KEBENCIAN AKAN TUMBANG, KOMEDI AKAN MENANG

Barangkali menjadi suatu yang langka dan aneh jika seorang dengan agama katolik berprofesi sebagai kuli di toko hijab. Lebih mengagetkan kadang, jika seorang non muslim menggunakan kalimat-kalimat dengan bahasa arab, misal. Semacam Alhamdulillah, Subhanallah, Assalamualaikum, dll. Tindakan tersebut kadang mengundang sensitifitas spontan dengan kesimpulan negatif yang asumtif. Implikasinya tidak selesai pada mindset dan sudut pandang saja, tapi berakibat pada prilaku dalam situasi-kondisi sosial.

Mengapa itu terjadi? Sebab, agama yang seharusnya termaknai seluas mungkin, seringkali dangkal tafsir. Agama terpotret dari satu sisi dan kaku. Agama hanya dijadikan simbol-simbol, status sosial, pembanding keselamatan dan ketidakselamatan, penghakim salah-benar, bahkan penentu surga neraka. Akibatnya, si pemeluk gampang sensitif dan marah.

Era berjalan sedemikian rupa, agama pun terus berjalan sebagaimana mestinya. Marah dan sensitif masih saja berkeliaran tak terpisahkan dari realitas. Sulaman kebersatuan dalam rasa kemanusiaan terus diuji dengan persoalan diskriminasi dan kekerasan yang bermula dari hate speech, perang dingin berebut menang, dan lain-lain. Lagi-lagi hal tersebut berakibat pada krisisnya rasa kemanusiaan dan minimnya kontrol personal. Implikasi dasarnya manusia cepat sekali marah dan terus-terusan saling menyakiti. Kontrol tak lagi ampuh, sebab mental kepribadian perlahan kering keronta dan hilang.

Agama yang semestinya menjadi pemantap berkemanusiaan secara utuh, sering kali dijadikan sebagai kompetisi untuk saling mempromosikan kepentingan masing-masing. Kompetisi gagasan sudah tak begitu laku dan dianggap kurang efektif. Kepentingan membuat serba kontradiktif. Nafsu kebinatangan menyerabuti akar-akar kemanusiaan.

Belum lagi era dimana realitas serba digital, memaksa setiap aktifitas seolah olah dapat terselesaikan melalui kaca android. Minim sekali perjumpaan dan tiap ekspresi tak tertangkap penuh. Perjumpaan serba datar. Semua serba terbatas, tak dialogis, dan kekeringan rasa emosional.

Secara historis, sejatinya kemarahan dan sensitifitas atas dasar faktor agama bukan hal yang baru, Sepanjang perjalanan dakwahnya, Muhammad pun mengalami dan merasakan kekerasan atas dasar agama. Namun, apakah Muhammad pernah melawan, mencaci, atau bahkan memerangi? Tidak. Sama sekali tidak. Justru Muhammad membalas dengan kebaikan, bukan? Jelas, Muhammad telah menampakkan potret agama (islam) sebagai agama yang santun, luwes dan tak mudah reaktif kepada apapaun dan siapapun.

Lebih gawat lagi, masuknya doktrin sejarah peperangan dengan tangkapan menang-kalah yang terekam di otak terus-menerus dalam keadaan tak sadar. Pikiran terperangkap oleh mayoritas-minoritas, penindas-tertindas dan semacamnya. Lagi-lagi benih sensitifitas terus dibarkan tumbuh berkembang.

Pertanyaan menarik, mengapa tidak sejarah komedi saja yang coba diupayakan? Padahal komedi menawarkan pencerahan. Dan komedilah penawar satu-satunya sensitifitas itu. Sehingga komedi bagi Kiai Sutara adalah simbol kebesaran bangsa. “Bangsa yang besar ialah yang bisa menghargai jasa para pelawaknya” ujar Kiai Sutara.

Sigmund Freud melihat komedi dalam “Jokes and Their Relation on the Unconcious” mirip mimpi. Komedi membuka peluang sangat luas munculnya ide-ide terlarang sebagaimana mimpi. Seperti juga mimpi, komedi dapat membebaskan daya dan ketegangan melakukan rileksasi diri. Pun wajah tersamar dari sebentuk strategi perlawanan, resistensi pada realitas yang tak terbantah, dan pembangkangan terhadap hegemoni agama dan kekuasaan. Tapi, komedi pun kesadaran untuk mengoreksi ketidak-konsistenan dan ketaklaziman dalam logika.

“Asyiknya komedi mampu menerima kenyataan dan menertawakannya” Ujar Romo In Nugroho. Komedi selalu memposisikan diri diluar realitas, menyajikan kontradiksi diluar sadar. Dan nyatanya ruang-ruang itulah yang semestinya menjadi satu-satunya penyurut sensitifitas dan ketegangan. Maka komedi menyelinap diluar kekakuan dan menghadirkan mata realitas yang lebih luas.

“Sayangnya kita tak punya hati selapang dan setenang Gus Dur. Komedian dan pemaaf sudah mulai langka. Langit yang seharusnya tinggi ditindih oleh angit-langit perseorangan yang rendah. Maka ralitas pun sempit.” Ujar Kalis Mardiasih (Seorang Penulis).

Kita sadari, kini era hadir tak sama dengan yang telah dilalui. Pun masa depan tak mampu diterka. Namun, apa salahnya jika terus berupaya belajar, mengkaji, menggali, kemudian menamakan nilai agama secara universal, lalu berkomedi.

Perbedaan itu nyata, ada dan kodrat. Kedangkalan soal adanya perbedaan harus segara disudahi. Hiduplah lebih imajinatif. Sebab keluasan dan ketinggian perlu diimajinasikan. Ayat tak sekedar sebagai penyimpul benar dan salah. Pun tidak untuk alat menyalah-nyalahkan. Hakikat ayat mengajak tafakkur berkemanusiaan bukan pengkakim kebenaran, membuka pikiran seluas-luasnya, bukan sekedar sebagai dogma. “La’allakum Tatafakkarun, La’allakum ta’qilun.”

Jadilah setinggi dan seluas mungkin, biar siapapun bisa masuk, dan apapun bisa diterima. Sebab, “Semakin tinggi ilmu seseorang, maka semakin besar rasa toleransinya” Gus Dur. ”

Gitu aja kok repot…!

Padepokan Nyai Surti, 21 Agustus 2018

FITRI

Bagi yang beragama islam ‘Aidul Fitri merupakan hari besar yang diperingati, dirayakan, dan disemarakkan. Namun pada realitanya, tak jarang perayaan hari besar sering bertolak belakang dengan nilai agama itu sendiri.

Kebertolakbelakangan tersebut seringkali luput dikoreksi lantaran manusia terlalu sibuk mengkemasnya dengan model-model tradisi pragmatis, terjerumus dalam sorot feodalistik, dan terbius oleh wabah kapitalistik.

Realitas kaum beragama selalu dipotret oleh mata kamera yang kerap kali menyajikan penampakan-penampakan mode sorot yang menggila. Pun keluhuran nilai dibantai oleh pusaran kapitalis yang memanfaatkan kelengahan-kekengahan mereka yang beragama.

Value Fitri yang semestinya termaknafahamkan sebagai ruang baru untuk mengubah pemikiran, gagasan, pandangan, dan perspektif yang tadinya dipenuhi rasa benci, curiga, dan antipati menjadi rasa cinta, percaya, dan empati terhadap semua ciptaan, sepertinya tertukar menjadi sebuah perayaan yang menakutkan dengan balutan material. Paradigma diseret dengan daya tarik yang sekedar berimplikasi pada nilai guna (skriptualis), bukan nilai manfaat (substantif).

Maka ketika tradisi bertentangan dengan filosifi yang sejatinya berimplikasi pada nilai kebaikan, kasih sayang, dan kemanusiaan, maka tradisi tak lain hanya sebatas perayaan-perayaan yang konyol, kering dan palsu. Yang tak lain sekedar formalitas yang instan dan mati bagai batu dan berhala-berhala.

Sebagai yang beragama, khususnya bagi umat Islam, di sinilah spirit ‘Aidul Fitri menjadi sangat penting untuk disubstansialkan maknanya. Bagi pemeluk keimanan, perjalanan hidup yang tiada henti, harusnya menjadi permenungan diri secara mendalam. Perlu menyadari betapa kacaunya hidup tanpa kesadaran nilai kemanusiaan. Tanpa sikap untuk saling menghargai dan menjaga, saling memaafkan dan memaslahatkan, saling mengasihi dan menyatukan. Pun menjelaskan sejatinya bahagia adalah keseriusan yang tulus memberi kenyamanan pada orang lain, bukan diri sendiri. Sebab keterlambatan dan kesalahan pemetikan nilai tak sekedar bisa ditebus dengan penyesalan dan khayalan-kayalan kosong. Ia sekedar bisa diupayakan dengan menghidupkan berbagi, merutinkan perjumpaan-perjumpaan yang dialogis, melapangkan sikap saling merangkul, serta menjunjung nilai kemanusiaan. Sebab, waktu tak pernah kembalikan pada tiap prihal yang telah disantapnya.

