkan sikap saling merangkul, serta menjunjung nilai kemanusiaan. Sebab, waktu tak pernah kembalikan pada tiap prihal yang telah disantapnya.

Teks suci jelas menegaskan bahwa Fitri tak terletak pada simbol-simbol yang memberhalakan (Al-Asr: 1-3). Ia (fitri) adalah upaya serius untuk memantapkan prinsip diri dalam memupuk nilai kebaikan (kemanusiaan), jujur, dan sabar. Tak ada kefitrian sejati selain menempatkan ruh kemanusiaan di urutan teratas. Sebabnya, fitri merupakan penerimaan tulus yang luhur, menyamankan, dan merangkul setiap ciptaan tanpa pilah pilih.

Barangkali tradisi perayaannya mempertontonkan kecemasan antara penderitaan dan harapan. Mengupayakan sedini mungkin kemasan-kemasan perayaan itu. Pertanyaannya, iyakah penyambutan prihal menyucikan diri bakal dibelenggu oleh harapan dan ratapan yang materialistis dan sama sekali tak substansial? Entahlah.

Jika maaf adalah jembatan perantara dalam upaya membersihkan diri (Fitri). Maka maaf adalah kata magis yang harusnya termakai sebagai yang bisa meluluhlantahkan ego dan superioritas. Menerima selapang-lapangnya tanpa pamrih dan mengeleminir kepalsuan-kepalsuan sikap.

Pada akhirnya, ‘Aidul fitri tak lain sekedar upaya pemantapan diri dalam memantaskan nilai kemanusiaan yang harus terus diposisikan dalam setiap aktivitas hidup dengan kebersamaan, ketenangan, dan keceriaan. Sebab apalah arti fitri jika kelapangan dan penerimaan terus dipenjara dan dicabik oleh kecurigaan-kecurigaan yang menyamar dan angkuh secara mantap.

Pun para pemeliharaan serta pembiaran atas rasa angkuh itulah tak lain hanyalah pendusta agama yang menyamar sebagai pengkemas agama yang sekedar dirayakan. Maka jangan telanjangi nilai kefitrian dengan sekedar bermegah-megahan dan sikap superioritas yang angkuh tadi. Sebab prilaku itu tak tak lain hanya sekedar menelanjangi luhurnya nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan, bukan?

Maskuning Kulon, 15 Juni 2018

Tinggalkan komentar