KEDERMAWANAN PALSU

Dalam The Heart Of Man, Fromm menyatakan “Kesenangan untuk berkuasa mutlak atas diri orang lain (atau makhluk hidup lainnya) sesungguhnya adalah didorong sikap kejiwaan yang sadistik. Dengan kata lain bahwa tujuan sadisme adalah mengubah manusia menjadi benda. Mengubah yang berjiwa menjadi tak berjiwa. Karena dengan adanya pengawasn mutlak dan menyeluruh maka kehidupan kehilangan salah satu kualitasnya yang sangat mendasar yakni kebebasan”.

Tak jarang manusia mempraktekkan serangaian cinta palsu. Dengannya berimplikasi pada lahirnya simplifikasi (pengenyampingan/merendahkan). Ia menjadi fenomena realitas yang lumrah dan diwajar-wajarkan untuk membabakbelurkan manusia lain yang dianggap lawannya. Cinta palsu itu bukan cuma menjelaskan kelebihan-kelebihan tapi secara tak sadar membuka medan pertarungan yang tak akan pernah usai.

Olehnya, hilang humanisasi dalam ketidaksadaran, memancing benih pertikaian tak sehat. Cara apapun serentak diuntai untuk mensuperiorkan yang tak superior, menjunjung janji-janji idealistik palsu. Dan merusak eksistensi kemanusiaan sejati.

Tiap kecerdasan terus dipakai untuk menindas yang tak cerdas. Ikhlas yang tak perlu terucap, terdeklarasi dengan semboyan-semboyan palsu menyakitkan. Misi mencerdaskan dibuatnya seefektif mungkin dalam rangka menghemat dan memanipulasi hakikat perjuangan. Baginya tak penting mengerti atau tidak, yang terpenting tersampaikan. Misi-misi (berkedok cinta palsu) itu melahirkan pertikaian keras, miris menakutkan. Implikasipun muncul sebagai lahirnya penindasan dan ketertindasan berpayung perjuangan-perjuangan itu.

Perjuangan sebagai suatu yang fitrah, pun menjadi alat berteduhnya penindasan dan penindasnya. Sebab itu, muncul gejala-gejala baru sebagai garis kesadaran perjuangan kaum tertindas. Kaum tertindas yang merasa prihatin dengan kehumanisannya, membawanya pada pengakuan terhadap adanya masalah dehumanisasi. Tak cuma sebagai sebuah kemungkinan ontologis tetapi sebagai sebuah realitas sejarah.

Kesadaran akan meluasnya gejala dehumanisasi itu, melahirkan pertanyaan-pertanyaan, apakah humanisasi masih merupakan sebuah kemungkinan yang bisa dipertahankan. Dalam konteks kongkret dan objektif, humanisasi dan dehumanisasi adalah dua kemungkinan yang tersedia bagi manusia untuk menyadari ketidaksempurnaannya. 

Namun, sepanjang humanisasi ataupun dehumanisasi merupakan pilihan-pilihan nyata, humanisasi itulah yang merupakan fitrah manusia. Dalam frame ini, humanisasi menjadi titik tekan yang selalu diingkari. Dipungkiri melalui perlakuan tak adil, pemerasan, penindasan, dan kekejaman kaum penindas.

Implikasinya, dehumanisasi tak hanya bermuara pada mereka yang telah dirampas kemanusiaannya, tapi juga meraka yang merampas adalah sebuah penyimpangan fitrah untuk menjadi manusia sejati. Penyimpangan itu terus terjadi sepanjang sejarah, namun bukan fitrah sejarah. Sebab, mengakui dehumanisasi sebagai suatu fitrah sejarah akan membawa pada suatu sinisme atau sikap putus asa menyeluruh.

Oleh karena hal itu merupakan suatu penyimpangan dari usaha untuk menjadi lebih manusiawi, maka cepat atau lambat keadaan yang kurang manusiawi itu akan mendorong kaum tertindas untuk berjuang menentang prilaku penindasnya. Dan ruang ini merupakan tugas kesejarahan dan kemanusiaan terbesar bagi kaum tertindas.

Sebab kaum penindas yang menindas, memeras, dan memperkosa melalui kekuasaannya, tidak dapat menemukan dalam kekuasaannya itu kekuatan untuk membebaskan kaum tertindas dan diri mereka sendiri. Berbagai usaha “memperlunak” kekuasaan kaum penindas dengan alasan untuk lebih menghormati kelemahan kaum tertindas hampir selamanya mewujudkan diri dalam kemurahan hati palsu; usaha itu tak pernah lebih dari ini. Hanya kekuasaan yang bersemi dari kaum tertindaslah yang cukup kuat untuk membebaskan keduanya.

Demi keberlangsungan pameran “kemurahan hati” mereka itulah, maka kaum penindas juga mau tak mau harus mengelakkan ketidakadilan. Suatu tatanan sosial yang tak adil merupakan alasan yang harus ada dan dijadikan mata-gelap atas kemurahan hati palsu yang dibayangi maut, keputusasaan, dan kemelaratan.

Demikian, kaum tertindas perlu langkah kongkrit untuk kebebasan dan melepas citra diri kaum penindas. Ia harus menolak citra diri itu dan menggantinya dengan perasaan bebas (otonomi) serta tanggung jawab.