Teks suci jelas menegaskan bahwa Fitri tak terletak pada simbol-simbol yang memberhalakan (Al-Asr: 1-3). Ia (fitri) adalah upaya serius untuk memantapkan prinsip diri dalam memupuk nilai kebaikan (kemanusiaan), jujur, dan sabar. Tak ada kefitrian sejati selain menempatkan ruh kemanusiaan di urutan teratas. Sebabnya, fitri merupakan penerimaan tulus yang luhur, menyamankan, dan merangkul setiap ciptaan tanpa pilah pilih.

Barangkali tradisi perayaannya mempertontonkan kecemasan antara penderitaan dan harapan. Mengupayakan sedini mungkin kemasan-kemasan perayaan itu. Pertanyaannya, iyakah penyambutan prihal menyucikan diri bakal dibelenggu oleh harapan dan ratapan yang materialistis dan sama sekali tak substansial? Entahlah.

Jika maaf adalah jembatan perantara dalam upaya membersihkan diri (Fitri). Maka maaf adalah kata magis yang harusnya termakai sebagai yang bisa meluluhlantahkan ego dan superioritas. Menerima selapang-lapangnya tanpa pamrih dan mengeleminir kepalsuan-kepalsuan sikap.

Pada akhirnya, ‘Aidul fitri tak lain sekedar upaya pemantapan diri dalam memantaskan nilai kemanusiaan yang harus terus diposisikan dalam setiap aktivitas hidup dengan kebersamaan, ketenangan, dan keceriaan. Sebab apalah arti fitri jika kelapangan dan penerimaan terus dipenjara dan dicabik oleh kecurigaan-kecurigaan yang menyamar dan angkuh secara mantap.

Pun para pemeliharaan serta pembiaran atas rasa angkuh itulah tak lain hanyalah pendusta agama yang menyamar sebagai pengkemas agama yang sekedar dirayakan. Maka jangan telanjangi nilai kefitrian dengan sekedar bermegah-megahan dan sikap superioritas yang angkuh tadi. Sebab prilaku itu tak tak lain hanya sekedar menelanjangi luhurnya nilai-nilai agama dan nilai-nilai kemanusiaan, bukan?

Maskuning Kulon, 15 Juni 2018

SALAH

Tak salah, Jurgen Klopp merekrut Salah dari As Roma ke Liverpool. Sebab sebelum di As Roma, Salah memang selalu tampil dengan performa apik saat di Fiorentina dan Chelsea. Justru dipinjamkannya Salah oleh Chelsea ke Fiorentina adalah merupakan keputusan yang salah. As Roma pun demikian. Klub ibu kota Italia itu kurang cermat dan salah.

Bersama Liverpool, meskipun Salah sering membuat kesalahan, tapi penampilan Salah memukau. Salah terbukti menjadi salah satu pemain tersubur dan mencetak prestasi sebagai top skore EPL tahun ini. Tak hanya itu, striker internasional Mesir ini kian menyapu berbagai deretan rekor. Termasuk juga rekor gol terbanyak Ian Rush dalam satu musim bersama Liverpool.

Pemain bernama lengkap Mohamed Salah ini memecahkan rekor Liverpool yang bertahan selama lebih dari tiga dekade, dengan aksi briliannya saat melawan AS Roma. Penampilan sensasional Salah berlanjut saat the Reds bertemu wakil Serie A Italia tersebut di Anfield pada leg pertama semi-final Liga Champions dengan mencetak dua gol dan menghantarkan Liverpool ke puncak final.

Di final, tidak boleh tidak Salah harus berhadapan dengan raksasa spanyol, Real Madrid. Suatu keberuntungan dan kesempatan besar bagi Salah saat tampil di laga final bergengsi (UCL) tahun ini. Tampil luar biasa gemilang di sepanjang musim ini, justru takdir tak berpihak ke Salah. Salah tak punya banyak kesempatan unjuk kemampuan di final Liga Champions. Salah melakukan hal yang salah meskipun insiden itu bukan murni kesalahan Salah dan masih kontoversial. Salah cedera di babak pertama. Hanya 31 menit, Salah di rumput hijau. Salah sedang berduel berebut bola dengan Ramos, kapten Real Madrid. Sayangnya saat mereka berdua terjatuh, keduanya jatuh dalam posisi yang salah. Malang buat Salah, tangan Salah saat itu terjepit dan terlihat tertiban tubuh besar Ramos.

Akibatnya, Salah diduga mengalami dislokasi bahu kiri. Ditengan lapangan, air mata Salah tak sanggup dibendung dan Salah pun harus menyaksikan pertandingan di ruang ganti.

Insiden tersebut menarik perhatian berbagai pemain senior. Tak mau ketinggalan, dua mantan pemain tim nasional Inggris, Frank Lampard dan Rio Ferdinand. Rio Ferdinand dan Frank Lampard justru tidak berada di posisi Salah.

Ramos melakukan apa yang seorang bek harusnya lakukan. Hasilnya saja yang kurang beruntung dan kebetulan saja Salah jatuh di posisi yang salah. Kata Lampar yang merupakan legenda Chelsea tersebut. (Dilansir BolaSport.com dari Daily Mail)

Mantan bek Manchester United, Rio Ferdinand, juga memiliki pendapat serupa mengenai cideranya Salah. Bagi Ferdinand, bertahannya Ramos tidak salah dan ia tak bermaksud untuk menyalahi Salah. Sekali lagi, hanya saja Salah saja yang jatuhnya salah.

Tak sekedar itu, keluarnya Salah dari kesebelasan berbuah kesalahan-kesalahan baru dikubu Liverpool. Kali ini si penjaga gawang Liverpool, Loris Karius. Karius menjadi sorotan berkat dua kesalahan fatalnya.

Kesalahan pertama kiper asal jerman tersebut terjadi pada menit ke-51 saat umpan lemparannya blunder dan dipotong Karim Benzema. Kemudian, blunder kedua Karius terjadi pada menit ke-83 atau gol ketiga Real Madrid. Karius gagal menangkap dengan sempurna tendangan keras Gareth Bale dari luar kotak penalti.

Seusai laga, Karius mengakui ia membuat kesalahan besar dan meminta maaf kepada seluruh elemen klub yang dibintangi Salah tersebut.

Meski mendapat banyak dukungan dari seluruh rekannya, Karius mengaku masih sangat terpukul dengan kesalahan yang telah dilakukannya. Dan menyadari penampilannya jelek dan dua kali melakukan salah.

Akibat keluarnya Salah di babak pertama dan blunder Karius yang salah, Liverpool harus bertekuk lutut dan menerima kenyataan pahit. Liverpool kalah dengan skor 3-1 dan harus mengakui keperkasaan Real Madrid.

Semoga saja diskripsi ini tidak salah. Sebab bola itu bundar dan dalam permainan, wajar ada menang-kalah. Jatuhnya Salah yang salah pun bukan berarti penyebab utama Liverpool kalah. Sebab kalah bukan berarti salah, dan Salah menyadari bahwa dirinya dan ramos sama-sama salah dan baginya jalannya pertandingan tak ada yang salah.

Maskuning Kulon, 27 Mei 2018

KUSIR AGAMA

Agama merupakan kekuatan nilai luhur yang menjembatani kita manuju sang pencipta. Dalam agama kita temui berbagai ajaran yang kompleks dengan keramahan dalam menjalani proses hidup. Pun agama lah yang menjunjung dan mempromosikan nilai-nilai realitas yang berwujud pada prilaku melindungi, manghargai, dan memanusiakan. Maka, beragama berarti berupaya seserius mungkin menempa diri untuk melengkapi serangkaian realitas itu. Pun dapat kita pastikan tak ada agama manapun yang mengajarkan nilai diluar kemanusiaan.

Pertanyaannya, Mengapa agama masih saja selalu menarik dipersoalkan, dibenturkan, bahkan dimanfaatkan?. Jelas ini perlu penjabaran yang ekstra. Banyak kita jumpai tumpang tindih pemahaman terbatas serta kuatnya egoisme personal yang menjadikan pola agama dipetik dalam ketimpangan dan setengah-setengah. Dan ini sangat sensitif. Situasi tersebut tak mungkin dilewati, dan wajar ketika agama dijadikan alat saat momen-momen kepentingan tertentu untuk mencapai suatu tujuan. Dianggapnya menjadi satu-satunya lahan basah untuk dikapitalisasi. Tak hanya agama, gelar-gelar dan status sosial diakomodir sebagai penyokong komoditi transaksional sesaat dengan balutan relegiusitas palsu.

Dengan kapitalisasi agama, agama dimanajemen sebagai desain Interpreaneur untuk menghipnotis idealisme. Yasinan dan tahlilan mulai dicabuti marwah dan nilainya. Menjadi sebuah gerakan nilai luhur yang tertunggangi dan terampas kekuatan masanya dengan potret kalkulasi angka-angka.

Para yang berkepentingan besar itu, melangsungkan kemasan visi-misinya dengan meminta pertimbangan-pertimbangan kuat. Tak sekedar kepara akademisi yang fashih dengan data-data, bahkan ke dukun sekalipun. Sementara keluasan pengetahuan dan gaungan jargon-jargon itu hanyalah kekosongan yang diseolah-olahkan ada. Tak representatif dengan pengetahuan, pemahaman dan kemauan realitas. Pun tak begitu penting. Sebab sifatnya sekedar retorik dan realitas (masyarakat) tak tertarik itu.

Mengapa? Sebab fakta Idealisme tak sejalan dengan pragmatisme masyarakat. Maka Inilah sejatinya ketimpangan utama yang harus dientaskan dan dibantai. Lagi-lagi sumber daya manusia harus diseriusi dan tak sekedar terus-terusan diperdebatkan.

Belum lagi kuatnya budaya oligarki yang jelas mencabut akar nilai strutur masyarakat yang seharusnya merdeka dan berkedaulatan secara luhur. Pun menguatnya struktur kelas dan status sosial yang memparadigma. Maka wajar ketika masyarakat kita adalah mereka-mereka yang irrasional dan tak demokratis. “Bagaimana mau demokratis, semantara demokrasi kita saja jelas tak demokratis.” Kata kawan saya.

Maka, Bagi Gus Dur, Demokrasi bukan sekedar kebebasan ekspresi saja, tetapi juga keadilan dan kesamaan dihadapan hukum. Sebagai yang hidup, jelas pernyataan Gus Dur ini menjelaskan kesamarataan tanpa pandang bulu. Mewarning segenap lembaga pemerintah dalam upaya menjalankan proses demokrasi dan pemerintahannya secara tulus, serius, dan bersungguh-sungguh.

Fakta dilapangan, Kampanye yang seharusnya mengedukasi dan memberi pemahaman perihal demokrasi, justru terbalik. Tak lain hanya dihabiskan dengan arakan-arakan, saling pamer kekuatan, branding tampilan, pun dibangun podium-podium lalu memamerkan ego dan keambisian dengan simplifikasi-simplifikasi yang tak bermoral. Jelas, ini memancing emosi, merusak kenyamanan dan tatanan struktur sosial, bukan?

Kompetisi gagasan dan nilai guna tak lagi di tasbihkan sebagai yang pokok. Namun sekedar saling sibuk mempertontonkan nilai tawar (transaksional) dengan berbagai improvisasi konyol. Aktifitasnya serba manipulatif. Kemiskinan dipertontonkan. Ketakberdayaan dihinggapi dan dirinya direpresntatisikan sebagai si penolong, si pumurah dan si dermawan. Raalitas terkonsolidir oleh kode, jargon, dan sandi-sandi. Sensitifitas dibikin sebagai bahan untuk mencabik-cabik dan menguasai otoritas personal kemanusiaan. Maka kacau, lenyap dan tumbang lah paradigma masyarakat kita.

Bagi saya, kedewasaan pandangan politik itu memungkinkan tegaknya stabilitas politik di negeri ini. Karena tantangan politik dewasa ini jelas mementingkan tercapainya stabilitas politik yang amat dibutuhkan untuk mengatasi krisis multidimensi di berbagai dimensi kehidupan.

Adapun permasalahan terakhir yakni terkait dengan doktrin ajaran agama islam, tentang anjuran pelaksanaan hukum-hukum, dan tata cara islam secara menyeluruh (kaffah). Termasuk masih bertebarannya sebagaian organisasi-organisasi yang berafiliasi pada agama Islam. Baik organisasi politik ataupun organisasi kemasyarakatan yang terus berupaya untuk merealisasikan pesan-pesan agama secara literal. Menganjurkan terwujudnya masyarakat yang religious melalui jalur politik. Tentu dengan misi merubah ideology dasar Negara (pancasila). Dan ini jelas membahayakan. Sebab, yang demikian dengan sendirinya dapat memberikan kecurigaan kepada kelompok agama lain akan eksistensinya sebagai warga Negara kesatuan yang telah disepakati. Yakni berkedudukan sama dihadapan undang-undang tanpa seleksi latar belakang.

Akademisi yang sepetutnya berpikir jernih, pun kenyataannya memproduksi nalar kecurigaan dan melukai. Bacotan-bacotannya dipesan, dipersiapkan dan didomestikkan dengan berbagai jaminan. Moral akademisi yang seharusnya terlibat soal nilai demokrasi untuk membangun civic value, kini terusak dengan rasionalisasi nalar kebencian yang sengaja dimanfaatkan.

Pada akhirnya kita sadar bahwa, Bagsa ini terlalu besar jika dilukai oleh kepentingan-kepentingan kecil dan sesaat itu. Maka, memimpin bukan sekedar soal pintar, hebat, dan berkuasa. Ia (memimpin) tentang kesungguhan, keekunan, dan ketulusan dalam uapaya perwujudan nilai-nilai luhur yang memaslahatkan. Sekali lagi, kampanye dan visi-misi tak penting bagi masyarakat. Pun sebagai warga negara yang besar, terlalu naif jika keberagamaan hanya dipakai sebagai kerangka untuk menjulangkan topeng-topeng dan popularitas-popularitas palsu.

Maskuning Kulon, 21 Mei 2018

YANG KELAPARAN

Sehabis nyekar menyambut puasa, aku sempatkan sowan ke guruku, Nyai Surti.

Seperti biasa, dipendopo depan rumahnya, kudapati Nyai Surti sedang membaca kitab kuno tebal, entah isinya apa.

Eh, kamu, Tolol!” Sapa Nyai Surti.

“Darimana saja kamu, kok sampe ngos-ngosan gitu?” Nyai Surti cuek, fokus ke kitab kuno itu.

“Dari makam habis nyekar, persiapan menyambut bulan puasa, Nyai” Saya melangkah menuju Nyai Surti.

Hah? Apa hubungannya makam sama puasa? Ngaco aja kamu.” Nyai surti melotot spontan.

Ampun, Nyai. Bukannya kalau saya nyekar saat menyambut bulan puasa, saya dapat pahala, Nyai?” Jawab saya memberanikan diri.

“Pahala, pahala, iya, pahala tololmu! Pahala terus yang diotakmu, kapan kamu bakalan tulus menghamba jika diotakmu hanya berorientasi bisnis pahala. Gak sekalian dagang pahala sana di pasar! Dasar goblok!” Nyai Surti meninggi.

Aduh, sekali lagi, ampun, Nyai. Bukannya begitu, tapi kan setiap peribadatan dan penghambaan memang ada timbal balik (jaminan, penghargaan, imbalan)nya, Nyai?” Respon Saya, apa adanya.

“Apa? Timbal balik? Kau kira Tuhan itu perusahaan dan panitia lomba? Tolol banget kamu!” Nyai Surti semakin menjadi.

“Sebagai yang beragama, manusia dihadapkan dengan berbagai model ajaran keagamaan sebagai cara mendekatkan diri pada Penciptanya. Model itu melahirkan variasi praktek sesuai pantauan indera yang kemudian disepakati. Maka lahir berbagai macam praktek peribadatan. Mulai dari praktek peribadatan yang bersifat sosial kemanusiaan (horizontal) dan ketuhanan (vertikal). Horizontal adalah praktek peribadatan manusia dengan sekitar, sementara vertikal adalah wujud penghambaan dan pasrah diri untuk tunduk patuh pada sang Maha Raja. Dua peribadatan itu (Horizontal-Vertikal) harus dipahami secara utuh dan mendalam, agar peribadatanmu tak sekedar capek mengumandangkan kalimat dan gerak-gerik sebagaimana ngos-ngosannya kamu sehabis bersih-bersih kuburan itu. Paham?” Nyai Surti menggebrak meja ukirnya.

Sendiko dawuh, Nyai. Saya semakin tak paham.” Saya sungkem.

“Bagaimana mau paham, la wong di otakmu hanya dipenuhi harapan-harapan pahala pragmatis. Peribadatan semestinya didasari cinta. Tanpa cinta, peribadatan hanya menjadi potret transaksi dagang dengan modal dan laba (pahala) yang seolah-olah direlegiuskan. Maka tanda-tanda cinta bagi Jalaluddin Rumi adalah; Ketika kamu tak lagi egois dan tak lagi mikir keuntungan apa-apa. Peribadatan ke Allah juga begitu, ‘ketika kamu masih mikir untungmu apa, maka itu belum ikhlas sejati, masih belum masuk dalam tanda-tanda cinta.’ Kata Rumi. Sebab orang yang cinta itu diperintah apapun ‘iya’ tanpa minta imbalan. Jika nyekarmu masih mengharap balasan, artinya kamu masih ‘dagang’ sama Allah.” Nyai Surti panjang lebar.

“Demikian pula soal peribadatan puasa ramadhan. Ia adalah pribadatan fisik yang tak sama dengan peribadatan lainnya. Dalam sholat terdapat gerak dan bacaan-bacaan, Zakat pun demikian, perlu adanya harta yang jelas dan nampak. Sementara dalam puasa, tidak. Ketaksamaan puasa dengan peribadatan lainnya ini jelas terkandung makna yang substansial. Tak sekedar mencegah dan menghindar dari yang membatalkannya. Pun tak sesempit mencegah makan dan minum saja. Ia (Puasa) adalah serangkaian pelajaran berarti untuk mentitikfokuskan jiwa-raga pada rasa lapar dan haus.” Lanjut Nyai Surti.