Dalam bukunya, “pendidikan kaum tertindas” Paulo friere menyerukan, “kebebasan bukanlah sebuah impian yang berada diluar manusia; bukan pula sebuah gagasan yang kemudian jadi mitos. Ia memang merupakan keniscayaan dalam rangka mencapai kesempurnaan manusiawi.” Maka, kebebasan harus diperjuangkan dan direbut dengan keteguhan hati, bukan semata dihadiahkan. 

Agar perjuangan itu bermakna, dalam merebut kebebasan dan mengembalikan kemanusiaan itu, kaum tertindas tak wajar jika berbalik menjadi penindas kaum penindas, harusnya ditekan pada memulihkan kembali kemanusiaan keduanya.

Mengapa demikian, sebab realitas sosial yang objektif mengada bukan karena kebetulan, tapi lahir dari tindakan manusia. Maka, ia tak dapat diubah dengan cara kebetulan pula. Jika manusia membentuk realitas sosial (dimana “hasil praksis” berbalik kepada manusia dan mengkondisikan mereka), maka mengubah realitas itu adalah tugas kesejarahan, tugas bagi manusia.

Maka jelas benar yang dijelaskan Karl Marx, “Doktrin kaum materialis (penindas) bahwa manusia adalah hasil dari lingkungan dan pendidikannya, dan bahwa, karena itu, manusia yang berubah adalah hasil dari lingkungan yang berbeda dan pendidikan yang diubah, melupakan bahwa manusialah yang mengubah lingkungan dan bahwa pendidikan itu sendiri membutuhkan pendidikan”. (Selected works, lawrence and wishart, 1965)

Selaras dengan teks suci, “Innallaha laa yughayyiruu maa biqoumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim” Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga ia merubah dengan diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’du. 11)

Lebih dari sekedar itu, kaum tertindas harus dibekali pendidikan yang dijiwai oleh kedermawanan sejati, kemurahan hati humanis (bukan humanitarian) menampikan diri sebagai pendidik bagi seluruh umat manusia. Sebab jika pendidikan dimulai dengan kepentingan egoistis kaum penindas (egoisme dengan baju kedermawanan palsu dari paternalisme) dan menjadikan kaum tertindas sebagai objek dari humanitarianisme mereka, justeru mempertahankan dan akan terus menjelmakan penindasan tak berjangka.

Menyakitkan, bukan?

Kalibaru, 26 Januari 2018

POLITIK NYAI SURTI

Akibat sok sibuk, sekitar sebulan lebih aku tak sowan ke nyai Surti.

Di Banyuwangi, sore hari kemaren, spontan nyai Surti datang dan mengutukku lewat mimpi. “Manusia macam apa kau ini, kotamu lagi kesakitan, malah kau enak lelap di kota orang” bentak nyai surti di mimpi itu.

Aku terbangun kaget. Pusing, bingung tak karuan.

Aduh, guruku memanggil” besitku merunduk menyimpukan.

Keesokannya, aku pun menyegerakan pulang menuju Bondowoso. Ditemani deras runtuhan halus embun, perjalananku terselimuti dingin sejuk menenangkan. Dalam kesejukan itu, kudapati gambar-gambar terpampang ramai melintang di sepanjang ruas jalan dengan berbagai motif dan farian. Ada yang merelegiuskan, meramhkan, bahkan ada yang berisi pesan dengan maksud sok meluruskan yang tak lurus. Menawarkan untaian, menyajikan hidangan serta menjanjikan keindahan-keindahan.

Riang gembira kerumunan kera-kera di sepanjang jalan hutan Baluran, pun memandangiku sembari tersenyum bak menyambutku saat melintasi jalan-jalan aspal bergelombang itu.  Andai kera itu anoman dalam serial legenda kuno, pasti kera-kera itu berteriak, “Hati-hati!, disini jalannya rusak dan bergelombang bro!” Bisikku pada kawan saya yang nyetir.

Kembali ke prihal mimpiku, tanpa ngelayap kemana-mana, akupun langsung menuju ke kediaman nyai Surti. Pagi itu mendung, berkabut, hitam pekat.

Dipertigaan tak jauh dari rumah nyai Surti, kudapati nyai Surti sedang bermain-main dengan burung kakak tua peliharaannya, namanya Kikuk.

Perlahan dan penuh kehati-hatian, kulangkahkan kaki menghampiri nyai Surti. Sejauh suara terdengar, sembari meletakkan tangannya di dahi, nyai Surti memandangiku penuh tatap.

“Dari mana, mas?” Sapa nyai surti, dengan nada lebut sembari bercanda ria dengan si Kikuk.

Alhamdulillah, pagi ini sepertinya aku tak akan dimarahi.” simpulku dalam pikiran.

“Dari Banyuwangi, nyai.” jawabku, sungkem.

Monggo, masuk mas!.” Ajak nyai Surti.

Enggeh siap, nyai.” Sahutku.

Diruang tamu, suasana tetap seperti biasanya, mistis, seram menakutkan.

Ngapain ke Banyuwangi, mas?” Tanya nyai Surti, sembari membakar kemenyan.

“Ikut kegiatan workshop literasi, nyai.” Jawabku.

“Kegiatan macam apalagi itu?, kamu ini terlalu sibuk soal begituan, padahal sekitarmu lagi sakit dan pada sibuk membodohi dengan pembangunan citra-citra.” Nyai surti, mulai meninggi.