“Maka secara etimologi, puasa berarti “Al-imsak” (mencegah). Sekali lagi, tak sekedar mencegah dan menghindar yang membatalkan. Puasa adalah pelajaran untuk terus mengolah hati, rasa, pikiran, dan prilakumu untuk merespon kondisi sekitar. Puasa adalah media untuk menyatukanmu pada kondisi realitas sekitar. Puasa menjelaskan ketidaknyamanan lapar dan haus agar otak dan hatimu tak beku jika mendapati mereka yang susah, kelaparan dan kehausan. Jelas? Makanya otakmu jangan hanya digoblokin terus-terusan. Dasar wedhus!” Nyai Surti semakin sangar.

Ampun, Nyai” Sahut saya, tak bergerak sedikitpun.

Ompan-ampun, ompan-ampun. Nabi Muhammad kan telah menyeru, ‘Kam min shoimin laisa lahuu min shiyamihi illal ju’i wal ‘atshi’. (HR. Ibnu Majah). Jelas kan, ummat pada masa Nabimu saja sudah numpuk yang hanya sekedar kelaparan dan kehausan dengan puasanya. Apalagi ummat yang sekarang, yang pikirannya hanya dikerumuni imbalan dan berprofesi sebagai makelar pahala sepertimu itu. Makanya punya otak jangan cuma dipajang. Mikir!” Nyai Surti melotot sambil menunjuk kepalanya.

“Memangnya, mereka-mereka (ummat Nabi) itu kenapa, Nyai. Kok hanya dapat lapar dan haus saja?”

Waduh, benar-benar beku, otakmu itu ya! Dasar batu! Makanya orang bicara itu didengar! Kuping itu buka! Hidup kok mencla-mencle. Apa perlu aku lempar gelas, biar otakmu nyantol?” Bentak Nyai surti, sambil memegang gelas beling.

Aduh, ampun, Nyai. Ampun.” Saya fokus.

“Begini, goblok, oleh mereka, peribadatan puasa tak dicermati dan digali secara mendalam. Dianggapnya sekedar penunai kewajiban tahunan dengan bermacam faidah dan penawaran pahala-pahala. Akhirnya mereka hanya merasakan haus dan lapar saja, tanpa merasakan substansi puasa itu. Maka, sekali lagi, substansi puasa selain sebagai sarana sirkulasi cairan tubuh (fisik), puasa sejatinya sebuah pelumpuh kekuatan egoisme, keambisian nafsu, dan bejatnya naluri kehewanan dalam dirimu itu. Maka, berpuasa jelas bukan pemanfaatan bursa amal yang sekedar diheboh-hebohkan dan diagung-agungkan.” Jabar Nyai Surti sembari meneguk kopi jahe kesukaannya.

“Siap, siap, Nyai.” Respon Saya.

“Apanya siap, siap. Kamu kira aku inspektur upacara? Dasar gak jelas!” Nyai Surti semakin kesal. Saya tak merespon sedikitpun.

“Sebelum ketololan kamu merambah kemana-mana, ada logika yang penting untuk saya sampaikan ke kamu saat berpuasa. Begini, ‘Makanan dan minuman tak membatalkan puasa, yang membatalkan itu jika kamu makan dan minum. Paham?’ Artinya jangan sampai puasamu kamu pakai untuk ngurusi warung-warung dan makanan! Sebab warung-warung dan makanan itu sama sekali tak membatalkan puasamu. Logika kedua, ‘makan dan minum tak membatalkan puasamu, jika yang makan adalah tetangga atau teman-temanmu.” Artinya, tidak puasnya teman-temanmu tak berefek batal pada puasamu. Maka tak perlu ngurus puasa orang lain. Sebab Puasa itu ada dalam dirimu. Dan puasa itu, Kamu. Makanan, minuman, warung, dan puasa orang sama sekali tak berpengaruh sedikitpun terhadap puasamu. Apalagi membatalkan. Jelas? Kalau belum jelas, nyekar lagi sana, sekalian ngubur diri! Dasar goblok!”

Yaudah, sana pulang! Aku capek mikir tololmu itu, aku mau lanjut baca-baca.” Nyai Surti menyodorkan tangan mempersilahkanku salaman.

Tamansari, 17 Mei 2018

YANG BUTA DAN DANGKAL

Tiap yang hidup tentu mencari keamanan dan menghindar dari yang tak aman. Ketakamanan menjadi musuh otomatis akal untuk dicegah dan dijauhi. Keamanan adalah impian rasio. Sementara ketatidakamanan adalah teror yang bakal melumat cara berpikir dan prilaku. Pun membasmi kewajaran hidup yang melahirkan kecemasan dan ketakutan-ketakutan.

Jika teror adalah perusak, maka meneror berarti merusak. Ancaman hadir dengan dogma dan doktrin nilai diluar nurani kemanusiaan. Nurani dikuasai oleh maksud dan tujuan-tujuan politis dan kapital. Jelas, teror berarti mencabik-cabik nilai-nilai kemanusiaan dan mengganggu kenyamanan.

Jika demikian, teroris tak semestinya hanya termaknai sebagai mereka yang berjihad kemudian melakukan bom bunuh diri atau rela mati dengan jaminan surga. Setiap yang melakukan ancaman dan menyemai ketidaknyamanan dialah teroris. Bagaimanapun motifnya. Sebab tiap agama apapun tak ada yang mengajarkan untuk mengancam dan tidak menyamankan. Maka terorisme wajib kita pahami sebagai tindakan diluar nilai keagamaan. Pun pelakunya (teroris) adalah mereka yang salah dalam beragama. Dan kontrol personalnya dikuasai oleh naluri diluar rasio (irrasional). Sebagai yang bernaluri dan berasio normal, setiap teror apapun tak perlu ditakuti dan cemaskan. Semuanya harus dilawan dan dibumihanguskan. Tentu dengan memantapkan nilai keberagamaan secara intensif dan substansial.

Maka betul kata Freud, secara umum manusia tidak dikendalikan oleh akal dan imannya, sejatinya ia dikendalikan oleh kekuatan irrasional yang tidak disadari, motivasi yang tidak disadari, dorongan biologis dan dorongan naluri. Jadi manusia tidak disetir oleh apa yang dianggap baik dan buruk, tapi disetir oleh apa yang dianggap suka dan tidak suka. Baik buruk bisa direkayasa. Maka dorongan ‘mau kemana ia’ yang lebih nyetir dia.

Jelas bagi Freud, hidup itu tak diatur oleh akal, tapi oleh dorongan hati. Tujuan hidup mencari “enak” dan menghindari “tidak enak”, mengejar ideal yang diimpikan.

Iman dan agama hanya sebagai washilah untuk mengejar kesempurnaan yang sejatinya hanya milik-Nya. Keduanya hanya sebuah upaya menggapai kesempurnaan yang sejatinya tak pasti dan jelas. Maka iman dan agama tak lain hanya sebatas dimensi kontrol hidup yang harus selalu dijaga dan diselaraskan dengan dorongan naluri itu.

Berbagai tragedi sering membikin realitas kacau, seolah paradigma guncang dan tak utuh. Lahir ancaman-ancaman yang mengakibatkan ketakutan-ketakutan. Hal biasa digenting-gentingkan dengan berbagai model. Wajar jika ketidaktenangan menjadi musibah besar dalam diri manusia. Sebab kekuatan kontrol personal sudah dilucuti dan dikuasai. Pikirannya dibalut ayat-ayat hasil petikan yang tekstual dan dangkal tafsir. Hingga jaminan kebahagiaan dan kesengsaraan dari Tuhan dianggap secepat yang di sinetron-sinetron.

Jika demikian, maka mengkontekstualisasikan norma-norma agama (Al qur’an) harus terus diasah setajam dan sedalam mungkin. Sebab Al qur’an tak sekedar berisi kisah-kisah, ancaman dan jaminan. Didalamnya bertebar sastra yang perlu digali sesuai perkembangan perkembangan situasi dan kondisi ralitas. Guru saya, kiai Sutara pernah cerita begini, Suatu ketika ada ulama Wahabi dan ulama Sunni berdebat. Si ulama Wahabi buta, memaksa untuk mentekstualkan pemaknaan Al Quran. Sebab baginya, Al quran adalah Kalamullah yang tak boleh sembarangan dimaknai dan ditafsirkan. Al qur’an harus diartikan secara murni. Kata si ulama Wahabi. Ulama Sunni tak sepakat, Tidak bisa, Al qur’an harus diartikan dan ditafsir sesuai kondisi realitas dan perkembangan zaman. Kalau tidak begitu, pasti kacau. Kata si ulama Sunni. Kalau tidak percaya, silahkan baca surah Al-Isra ayat 72. Kira-kira isinya begini, “wa man kaana fi hadzihi a’ma fahuwa fil akhirati a’ma wa adhollu sabila”. Dan barang siapa buta di dunia, niscaya di akhirat nanti ia akan lebih buta dan lebih sesat jalannya. Jelas si imam Wahabi (yang buta) pun kapok kebingungan.

Jadi begini, “Bagi Ibnu Abbas, term “a’maa” yang dimaksud adalah buta hati terhadap ciptaan-ciptaan-Nya (laa ta’qilun). Bukan buta fisik.” Si ulama Sunni menjelaskan. “Jika yang dimaksud itu buta fisik maka jelas anda bakal buta juga di akhirat dan lebih sesat jalannya. Paham?” Si ulama Wahabi pun merunduk diam.

Kembali ke soal bagaimana Freud, dorongan nurani manusia harus selaras dengan pemahaman keagamaan yang kompleks dan koperhensif. Sehingga dalam pemahamannya tak putus-putus dan setengah-setengah. Maka Dalam berkehidupan jelas perlu kesadaran dan pemahaman yang bermuara dan kembali pada pokok intinya, yakni ‘ruhii/ruh-Ku (Tuhan)’.

Pun memadukan Iman, agama dan kekuatan irrasional sebagaimana maksud Freud diatas dengan Universal Sufisme Ibnul ‘Arabi sangatlah penting, bahkan wajib. Universal sufisme bagi Ibnul ‘arabi adalah Agama Cinta. “Wa Nafakhtu Fiihi Min Ruhi.” Dan saya tiupkan kepadanya, ruh-Ku. Artinya ruh Tuhan tidak untuk kelompok-kelompok atau agama-agama tertentu. Semua ciptaan adalah “Min ruuhi (dari ruhku)” kata Allah. Maka hargai dan cintailah semua ciptaannya, sebab mereka semua adalah manifestasi Tuhan di muka bumi. Dalam hati orang yang mungkin tiap hari kalian caci maki, kalian marahi, bahkan kalian ancam, disana ada “ruhi/ruh Tuhan”. Jika kamu punya karya, lalu ada yang merusak karyamu, karyamu mungkin tidak apa-apa. Tapi yang tersinggung dan marah kan yang buat (kamu). Maka jangan sampai Allah (Tuhan) tersinggung dan marah gara-gara kalian merusak yang tak seharusnya kalian rusak.

Pada akhirnya kita menyadari, jika setiap ciptaan berasal dari ‘ruhi’ dan merupakan manifestasi Tuhan, maka jelas harus dirawat, dijaga, dihormati dan diagungkan, bukan?

Tamansari, 16 Mei 2018

KARTINI DIMATA NYAI SURTI

Siang tadi saya bersama kawan saya, perempuan, sowan ke dhalem Nyai Surti.

Baru sampai di teras depan rumahnya, Nyai Surti menyapa,

Eh, kamu, tolol. Tumben lama tak kesini? Sapa Nyai Surti.

“Masih sibuk, banyak kerjaan. Nyai.” Jawab saya.

“Kerjaan embahmu.” Nyai Surti sembari mempersilahkan masuk.

Ampun, Nyai”. Saya takdzim.

“Sana bikin kopi dulu! Jangan lupa kasi jahe.” Perintah Nyai Surti.

Enggeh siap, Nyai” Saya tak banyak bicara.

Sebagai santri yang lurus (dalam tanda kutip), sembari bikin kopi, saya memulai percakapan, kawan saya ruang tamu bersama Nyai Surti.

“Gender itu apa sih, Nyai?” Tanya saya dari kejauhan.

Aduh, ilmu macam apa lag itu, tolol? Ada-ada saja.” Seru Nyai Surti dari ruang tamu. Saya bikin kopi di dapur.

“Itu, yang katanya memperjuangkan diskriminasi para kaum perempuan, Nyai.” Sahut saya seadanya.

Hah? Dasar tolol, perempuan siapa yang terdiskriminasi? Mengapa terdiskrimasi? Lalu memperjuangkan apanya? Ngawur! Sok tahu saja kamu. Bukankah semuanya sebab prilaku kehewanan dalam dirimu itu. Gender itu ada dalam dirimu, ya dirimu, itu. Ia wujud kesadran, saling menghargai, saling melengkapi dan saling mengagungkan. Ngerti?” Nyai Surti meninggi.

Aduh, Ampun, Nyai. Saya tak paham.”

“Bagaimana kamu bisa paham, wong diotakmu hanya berkerumun pikiran-pikiran porno. Dasar wedhus!” Bentak Nyai Surti.

Ampun, Nyai.”

“Perempuan dan laki-laki tak sama sekali sama. Pun sama sekali tak beda. Tak sama, sebab ada banyak spesifikasi perempuan yang nampak tak sama dengan laki-laki baik fisik ataupun perannya (Skriptualistik). Tak beda, sebab keduanya adalah ciptaan yang hakikatnya sama-sama saling melengkapi, saling melindungi dan punya hak yang sama dalam berkehidupan dan berkiprah dihadapan-Nya (Substantif) “Hunna libasul lakum wa antum libasul lahunna.” Mereka (perempuan) adalah pakaian bagi kalian (laki-laki) dan kalian (laki-laki) adalah pakaian bagi mereka (perempuan) (QS. Al Baqarah: 187).Term “Hunna” disebut diawal berarti (perempuan) menjadi prioritas utama sebagai pakaian kita (pelindung). Intinya, hakikat keduanya (laki-laki-perempuan) itu sama. Tak ada yang diatas dan dibawah.”

“Agama, pun tak pernah mendogma perempuan sebagai makhluk yang dipangkas kiprahnya, pun tak pernah ditemui unsur diskriminatif yang berobjek pada seorang perempuan. Justru Al Quran mengangkat perempuan sebagai ciptaan yang patut diagungkan. “Wa ‘asyiru hunna bil ma’ruf”. …Dan gaulilah mereka (perempuan) dengan baik (QS. An-Nisa: 19). Penghargaan terhadap perempuan harus diprioritaskan, didahulukan dan diutamakan. Menggauli perempuan dengan baik berarti memberikan ekspresi sebebas mungkin selama wajar dan tak diluar batas.” Lanjut Nyai Surti.

“Jika kamu adalah sebagai yang beragama, maka jangan kamu jadikan gendermu itu hanya sebatas bincang-bincang dalam sirkus-sirkus ilmiyah sementara itu. Hantarkan nilai-nilainya dengan pelestarian dan wujudkan dalam prilakumu. Buka ayat-ayat suci-Nya. Biar kamupaham dan tahu diri. Kamu kira gendermu itu hanya sekedar yang di lembaran buku-buku kampret itu? Dasar santri goblok!” Nyai Surti menggebrak meja. Kawanku kaget.

Ampun, Nyai.”

“Tapi ingat, keberadaan pengagungan perempuan dalam Al Quran itu tak berarti bermaksud mendiskreditkan laki-laki. Ia (ayat) tak lain ketersalingan dan kerjasama. Perempuan harus berkiprah setinggi langit. Iya. Tidak hanya soal pemantasan kualitas diri, tapi upaya jangka panjang untuk menyiapkan generasi. Sebab, “Fainna madrasatul ula lilwaladi al umm.” Ibu (perempuan) merupakan sekolah pertama seorang anak. (Al Hadist). Artinya, pengagungan itu sebagai seruan serius agar perempuan harus semaksimal mungkin memantaskan diri dengan kesungguh-sungguhan. Lebih-lebih soal pemantapan keberagamaan. Mengapa? Ya, Biar generasi setelahnya tak se-kurang ajar dirimu itu. Tolol.” Nyai Surti semakin meninggi.

“Siap, Nyai. Oh iya, Nyai, kabarnya kemaren peringatan Hari Kartini ya, Nyai? Memang, siapa sih Kartini itu, Nyai. Kok sampai diperingati segala?” Tanya saya, memberanikan diri.

“Iya, RA. Kartini merupakan bagian kecil dari representasi perempuan-perempuan di Negeri ini. Kartini atau Raden Ajeng merupakan sosok santri asuhan Kiai Soleh Darat, Semarang. Ia (Kartini) seperguruan dengan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari (Pendiri Nahdlatul ulama) dan Kiai Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah). Yang jelas ia Santri yang tak tolol sepertimu itu. Ia menikah dengan RM Joyodiningrat dan dihadiahi Kitab Faidhur Rohman (kitab terjemahan Al-Qur’an berbahasa Jawa pertama kali di dunia) karya sang guru sendiri (Kiai Sholeh Darat, Semarang) Kartini memiliki sikap gigih, ulet, dan tangguh. Segala prilakunya temaktub dan diabadikan dalam sejarah.”

“Ia (Kartini) adalah alat refleksi diri. Tak cuma bagi perempuan, tapi bagi semuanya (laki-laki dan perempuan). Ia perempuan cerdas dan seorang agamawan. Selain cerdas dalam berbagai kompetensi dan displin ilmu, ia juga lihai dalam mengkonsolidir masyarakat kala itu. Olehnya, kondisi ketertinggalan mental dan gaya berfikir masyarakat disulap menjadi sebuah potret berkemajuan dengan payung nilai-nilai keagamaan.” Jabar Nyai surti.

“Ia perempuan yang teguh aqidah keagamaannya. Kecerdasan seorang Kartini dilirik banyak kalangan. Tak hanya didalam negeri, bahkan diluar negeri. Dari saking cerdasnya, pernah suatu ketika oleh orang-orang eropa, Ia (Kartini) dibujuk dan diminta pindah agama, Kartini dianggap kurang cocok beragama Islam. Namun sekali lagi, keteguhan dan prinsip agama perempuan yang satu ini jelas tak diragukan, ia berani dan tak ketir sedikitpun merespon bujukan tersebut. Ia tegas menjawab, “Wahai Tuan, Asal Tuan tahu, Agama saya Tauhid, tak mungkin saya keluar daru agama saya.” Tegas Kartini. Luar biasa, bukan?”