“Maksudnya, nyai?” Aku mulai tak jelas.

“Masih saja kau akrab dengan tololmu itu!” Bentak nyai surti.

Aduh, ampun, nyai.” Responku, sungkem.

” Jean Baudrillard (Madzhab Frank froud, Jerman) Menyatakan, saat ini manusia tak lain hanya Symulacra, artinya manusia dibentuk oleh Citra, media, dan ruang-ruang hampa. Perjumpaan sudah terenggankan, dianggap tidak begitu penting, bahkan sama sekali tak penting. Persoalan apapun, kecil atau besar tak perlu lagi diselesaikan dengan pertemuan. Pun membikin persoalan, saat ini sudah sangat mudah sekali.” Sahut nyai surti.

“Lalu, nyai?” Aku semakin bingung.

“Ah, makin goblok aja kamu!” Nyai Surti menggebrak meja ukirnya.

“Oleh Jean Baudrillard, Manusia tak lagi dipandang masyarakat, tapi kerumunan (bukan ivindividulis). Sebab dirinya sudah terkerumuni, terkontaminasi dan dikuasai. Mereka bukan lagi mereka sendiri.” Jelas nyai Surti dengan suara menggema.

“Apa seperti gambar-gambar yang berjejeran di sepanjang jalanan itu, nyai?” Tanyaku, mengait-ngaitkan.

Nah, itu kamu mulai nyambung. Olehnya, manusia mulai kehilangan sosiologikal, eksistensi, integritas. Seolah kemapanan terwakilkan oleh gambar-gambar itu. Padahal kemapanan dapat diraih tak segampang pampangan-pampangan itu, pun tak secepat doa-doa dalam film senetron. Itu tak lain hanya fatwa-fatwa bisu yang mati.” Terang Nyai surti.

“Bukankah, tampak fisik bagian dari representasi substansinya, nyai? bahkan banyak tersisip ayat-ayat qur’an loh di gambar itu.” Sahutku, nakal.

Astaghfirullah, begituan itu yang membuatmu makin tolol.” Bentak nyai Surti menggebrak meja.

“Aduh, kena lagi, Ampun, nyai?” Jawabku, Keblinger.

“Ayat-ayat quran terlalu suci jika dipakai begituan dan dibenturkan dengan ilmu pengetahuan, apalagi memakainya dalam rangka simplifikasi (merendahkan/mengenyampingkan) realitas lainnya. Bukankah begituan itu yang justru jelas-jelas merendahkan kesucian (ayat-ayat)-Nya?” Nyai Surti, melotot tak terkontrol.

Ampun, nyai. Lalu apa yang harus aku perbaiki, nyai?” Tanyaku.

Afdholul ‘ilmi ilmul hal, wa afdholul ‘amali hifdzul hal, (Utamanya ilmu itu prilaku, utamanya pekerjaan menjanga prilaku itu) kata syekh Azzarnuji dalam kitab klasiknya (Ta’limul muta’allim). Jadi, tafsir-tafsir dan prilakumu itu perlu di-rekonstruksi ulang. Bilas sebersih mungkin kotoran-kotoran didirimu itu. Jaga, kemudian berprilakulah sebaik mungkin dan berbuatlah yang semestinya.” Nyai surti menggumam.

Enggeh, siap, nyai. Berarti gambar-gambar itu jahat sekali ya, nyai? Bukankah dalam politik hal itu tak jarang dijumpai bahkan dianggap wajar?” Lanjutku, semakin mendalami.

“Pikiranmu itu yang jahat, goblok!. Bagaimana kau mampu memahami sesuatu kejahatan, sementara kejahatan didirimu saja tak kau sadari. Apalagi kau hanya berdasar pada anggapan-anggapan itu. Dasar goblok!” Nyai surti semakin ganas.

Sendiko dawuh, nyai.” Aku, sungkem.

Haduh, begini mas, Dalam politik, gambar gambar itu memang sengaja dibangun kekuatan sajak, untaian, mantra-mantra sakti dalam rangka simplifiakasi itu tadi. Sebab misi politik adalah menguasai. Semua, apapun itu pasti dipolitisir. Ditindihlah lawan-lawannya, dibuatnya babak belur. Bukankah, banyak kita jumpai, sebab gambar, para tuan-tuan itu saling kunci-mengunci, saling potong memotong, bahkan saling menjatuhkan sebelum masuk ring pertarungan?” Terang nyai Surti, meyakinkan.

Enggeh, nyai. Kira-kira apa yang harus saya lakukan terhadap masyarakat, nyai?” Tanyaku, bersemangat.

“Lebih dulu tanya dirimu sendiri! Lalu terus edukasi dirimu dan sekitarmu. Masyarakat kita pemilih irrasional, bukan rasional. Mereka dikelabuhi. Pikiran mereka dihipnotis, dibius, dikuasai bahkan dibantai. Tak ubahnya mereka dibuat layaknya sebuah serial sinetron yang selalu memberikan kejutan-kejutan spontan, cepat dan seajaib mungkin.” Tutup nyai surti.

Waduh, Sulit dan berat sekali rasanya, nyai?” Responku, mengeluh ragu.