“Siap, Nyai. Lalu, kira-kira adakah hubungan antara gender dan Kartini, Nyai?” Tanya saya, Nakal.

“Begini, jika gender yang kamu sebut tadi itu merupakan alat refleksi bagi para kaum perempuan, tak masalah. Justru bagus. Namun, pertanyaan saya, gender yang mana yang selama ini kalian perjuangkan? Apa yang kalian kerjakan dengan gender itu? Sudahkah kalian menyapa perempuan-perempuan dipelosok sana? Atau jangan-jangan perempuan-perempuan yang katanya pejuang hak-hak perempuan itu hanya sekedar berhedonis ria di keramaian pusat-pusat kota. Atau hanya super sibuk menyiapkan perayaannya (Kartini) dengan milyaran kemasan-kemasan gaya itu. Kalian kira dengan perayaan itu mampu mengubah sesuatu? Sama sekali tidak. Makanya mikir itu pakai pikiran (akal), jangan pakai dengkul” Lanjut Nyai Surti.

“Jika Kartini merupakan bagian dari perempuan yang teguh dan tangguh keagamaannya, lihai dan cerdas dengan pemberdayaannya, lalu apa iya, kalian hanya sekedar terus-terusan merayakan dan memperingatinya? Ingat, memperingatinya berati mengingat dan mengingatkan. Mengingatkan diri sendiri, bukan orang lain. Kartini diingat bukan sekedar dijadikan jargon yang disebar di status media sosial, pun bukan yang diperingati dengan sebaran kuntuman bunga palsu diperempatan lampu merah itu. ia sejarah esensial, kiprahnya adalah nilai bukan sebatas populatitas jargon tahunan sesaat. Kartini itu elaborasi integral antara kiprah, nilai dan prilaku. Maka melestarikan, menghidupkan, dan meneladani perjuangannya lah yang harus selalu dihadirkan dalam prilaku. Maka, Pertanyaan saya, mengapa kamu hanya super sibuk memperingatinya (Kartini)? Sementara ke dirimu saja kau tak bisa mengingatkan. Ini kan kacau tak kaprah. Jelas? Segara hapus tololmu yang tak ketolongan itu! Dasar Goblok!” Bentakan Nyai Surti semakin meninggi.

“Sendiko dawuh, Nyai.” Saya sungkem.

“Begini saja, daripada terlalu sibuk memperingati Kartini dengan berbagai akting, mending kamu sibukkan diri dengan lebih membuka lembaran-lembaran sejarah perempuan dalam agamamu. Tak hanya Kartini dalam sejarah peradaban kaum perempuan Islam. Ia (Kartini) hanya bagian kecil dari sekian perempuan. Coba buka kitabmu! Bagaimana kiprah dan prilaku Khodijah, Aisyah, Fatimam dan lain-lain. Dasar! Makanya beragama jangan setengah-setengah, Tolol!”

Ampun, Nyai”

“Sana pulang. Sudah saya bilang dari dulu, kitabmu itu buka, jangan cuma ditumpuk! Jadikan pembuka sekat-sekat kegoblokan dalam dirimu itu. Jangan hanya terus-terusan meracuni orang dengan khutbah-khutbah ketololanmu itu. Punya kuping dipakai, matamu itu kan gede, jadi, buka! Akalmu kan masih sehat? otakmu kan masih waras, mumpung waras, maka waraskan dulu dalam dirimu itu. Hidup kok mencla-mencle gak jelas.” Nyai Surti sangar.

Enggeh, siap, siap, Nyai.” Saya menyegerakan pamit. “Sangar sekali nenek itu ya, tapi sangat ‘alim.” Bisik kawan perempuan saya.

Maskuning Kulon, 22 April 2018

HILANG INGATAN

Setiap yang berlalu tentu menyisakan kenangan, kenangan menghadirkan ilusi dan bayang-bayang. Kadang menyakitkan, pun kadang menggembirakan. Menyakitkan jika kenangan hanya diingat dan dikhayal. Bakal menggembirakan jika tiap kenangan melahirkan spirit mencengkram nilai dan melestarikan setiap yang baik dari kenangan itu, lalu ditumbuhkembangkan dalam bentuk wujud nyata berbentuk nilai, moral, prilaku, dan tauladan.

Demikian pula soal peringatan lahir kelompok Pergerakan Mahasiswa yang katanya Islam dan yang Indonesia. Oleh politisi biasa disebut PMII. Kelahirannya baru saja diperingati dan dimeriahkan. Namanya peringatan, berarti mengingat kembali yang di ingatan. Dimeriahkan berarti mengembalikan ingatan itu dalam bentuk uforia dan berbagai macam kemasan. Ini menarik.

Oleh tiga belas orang, 17 April 1960 di Surabaya termaktub dan terdeklarasi sebagai detik kelahiran PMII di bumi Nusantara, keberadaannya pun menjamur hingga detik ini. Maka tentu mereka (para pendiri) tak sekedar penggagas yang biasa-biasa saja. Mereka jelas memiliki ikhtiyar dan harapan besar untuk mengisi, merawat, menjaga, dan membesarkan PMII yang kala itu sangat sedikit secara kuantitas. PMII diharapkan mengembriokan pemimpin-pemimpin dimasa mendatang. Maka kiprah pendiri PMII jelas terbukti dalam sabda-Nya, “…Kam min fiatin qolilatin ghalabat fiatan katsirotan biidznillah wallahu ma’asshobirin.” Banyak kelompok sedikit mengalahkan kelompok besar sebab izin-Nya. Dan Dia bersama orang-orang yang sabar. (Al-Baqarah: 249).

Dari penggalan teks suci tersebut, jelas. Sabar adalah kunci utama keberhasilan ketiga belas pendiri itu. Sabar merupakan kombinasi harmonis antara rasa syukur, optimisme, dan persistensi. Rasa syukur dapat mengkonversi kondisi terburuk menjadi berhikmah dan lebih baik. Optimisme menciptakan harapan. Dan Persistensi adalah kesadaran diri untuk tetap bergerak, berusaha dan berjuang. Sabar berarti tetap melakukan apa yang harus dilakukan dan siap siaga (menjaga). (QS. Ali Imran: 200)

Maka dalam perjalanan pendiriannya, mereka (para pendiri) tak sekedar berkerumun, berbincang, dan merumuskan. Mungkin hal tersebut hanya sebatas ruang intelektualitas. Namun spirit spritualitas, emosionalitas dan moralitas bagi saya adalah merupakan manifestasi utama yang menjadi salah satu upaya serius para tiga belas pendiri itu.

“Saat proses pendirian PMII, Saya ngontel dari Tuban ke Surabaya. Pun saat itu saya puasa” Ujar KH. Nuril Huda (Salah satu dari 13 Tim Pendiri). Jelas penuh perjuangan dan tak main-main, bukan?

17 April kemaren, perjalanan PMII genap 58 tahun. Diumurnya yang ke 58, tentu banyak menyisakan kenangan. Dalam perjalanannya, pun PMII dihadapkan dengan berbagai hambatan, tantangan, bahkan ancaman. PMII telah bermetamorfosa dengan berbagai peristiwa dan kejadian. Pun dikomando oleh berbagai macam karakter dan pola gerak yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Jelas, PMII sudah tak lagi suci (Fitrah) sebagaimana awal berdirinya. Ia (PMII) Keruh, becek, bahkan penyakitan.

Maka, PMII sebagai kaum intelektual muda Nahdlatul Ulama, cendikiawan muslim Indonesia, serta lumbung generasi penentu dimasa depan, diumurnya yang mulai merenta, tentu harus insyaf dan sadar serta merevitalisasi kometmen untuk terus membuka lembaran-lembaran sejarah secara substansial. Sejarah perjalanannya harus terabadikan. Bukan hanya dijadikan sebagai fosil-fosil fiktif. Tak sekedar dijadikan lumbung spekulatif yang melahirkan keangkuhan dan pembusungan dada. Sejarah (kenangan) itu harus tertuang dalam prilaku dan tindakan nyata beruswah. “PMII jangan sekedar menjadi penikmat sejarah, tapi wajib mampu memahami dan menciptakan sejarah.” Kata Sahabat saya yang bukan politisi.

Soal bernegara, Pancasila sebagai asas tunggal PMII. PMII adalah benteng kuat penopang keberlangsungan persatuan dan kesatuan Agama, bangsa dan Negara. Maka PMII harus memantik seluruh nilai yang diajarkan di PMII. Ajaran ketauhidan sebagai pengokoh ideologi dan keberagamaan, Fiqih sebagai landasan hukum dan aturan main penghambaan, serta tasawwuf sebagai representasi pola interaksi dengan berbagai realitas ciptaan.

Realitanya, PMII sering terjangkit berbagai macam penyakit mematikan. Pun seringkali PMII pula yang membikin penyakit itu. Tak hanya diluar tubuhnya, ditubuhnya pun penyakit itu masih saja seringkali dibikin. Dan tak sembuh hingga saat ini. Kader PMII yang harusnya sebagai pembasmi hoax (fitnah), tak jarang justru merekalah pembikin dan penyebarnya (provokator). Entahlah.

Jika PMII selalu memproklamirkan sebagai kelompok yang paling dominan diantara yang lain, maka moralitas PMII harus dikembalikan ke yang asli (hakikat) sebelum terus-terusan memalukan. Pun jika mahasiswa sebagai lumbung pembenihan kader-kader pelanjut estafet eksistensi dan esensinya, maka PMII harus memprioritaskan moralitas (uswah), bukan sebatas intelektualitas. Pun tak sekedar berleha-leha dalam kungkungan politik praktis tak berkemanusiaan.

Moralitas harus menciptakan panutan dan suri tauladan (uswah). Sebab, Lisanul hal afshokhu min lisnul maqol, Tindakan lebih sakti (fasikh) dari sekedar celotehan (ucapan). Jika demikian (uswah) yang muncul dipermukaan dan dipertontonkan, maka PMII akan semestinya menjadi lirikan siapapun dan dijadikan sebagai ruang ekspresi serta memantapkan diri dalam berkeislaman dan berkeindonesiaan. Tanpa diminta, berebut apalagi sampai berkonflik dengan kelompok lain.

Pertanyaan sederhananya, mengapa saat rekrutmen keanggotaan, cenderung PMII yang membutuhkan mahasiswa? Maka jawabannya dapat dipastikan, PMII belum berkualitas, krisis eksistensi dan kekekeringan nilai (tak punya nilai tawar).

Dalam ketakberkualitasannya PMII, dalam hemat saya, harusnya para mahasiswa yang berebut PMII, bukan malah sebaliknya. Sebab “Yang berkualitas tentu dibutuhkan, bukan membutuhkan.” Begitulah kira-kira.

Pada akhirnya, Mengapa moralitas (uswah) sebagai poin utama? Sebab, “qiimatul mar i ‘ala qodri ‘ilmihi wa khuluqihi.” Harga seseorang terletak pada ilmu (intelektualitas) dan akhlaknya (moralitas).

Jelas, berPMII tak sekedar gemar memburu intelektualitas, bukan?

Maskuning Kulon, 19 April 2018

YANG TAK SEKEDAR DIPERJALANKAN

Perjalanan semestinya tak hanya sekedar menerka realitas yang tertangkap indera. Perjalanan memiliki pusat pengendali diluar kekuasaan rasio yang sangat luas dan mendalam. Barangkali berjalan termaknai sebagai yang horizontal saja, namun apalah arti sebuah perjalanan jika tak mampu merangkul seluruh ruang dan waktu (universal). Ia luas, tak mampu didefinisikan. Bisa, tapi tak semestinya pas dari definisi itu

Manusia sebagai bentuk yang paling sempurna dari bentuk ciptaan lainnya (laqod kholaqnal insana fii ahsani taqwim), tentu harus menyelami sedalam mungkin maksud dari sebuah perjalanan. Pun harus mampu memposisikan dan memfungsikan tugas-tugas yang semestinya dalam setiap perjalanan.

Agama pun sebagai jembatan dalam perjalanan realitas, memiliki sublimasi nilai-nilai keimanan yang tentu harus terus diasah serutin mungkin. Pun dengan keberimanan, perjalanan diajarkan untuk ditangkap dengan nilai-nilai agama yang diyakini. Dengan demikian, dalam perjalanan realitas, tiap agama tegas dan mengutuk keras tiap prilaku manusia yang tak berkemanusiaan (dehumanisasi). Sebab apalah arti iman dalam agama dan beragama dengan iman jika tak memahami diri sendiri serta tugas dan fungsinya.

Setiap ciptaan berkodrat sama, ingin disayang dan dikasihi. Pun butuh kenyamanan dan keamanan. Jika ketidakamanan adalah rasa yang tak menyamankan, maka berkemanusiaan adalah jelas sebuah proses menyamankan yang melahirkan kenyamanan secara otomatis.

Demikian pula soal Isro’ Nabi Muhammad dan mi’rojnya yang sangat cepat dan dianggap diluar nalar logis kebanyakan. Perjalanan yang ditempuh dimalam hari (subhanalladzi asro bi’abdihi laila…). Perjalanan bisa berarti berjalan dan diperjalankan. Semut harus menempuh ratusan bahkan ribuan hari dari Bondowoso menuju Harlah PMII di Bandung jika berjalan dengan dirinya sendiri. Tapi cukup dengan lima belas jam jika keberangkatan semut diberangkan bersama pengurus PMII Bondowoso yang hadir ke Bandung dengan Kereta Api Pasundan (Burrak). Kira-kira begitu.

Maka, Isro’ berarti diperjalankan, (Subhanalladzi Asro Bi’abdihi…) isro’ adalah perjalan horizontal. Yakni upaya pengajaran Muhammad untuk terus menyemai dan memupuk interaksi dan nilai-nilai kemanusiaan. Pun semestinya, isro’ adalah memanusiakan manusia, merangkul yang lemah, membela yang diberlakukan tak adil dan tak diskriminatif. Dalam berkehidupan yang majemuk dan variatif ini, jelas, Isro’ harus berimplikasi pada keamanan, ketenangan, dan kenyamanan dalam berinteraksi.

Sedangkan Mi’roj berarti perjalanan vertikal Muhammad. Sebuah dimensi yang bertatap muka langsung dengan sang pencipta. Artinya setiap kita dimaksudkan untuk mencengram kuat nilai ketuhanan sebagai satu-satunya pusat tujuan setiap ciptaan yang hanya dapat diraih dengan cara menunaikan perjalanan horizontal (kemanusiaan) terlebih dahulu. Irhamu man fil ardhi yarhamukum man fissama, kasihilah setiap yang dibumi, maka yang dilangit akan mengasihi.

Soal kemanusiaan, dalam perjalanan vertikalnya (mi’roj) menghadap Tuhan, Muhammad banyak dipertontonkan dengan potret heroik kemanusiaan. Diperlihatkannya prilaku manusia yang tak berkemanusiaan dengan variasi karma-karma-Nya. Semua tak lain adalah pelajaran dan peringatan. Artinya, kala itu tak sedikit manusia yang nampak jelas dengan prilaku tak berkemanusiaan. Banyak yang keluar dari yang semestinya dengan lalai terhadap kodrat dan perintah-perintah-Nya. Jelas itu semua adalah bentuk tuntunan perjalanan yang berkemanusiaan, bukan?

Dalam mi’rojnya, pun oleh-Nya diberlakukan peribadatan sholat dengan proses negosisasi berbalut rasa kasih sayang dan kepantasan. Tak hanya itu, dalam negosisasi itu pula, jelas Tuhan mengajarkan rasa kasih sayang dan memperhatikan wujud kepantasan itu tadi. Maka substansi sholat adalah wujud permohonan, harapan, berserah diri, ketakberdayaan dan kebergantungan yang tak terbantahkan dan tidak kepada selain-Nya (Laa ma’buda illaAllah). Bukan sebatas ucapan, pekerjaan, waktu, model agama dan angka-angka pencapaian.

“Fa wailul lil mushollin”, terkutuklah orang-orang yang sholat. Term ‘wailul’ (terkutuk) adalah pernyataan keras Al Qur’an bagi para pelaku sholat. Artinya ada prihal penting yang perlu diperhatikan dalam sholat. Pertanyaannya, mengapa orang sholat dikutuk?. Sebab, “Alladzina hum ‘an sholatihim saahun”. Yakni mereka yang lalai dalam sholatnya. Term ‘saahun’ (lalai) bukan berarti lalai secara literal. Misal, lupa raka’at atau syarat rukun sholat. Sebab kalau itu yang dimaksud maka penggunaan katanya adalah menggunakan ‘fii shalaatihim’, sedangkan ayat ini menggunakan ‘an shalaatihim’ yang berarti adalah sholat yang substansial, bukan sholat secara literal.

Lalu siapakah mereka yg lalai dalam sholat? “Alladzina hum yuraa’uuna wa yamna’unal ma’un”. Ialah mereka yang pamrih dan yang tak mau mendermakan kekayaan berharga yang senanginya.” Dengan demikian, bukan berarti sholat jika hanya capek bergerak dengan gaya-gaya dan mengkomat-kamitkan teks-teks suci. Pun tak hanya sebatas meningkatkan popularitas dihadapan tuhan untuk mengisi absen-absen kesaksian. Ia representasi wujud penghambaan, ketundukan, keserbalemahan dan pendermaan harta terhadap mereka yang menjerit dalam keterbatasan.

Bahkan, sholat berarti menahan dengan menerima tiap keputusan dan kebijakan tuhan (sabar). Pun dimaksudkan sebagai wujud utama saling bantu dan menopang yang lemah (Wasta’inu bisshobri wassholah). Sholat artinya perwujudan prilaku yang menyatakan secara tegas untuk tak melemahkan yang lain. Ia sebuah perintah mengikat dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan menjalin utuh ikatan persaudaraan dengan kasih-sayang tanpa membeda-bedakan. Wa ja’alnakum tsu’ubaw waqobaila lita’arofu. (QS. Al Hujurat 49:13)

Maka, perjalanan (isro’ dan mi’roj) bukan sekedar sebuah kejaiban yang harus diimani, ditakjubi, dikagetkan dan diperingati. Ia sebuah pembelajaran membuka diri. Menghapus lembaran perjalanan buruk masa lampau dan harus diganti dengan lembaran perjalanan baru yang lebih baik. Mengkonsolidir yang bercerai berai dan tak henti-hentinya mendermapantaskan diri dalam berkemanusiaan.