“Berat, jika tak kau lakukan, tolol!. Bukankah, tuhanmu telah menyeru untuk selalu berbuat bersama-sama dan berkompetisi dalam kebaikan? Wa likulli wijhatin huwa muwalliha fastabiqul khoirot, ainama kanu yakti bikumullahi jami’an innallaha ‘ala kulli syai’in qodir. (Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al Baqarah: 148). Jelas, bukan?” Nyai surti, ngelu.

“Enggeh, sampun jelas, nyai.” Jawabku.

Dasar tolol. Sana pulang! Masih terlalu banyak halaman-halaman yang belum kau buka dalam kitab-kitabmu, lebih-lebih kitab yang didalam dirimu.” Nyai surti sambil mengibaskan telapak tangan tepat di depan tatapanku.

Ampun, nyai.” Sahutku.

Akupun salaman, nyai Surti berbisik, “Ingat…! Politik itu main-main tapi serius, mas. Jadi jangan mau dibuat ribet oleh politik, kata Gusdur.” Hwakakakakak, nyai surti ketawa terbatuk-batuk.

Dengan langkan kaki mundur, aku pamit pulang. Aroma kemenyan nyai Surti masih kuat tercium seolah masuk menyusup sambil menyaksikan kepulanganku.

Tenggarang, 16 Januari 2018

KANG SUWALIK

Di Taman Sritanjung, aku dan kawanku sepakat ketemu. Namanya Kirun. Dia mahasiwa kolot yang tak begitu lincah tapi unik tak kaprah. Saking tak kaprahnya, seolah hidupnya ingin ia habiskan tak lain hanya untuk berkeliaran dan selalu membabibuta soal pengetahuan. Intinya, Kirun adalah sosok yang diluar kebiasaan. Dimana ada ilmu, disitu ada kirun.

Tak lama berselang, Kirun datang. Kita mulai bincang-bincang ringan. 

“Kring… kring… kring…”, telpon kuper Kirun berbunyi.

“Halo, halo.” Kirun mejawab panggilan telponnya.

“Siap, siap. Saya kesana kang.” Kirun, kebingungan.

Dari telpon itu, kudapati suara lelaki tua yang entah siapa, saya juga tidak tahu.

“Ayo kang, ikut saya.” Ajak kirun, fokus ke telponnya.

“Kemana kang? Pasti urusan ilmu-ilmu baru ya?” Tanyaku, menebak.

Ayolah kang, ada dah, ikut aja.” respon Kirun, merahasiakan.

Diperjalanan, otakku masih penuh dengan pertanyaan dan penasaran. Sebab teman yang satu ini memang kebiasaannya begitu. Suka merahasiakan. Kalau tidak begitu, ajakan itu hukumnya dianggap tak sah.

Sekitar lima belas menit-an, sampailah aku dan Kirun ke salah satu kompleks perumahan, tempat dimana orang yang didalam telpon Kirun tadi bermukim. 

“Assalamualaikum” ucap Kirun. 

Aku yang berposisi dibelakang Kirun, Kulihati sosok lelaki tua sekitar umur 60-an duduk di kursi kuno tepat di ruang tamu.

“Wa’alaikum salam, silahkan masuk mas.” kata lelaki tua itu.

“Disini rumahnya kang Suwalik, kang. Salah satu tokoh sejarawan Banyuwangi.” bisik Kirun.

Oh, siap siap, kang.” jawabku, masih kebingungan.

Namanya bingung, kupandangi hiasan ruang tamu itu. Ternyata banyak sekali gambar-gambar kuno para kiyai sepuh dan salah satunya tokoh idolaku, Gusdur. Yang jelas rumah itu tak sama dengan rumah-rumah pada umumnya. Mistis dan sedikit seram.

Smean dari mana, mas?” tanya kang Suwalik.

“Saya dari Bondowoso, kang.” Jawabku, sungkem.

Oh… Bondowoso. Bondowoso itu dulu nama asalnya Sentong. Diambil dari nama sisa masyarakat using di daerah Blindungan sana. Kalau Situbondo nama asalnya Patoan. Kalau Probolinggo, Banger.” jelas kang Suwalik, spontan.

Aduh, malah baru tahu sekarang saya kang.” responku.

“Makanya baca!, sekarang banyak sekali nilai peradaban sejarah yang hilang. Ya disebabkan lemah membaca dan menulis itu.” saran kang Suwalik, dengan nada tinggi.

Ampun, kang. Memang saya akui dan saya rasakan itu kang.” jawabku, minder.

“Bahkan, asal smean tau, dalam kitab Musahrar (diajarkan oleh Syeh Samsu Ali Zain, guru Sri Aji Joyoboyo, raja terbesar di Kediri) dijelaskan, pada masa Blambangan purba, peradaban Hindu Budha pertama kali di tanah jawa bertempat di Bondowoso. Tepatnya di gunung Hiyang Argopuro sana. Nama pembawanya Aji Saka dari India. Aji saka dikenal sebagai Hero Culture (Pahlawan Budaya) sebab ia-lah yang pertama kali mengajari masyarakat tentang aksara dan baca tulis. Pernah dengar?” tanya kang Suwalik.

Aduh, baru kali ini, kang” jawabku, menggerutu.

Piye awakmu iku mas, mas. Makanya tugas pemuda itu merawat itu semua. Caranya, baca, baca, dan baca. Jangan hanya sibuk ngurusi hal-hal yang tak begitu penting!” Kang suwalik, mengerutkan dahi.

“Ada lagi yang menarik soal Bondowoso, Samean percaya enggak, kalau Bondowoso pernah menjadi ibu kota negara Jawa timur?” 

“Enggak, kang.” jawabku, sambil mikir.

“Dibawah pimpinan presiden Ahmad Kusumo Negoro (Mantan bupati Banyuwangi), Bondowoso pernah menjadi Ibu kota negara Jawa timur, mas (1948). Ini sejarah, jangan sampai hilang, harus tahu! Paham? Nanti-lah, kita buat forum di Bondowoso ya. Kita diskusi disana. Mengapa? Jawabanku sederhana. Bagaimana samean mau mencintai, kenal aja, tidak.” lanjut kang Suwalik.

Aduh, Enggeh, enggeh. Siap, kang.” Responku, malu.

Ngobrol singkat soal Bondowoso, kang Suwalik semakin mengajak saya untuk lebih mendalami soal kebudayaan.

“Sebab begini mas, suatu ketika ada salah satu tuan di Banyuwangi, saya tanya. Manakah yang harus lebih diutamakan antara kesehatan dan kebudayaan? Kata saya. Si tuan itu malah jawab kesehatan, dengan berbagai rasionalisasi konyolnya. Ini kan jawaban yang menyakitkan.” Kata kang Suwalik.

Lah, kenapa begitu kang? Bukankah emang kesehatan memang harus diutamakan? Tanyaku, mendukung pendapat si tuan tadi.

“Samean ini lagi, yang konyol. Kebudayaan lah yang harus diutamakan, mas. Mengapa? Kesehatan itu bagian dari kebudayaan. Sebab secara definitif, kebudayaan adalah, cara berfikir dan hasil dari cara berfikir. Bukankah kesehatan itu hasil dari cara berfikir manusia?” suara kang suwalik semakin meninggi.

Oalah… enggeh enggeh, siap. Saya faham kang.” Jawabku, sambil terus merasionalkan.

“Aspek budaya itu ada tujuh mas. Pengetahuan, Tekhnologi, Mata pencaharian (sistem ekonomi), Sistem sosial (organisasi, paguyuban, dll), Bahasa, Kesenian dan religi (kepercayaan). Agama termasuk dalam religi yang diformalkan.” jabar kang Suwalik.

Aduh, serius saya baru dengar sekarang kang. Ini tidak ada di mata pelajaran SD dulu kang.” Kataku, sok tau.

Ndasmu yang gak ada! Saya ngajar itu di SD kelas tiga. Makanya baca! Negaramu yang kaya ini dirawat! Dijaga!” Bentak kang Suwalik.

Ampun, kang. Kalau begitu, berarti kaya betul negara kita ini ya?” Tanyaku, semakin meyakinkan.

“Kenapa kau masih tanya, dasar! Begini mas, Brandes, salah satu peneliti dari belanda menemukan sepuluh kecakapan lokal jenius (The Ten Poin Brandes) di bumi Indonesia ini. Yaitu Gamelan, Batik, Metrum (tembang), Mata uang, Ngecor logam (pembuatan pasaka, keris, dll.), Navigasi, Pertanian, Perbintangan (falaq) dan Pemerintahan dengan sistem sosial. Jelas dan lengkap, bukan?” kang Suwalik, lesu.

Hem… iya, iya kang. Sudah saya catat kang.” Jawabku.

“Makanya leluhur kita dulu sering menembangkan kalimat “Nang-Ning-Nung”, jangan kira itu tak filosofis.” Tutur kang Suwalik.

Emang ada filosofinya kang? Aku semakin penasaran.

Ya jelas ada lah, tiga kalimat itu prinsip hidup leluhur kita. Nang berarti tenang, Ning berarti hening, Nung nerarti renung. Jadi, soal dasar hidup, leluhur kita telah mengajarkan untuk saling menenangkan, mengheningkan dan selalu merenungkan setiap apa yang dilakukan dan yang akan dilakukan sebagai wujud penambah rasa syukur dan kehati-hatian.” kang Suwalik mulai lemas.

Oalah… hahahaha. Keren ya kang? Unik luar biasa.” Responku, terbahak-bahak. 

Ya sudah, sampai ketemu kembali ya, besok pagi saya masih harus ngajar.” Tutup kang Suwalik.

Enggeh siap, siap. Terimakasih banyak kang.” Aku dan Kirun berdiri sembari pamit pulang.

Di perjalanan pulang, kulihat Kirun kecapean. Jalanan sepi tak satupun kulihat kendaraan melintas. Artinya tak mungkin aku melanjutkan misi selanjutnya (Mancing). 

Diatas sepeda, ku bisiki si Kirun. “Sebelum balik ke Bondowoso, besok malam kita mancing dulu ya.”

“Oke siap, kang. Apa sih yang enggak buat kamu” jawab kirun, sok romantisHwakakakakakak.

Hingga sampai ke kontrakan, kalimat Nang-Ning-Nung masih mewarnai kebersamaan kita.

Ajung, 10 Januari 2018


PETUAH NYAI PELOR

Seperti biasa, setiap aku ke Jember, kurang lengkap rasanya jika belum mampir di warung nasi jagung tak jauh dari kampus IAIN, nama pemiliknya, nyai Pelor. Nama unik dan mengundang banyak pertanyaan. Termasuk saya. Dan ternyata, nama itu memang misterius sampai sekarang.