Memperingatinya berarti memperingati diri untuk terus melengkapi kekurangan, mengisi kekosongan hidup, serta menjauhkan diri dari prilaku tak berkemanusiaan. Sebab perjalanan (isro’ mi’roj) tak lain dan tak bukan adalah potret nilai kemanusiaan yang universal dan tak sekedar peringatan, bukan?

RSU dr. Koesnadi, 17 April 2018

DEMOKRASI TERTIMBUN

Dini hari, di negeri yang unik ini, aktifitas masyarakat pasar induk persis seperti biasanya. Tangan-tangan lincah berlomba menjajakan sayur, ikan, gorengan, kacang dan rempah-rempah dengan penuh sabar dan telaten.

Cukup beralaskan tikar yang sangat terbatas, diruang terbuka tanpa selimut dan jaket, mereka berkelahi dengan pekat derasnya rintik embun penyambut pagi. Para pedagang itu masih tetap dengan cerianya bersemangat menunggu para pembeli.

Tepat diatas keramain tempat mereka menjajakan dagangannya tertera jelas gambar-gambar para calon pemimpin dengan berbagai macam janji-janji. Lengkap dengan barisan para ilmuwan sebagai bentuk penguat dan alat peraup masa suara kemenangan.

Tentu semua adalah suatu bentuk ikhtiyar dalam berkompetisi dan memaksimalkan proses pendewasaan demokrasi negeri ini. Maka Demokrasi adalah model pemerintahan yang dilaksanakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. (Hans Kelsen) Namun Hans lebih menguraikan pengertian yang dimaksud dengan mendefinisikan demokrasi sebagai kekuasaan rakyat seutuhnya.

Jika demikian, maka otoritas rakyatlah harus dikedepankan tanpa diintervensi oleh siapapun. Biarkan mereka menentukan pilihannya, jangan bujuk mereka dengan iming-iming dan rayuan-rayuan gombal diplomatis. Jangan adu mereka dengan gagasan-gagasan akting kekurangajaran. Jangan racuni mereka dengan berbagai ujaran-ujaran simplifikasi yang kacau membingungkan. Berilah kesempatan mereka berfikir, memilih dan berekspersi sebebas mungkin.

Rakyat harus menjadi investor dan pemilik saham tertinggi di negeri ini. Bukan justru dibungkam dan dibumihanguskan dibawah gambar-gambar dan janji-janji palsu di gambar-gambar itu. Lantas sebegitu kejamkah hakikat kedaulatan di negeri ini? Haruskah mereka terus-terusan menjerit kesakitan secara tak wajar, sebagaimana matinya tikus di lumbung padi? Ah, entahlah.

Wahai para pemimpin dan para negarawan yang baik hati, cukup lah kalian mengirimkan dedengkot-dedengkot kalian untuk terus mengganggu stabilitas di negeri ini. Model apalagi yang ingin kalian hantamkan untuk membangun citra licik dan kepanikan-kepanikan? Jurus apalagi yang ingin kalian mainkan untuk memancing reaksi-reaksi di berbagai kalangan? Masihkah kalian bakal terus-terusan membutakan diri? Iyakah kalian akan terus-terusan sengaja menuli? Ataukah kalian justru bakal berlanjut membisu? Berhentilah sejenak lalu berfikir jernih dan sebijak mungkin.

Ingat, sudah saatnya bangsa ini mulai berbenah, kekacauan kolektif di negeri ini harus digeser dengan kesadaran rasa kepemilikan secara kolektif pula. Kecintaan harus terpupuk indah sedini mungkin dalam bentuk penjagaan dan pelestarian cita-cita para pendahulu. Buanglah, pendamlah ego, benci dan dendam sejauh dan sedalam mungkin. Hingga kebersatuan secara bersama-sama tak lagi goyah, bergandeng tangan sekuat mungkin hingga tak mampu lagi diotak atik dan diperalat semurah mungkin. Jangan biarkan bangsa ini tertukar dengan barang bekas murahan. Bangsa ini terlalu suci jika dicampur aduk bersama kontrak-kontrak dan jaminan-jaminan kapitalis. Sebagai bangsa yang besar, Konyol jika optimisme terus-terusan tumbang terpasung oleh konstruksi abangan koloninialis. Kedaulatan tetaplah kedaulatan. Tak boleh lusuh dan retak hanya karena faktor ketakutan-ketakutan pesimistis.

Wahai para pemimpin dan para cendikiawan negeri. Iyakah kekuasaan dan kecerdikan kalian akan terus-terusan dipakai untuk menimbun lembaran-lembaran bara di rekening rahasia itu? Tidakkah nurani kalian terbuka dan merasakan jerit tangis mereka yang terbalut sabar itu. Jika diri kalian masih ada gangguan, semoga lekas pulih sebelum penyesalan dalam keterhimpitan yang mengajak kalian kembali ke yang semestinya.

Ingatlah, tak ada hidup yang tak sirkulatif, semua naik turun. Bakal dan pasti terus berganti secara integral. Ingatlah, senang hanya sementara, maka syukurilah. Susahpun juga sekejap maka bersabarlah. Namun, apalah arti memimpin dengan status sosial tinggi jika kuasa kalian hanya dibikin sebagai pemungli, perampas, penggelap uang dan penyamar dalam paha-paha mulus dan dada-dada agung itu. Bikinlah realitas hidup sesirkulatif mungkin. Ubahlah kebiasaan menimbun dengan memanfaatkan dan memberdayakan. Keluarkan semuanya pada tempat dan sasaran yang semestinya. Berikanlah, sebab itu hak mereka. Bukan hak kalian.

Wahai penguasa dengan sejuta gelar dan jabatan, Berbagai tontonan gambar di sepanjang jalanan jelas kami terka dan masuk ke seluruh panca indera tak terkecuali. Membranding dan mengabari dunia dengan satu maksud dan kepentingan tertentu. Sementara otak kalian tak lain hanya berimpi popularitas, penghargaan dan keagungan yang tak filosofis. Pun tak substantif. Berhentilah.

Bersamaan dengan prilaku yang kalian wajar-wajarkan itu, padatnya aktifitas masyarakat dan tak stabilnya ekonomi, serta sikap ketidakdisiplinan yang masih sekarat di negeri ini, berakibat memakan banyak tempat, jalanan macet dan sering antri berdesakan. Para pengguna jalan, keburu, kepanasan, risih dan saling terganggu.

Maka lucu, di negeri yang harusnya indah ini, macet masih menjadi tontonan lazim yang selalu menarik dan tak habis untuk dibincangkan. Belum ada langkah solutif dari penguasa dan para negarawan. Sudut perkotaan kepanasan, pepohonan nyaris tak diberi ruang hidup dan dibantai. Keseharian hanya bergantung pada mesin-mesin pendingin yang menjadi satu-satunya petahana peluh di gedung-gedung menjulang pengganggu itu.

Yang konyol dari pemimpin negeri ini, ditengah diskusi pencarian solusi soal kemacetan, solusi belum lahir, ratusan bahkan ribuan kendaraan produk kapitalis dan gedung-gedung tinggi bertangga terus hadir tak terbendung, pun tak terkontrol. Pada fase ini, pemimpin negeri masih saja ribet dan ribut pada urusan kemacetan, diskusi disemarakkan untuk saling membentuk keterbukaan. Namun “maling pasti tetap lebih cerdik. Investor pun terus mencabik-cabik.” Ujar kawan saya.

Di negeri yang sangat majemuk, memukau, dan kaya energi ini, sumber daya alam tercuri, kedaulatan rakyat terampas, sumberdaya manusianya pun dilumpuhkan tiada henti. Kekayaan melimpah yang harusnya dinikmati penduduk asli, justru berbalik. “Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri.” Ujar Gus Mus dalam sepenggal puisinya.

Pada intinya, angkuh, tamak dan tak pernah puas, lupa tak pernah dibasuh dengan karakter budi pekerti. Intektualitas mendominasi, sementara emosionalitas dan spritualitas dibiarkan kering kerontang. Prilaku korupsi menyebabkan ketakutan-ketakutan dan berprilaku melawan wajar. Banguan-banguan menjulang itu pun ditegakkan melampaui batas wajar, merugikan, menggusur masyarakat bawah, bahkan membunuh. “Padahal bangsa ini paling kaya di dunia, mengapa justru jadi paling melarat, sekarang?” Ujar Gus Dur, mempertanyakan. “Sebab korupsi dibiarkan, tidak ditindak.” Lanjutnya.

Dalam sabda sucipun jelas, Dhoharol fasadu fil barri wal bahri wal bahri bima kasabat aydinnaasi liyudziqohum bakdhol ladzi ‘amiluu lallahum Yarjiun; Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (Ar Ruum: 41)

Artinya, sudah jelas dan tak perlu dipertanyakan lagi, bukan?

RSU dr. H. Koesnadi, 08 April 2018