Sajian nasi jagung dengan kuah pecel yang super nikmat serta porsinya yang sangat besar, tak heran jika warung nyai Pelor tak pernah sepi dari pengunjung. Wa bil khusus saya.

Di warung yang sangat super sederhana bertebing bambu itu, sambil menikmati hasil kreatif tangan nyai Pelor, aku bersama kawanku memulai percakapan. Namanya Dul Latip.

“Kenapa kau sudah tak semangat menulis lagi, kang? Tanyaku. 

Dul Latip yang merupakan wartawan media regional ini pun menjawab dengan penuh lesu. “Jangankan menulis, hidup aja sudah mulai tak bersemangat” jawabnya, tak bersemangat.

“Kok bisa begitu?” Responku, sambil ketawa. Sebab tak biasanya Dul Latip ngomong begitu. Ia biasanya santai tak berbeban.

“Entahlah, hidup ini seolah tak ada perubahan, adanya cuma dosa yang terus bertambah” jawabnya, sambil merenung.

“Hahahaha… iya juga ya…” responku.

Mendengar percakapanku dengan Dul Latip, nyai Pelor menyambung, “begini nak, hidup ini sejatinya adalah berbuat sesuatu, bukan sekedar berbekal nyawa, hidup dan makan.” Lontar nyai Pelor.

“Lalu, nyai?” Dul Latip kaget.

“Ketika kita tak berbuat sesuatu, ngapain hidup? Bukankah tuhan-Mu telah menyeru untuk berbuat baik. “Alladzi kholaqol mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala” Dia lah dzat yang menciptakan kematian dan kehidupan dengan tujuan menguji kalian , siapakah yang terbaik amalnya. (QS. Al Mulk: 2)

“Lalu siapa yang terbaik amalnya, nyai?” Tanya Dul Latip semakin penasaran.

“Yang terbaik amalnya, mereka yang paling Ikhlas (murni) dan yang paling tepat, kata Fudhoil bin Iyadh.” Lanjut nyai Pelor.

“Paling Ikhlas dan Tepat, maksud nyai?” Dul Latip makin bingung tak karuan.

“Begini, setiap amal yang Ikhlas (murni) tapi tidak tepat (tidak sesuai) maka tidak diterima. Pun jika tepat (sesuai) tapi tidak Ikhlas (murni) maka juga tidak diterima. Semua harus semata-mata untuk-Nya. Sebab Ikhlas adalah semata-mata untuk Tuhan dan Tepat (sesuai) itu adalah sesuai Sunnah. (Madarijus Salikin : II / 89), faham?” Jelas Nyai Pelor, sembari melayani puluhan pelanggan.

“Berarti kita ini masih jauh sekali dari begituan, ya nyai?”

“Pertanyaanmu yang jauh. Simpulkan sendiri! Jangan tanya aku, goblok.” Sentak nyai pelor.

Adduh, ampun, nyai” Dul Latip ketakutan.

“Dalam ayat suci ada sabda begini, “Faman kaana yarju liqona robbihi falya’mal ’amalan sholihan wala yusyrik bi’ibadati robbihi ahadan.” Oleh karena itu barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabb nya hendaklah ia beramal dgn amal sholeh dan jangalah ia mempersekutukan siapapun juga dalam beribadah kepada-Nya.” (QS.18: 110)

Oh, siap siap, nyai.” Dul Latip, lemas.

“Dalam tafsir Ibnu Katsir, beramal berarti amal yg sesuai syariat-Nya, yaitu amal yang tujuannya hanya kepada-Nya , tdk ada sekutu bagi-Nya dan kedua hal ini adalah rukun diterimanya amal. Jadi, sekali lagi, amal itu harus Ikhlas (murni) untuk-Nya dan Tepat sesuai dgn Syariat Rasul-Nya.” (Umdatut tafsir: II / 496). 

Eggeh, siap siap, nyai.” 

“Jangan berbuat seperti yang dilakukan oleh mereka yang suka riya dan yang bertujuan mencari pujian dan kedudukan.” Kata Jamaludin Qosmi.” (Tafsir Al Qosmi: VII / 86). Nyai pelor mengelus dahinya.

“Lalu bagaimana kita mengetahui Ikhlas, Riya dan Syirik dalam diri kita, nyai? Dul Latip, melanjutkan.

“Tafsir diatas jelaslah kan, nak. Riya dan syirik adalah lawan dari Ikhlas yang jelas-jelas merusak amal sholeh dan do’a kita. Begini, Fudhoil bin Iyadh juga menjelaskan, tinggalkan amal karena manusia, sebab begitu itu telah menyekutukannya. Sementara untuk Ikhlas, bebaskan dirimu dari keduanya (Riya dan Syirik). (At Tibyan: 28), Jelas, kan?”  Tutup nyai Pelor sembari menutup warungnya.

“Siap siap, jelas, nyai”. Dul Latip kapok.

Diiringi lagu “kolam susu” karya Koes Plus, tahun tujuh puluhan, Aku dan Dul Latip keluar. Hingga ke kontrakan, hujan lebat melanda tak berkesudahan.

Kalibaru, 07 Januari 2018

YANG MISTERIUS

Manusia menutup mata ketika tidur, ketika menangis, dan ketika membayangkan sesuatu, apapun itu. Mengapa?, “sebab hal terindah di dunia ini tidak terlihat dan tak mungkin bisa utuh ia lihat.” Kata kawan saya.

Keidakmampuan dalam mencari dan kebekuan imajinasi yang serba takut, terbatas dan dibatasi, menjadikan situasi seolah tak memihak dan sama sekali tak mendukung. Maka realitas yang disalahkan, dihujat dan dibantai habis habisan. Oleh akal, diperangilah semua keterbatasan-keterbatasan itu dengan yang serba terbatas pula. Akibatnya, manusia sering melakukan tindakan-tindakan kurang ajar dan diluar nalar, akibatnya fatal.

Dalam suatu ikatan, misal. Saat menemukan realitas (seseorang) yang kita ikat untuk menyatu bersama kita, muncul angan untuk bagaimana kita tak melepasnya dan realitas itu harus tidak kita tinggalkan. Tentu hal semacam ini membuat runyam.

Tapi ingat, hidup dalam “antara melepaskan dan mempertahankan” akan menjadikan manusia hidup dalam fase panjang ketersiksaan yang menyakitkan, bukan? Iya, sebab memelihara kontrol hati secara terbuka dan penerimaan yang relaistis harus kokoh dan teruji. Maka keputusan harus dibarengi dengan mempersiapkan secara kokoh kosekuensi-kosekuensi logisnya.

“Sebab melepaskan bukan akhir dari dunia. Melainakan ia suatu awal kehidupan baru yang harus diarsipkan sebagai acuan menuju kehidupan-kehidupan selajutnya.” Kata kawan saya tadi. Mengapa? Sebab terlalu banyak sisi nilai yang harus lebih dipotret dan diakomodir sebagai panduan utama, dari pada terlalu sibuk fokus pada frame “melepaskan”.

Dalam sabda suci, Nabi menyatakan, “Ittaqullaha haitsuma kunta wa atbi’issayyiatal hasanata tamhuha, wa khuluqinnasa bikhuluqin hasanin.” Takutlah kalian kepada Allah dimanapun kalian berada, dan ikutilah perbuatan-perbuatan burukmu dengan perbuatan baik, niscaya dapat menghapusnya, dan berakhlaqlah pada manusia dengan akhlaq yang baik. (HR. At Tirmidzi)

Bukankah, bergaul secara baik dengan realitas jauh lebih berharga dan membahagiakan dari pada membiarkan diri terjeruji oleh ketakutan dan kesakitan-kesakitan?, Bukankah mereka para pencari dan pencoba realitas adalah mereka yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang pernah menyentuh kehidupan mereka? Entahlah.

Bagi saya, perlu melatih diri dan membiasakannya dalam bersikap. Sikap yang tepat ketika kita takut, sakit dan menitihkan air mata adalah melahirkan kepeduli dan tak perlu reaksioner terhadap  penyebab realitas dan pelakunya. Pun ketika realitas tak memperdulikan, sementara kita masih setia menunggunya. Bahkan, ketika realitas mulai menghampiri yang lain dan kita masih bisa tersenyum dan berkata; “Aku turut berbahagia untuknya.”

Dalam potongan puisi Khalil Gibran ada pesan begini, “Jika realitas tidak membebaskan dirimu, biarkan hatimu kembali ke alam bebas yang semestinya. Tapi jika relitas itu mati, janganlah kamu ikut-ikutan mati bersama realitas itu.”

Artinya, kebahagia sejati bukan semata milik mereka yang selalu mendapatkan keinginan. Tapi milik mereka yang selalu bangkit ketika jatuh.Teruslah Belajar banyak tentang diri sendiri. Hingga tak dijumpai penyesalan yang selalu mengkungkung.

Ingat! Setiap realitas itu akan tetap utuh dihatinya sebagai prasati abadi atas pilihan-pilihan hidup yang telah kalian buat. Sebab, sejatinya berikatan dengan realitas berarti membuka pintu meski kita belum mengetuk dan belum berkata, “bolehkah saya masuk”?

Satu lagi, Mengikat realitas bukan bagaimana melupakan ketika berbuat kesalahan, melainakan memaklumi dan memaafkan. Bukan pula bagaimana mendengarkan, melainkan bagaimana mengerti. Bukan hanya sebatas yang terlihat, melainkan setiap apa yang dirasa.

Sebab akan tiba masa dimana kita akan berhenti untuk mengikat relaitas itu, bukan karena ia berhenti untuk mengikat kita, melainkan kita harus menyadari bahwa ia akan lebih bahagia ketika kita melepaskan tanpa harus sibuk menciptakan rambu-rambu pembatas.

Yakinlah, kadang kala realitas yang benar-benar berikatan kuat denganmu adalah ia yang belum pernah menyatakan “ikat aku, dalam sejuk damaimu.”

Pejaten, 02 Januari 2018

TASYABBUH

“Man Tasyabbaha bi qoumin fahuwa minhum.” Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR Abu Daud dan Ahmad).

Hanya dengan satu hadits ini, banyak ustadz yang lantang mengharamkan hampir semua aspek kehidupan kita saat ini. Bagaimana cara kita memahami hadits ini dalam tinjauan ilmu hadits, sejarah, politik dan budaya?

Berbeda dengan imajinasi pihak tertentu, dari mulai Prof. Samuel Huntington sampai Emak-emak yang hobi main medsos, yang membayangkan terjadinya benturan budaya, sesungguhnya peradaban manusia dibangun lewat perjumpaan dan percampuran berbagai budaya di dunia ini. Dari mulai bahasa, pakaian, makanan, karya seni, teknologi sampai olahraga terdapat titik-titik kesamaan yang kemudian bila dilacak ke belakang kita akan kesukaran menentukan identitas asli tradisi tersebut.

Misal kita makan menggunakan sumpit, bukankah itu merupakan tradisi china? Lantas dengan makan menggunakan sumpit akan mengubah akidah kita dalam beragama? Bukankah itu hanya merupakan budaya?

Sudah lah, saya beri satu contoh lagi, sebelum kita masuki contoh yang kontroversial. Sepak bola, misal. Sepak bola modern berasal dari Inggris. Paling tidak itu kata kawan saya yang penggemar berat Manchester United. Tapi ternyata olahraga ini punya sejarah panjang dari mulai permainan cuju di Cina, sampai permainan epyskiros di Yunani.

Dan kini setiap menyebut sepak bola, dunia tidak lagi mengingat pemain Inggris, Cina atau Yunani, tetapi Messi dari Argentina dan Ronaldo dari Portugal (keduanya bermain di Liga Spanyol). Dan saya menduga baik Messi maupun Ronaldo juga tidak keberatan makan dengan sumpit.

Nah, bisakah hanya gara-gara makan dengan sumpit atau menjadi penggemar bola, Anda kemudian dianggap bagian dari mereka? Kata “Mereka” itu siapa? Itu saja tidak jelas. Sebab untuk sampai kepada “mereka”, perjalanan sumpit dan sepak bola itu panjang melintasi berbagai lintas benua dan samudera.

Tapi bukankah kalian sebagai orang Jawa, Sunda, Bugis atau Ambon kalian tetap tidak merasa kehilangan kejawaan, kesundaan, kebugisan atau keambonan kalian hanya karena makan mie pangsit dengan sumpit atau mengoleksi berbagai atribut Real Madrid atau  Barcelona?

Lantas apa kira-kira maksud hadits di atas? Mengenai persoalan politik identitas ada yang menarik untuk disampaikan, begini;

Pada masa Nabi Muhammad hidup lima belas abad yang lampau, identitas keislaman menjadi sesuatu yang sangat penting. Tapi bagaimana membedakan antara Muslim dengan non-Muslim kala itu? Bukankah mereka sama-sama orang Arab yang punya tradisi yang sama, bahasa yang sama bahkan juga berpakaian yang sama? Untuk komunitas yang baru berkembang, identitas pembeda lah yang menjadi loyalitas penentu.

Pernah pada suatu waktu, orang kafir menyatakan masuk Islam di pagi hari, kemudian duduk berkumpul bersama-sama komunitas membincangkan strategi dakwah, tapi di sore hari orang itu menyatakan dia kembali kafir lagi. Maka, murkalah Nabi. Tindakan itu dianggap sebuah pengkhianatan terhadap loyalitas komunal. Di sini muncullah hukuman mati terhadap orang murtad, yang di abad modern ini mirip dengan hukuman terhadap pengkhianat dan pembocor rahasia negara.

Sebab kejadian itu, mulailah Nabi Muhammad melakukan konsolidasi internal: loyalitas dibentengi dengan identitas khusus. Nabi melakukan politik identitas: umat Islam dilarang menyerupai kaum Yahudi, Nasrani, Musyrik bahkan Majusi. Maka, keluarlah aturan pembeda identitas dari soal kumis-jenggot, sepatu-sendal, dan warna pakaian. Pesannya simpel: berbedalah dengan mereka. Jangan menyerupai mereka, karena barang siapa yang menyerupai mereka, maka kalian sudah sama dengan mereka.

Inilah konteks hadits di atas: politik identitas dari Nabi untuk komunitas Islam saat itu. 

Nah, para ustadz jaman now yang gemar mengutip hadits tasyabuh ini sebenarnya juga hendak mengukuhkan identitas keislaman kita bahwa kita berbeda dengan “mereka”. Namun para ustaz lupa bahwa kita tidak lagi hidup di komunitas terbatas seperti perkampungan Madinah 15 abad lalu.

Kita sekarang sudah menjadi citizen of the world (warga dunia). Kondisi sudah berubah, identitas keislaman tidak akan tergerus oleh pembeda yang berupa asesoris semata. Identitas keislaman saat ini adalah akhlak yang mulia.

Secara sanad, hadits di atas juga tidak diriwayatkan oleh dua kitab utama, Sahih Bukhari dan Sahih Muslim. Para ulama hadits juga berbeda menentukan derajat hadits itu. Ada yang mensahihkan, ada yang memandang hadits itu hasan, bahkan ada pula yang mendhaifkannya.

Ahmad bin Hanbal mengatakan hadits yg diriwayatkan perawi ini munkar. Abu Dawud mengatakan tidak mengapa dengannya. An-Nasa’i mengatakan dha’if. Ibnu Hajar menyimpulkan bahwa yang bersangkutan itu jujur, tapi sering keliru, dianggap bermazhab Qadariyyah, dan berubah hafalannya di akhir usianya.

Mengapa para ustadz tidak menjelaskan perbedaan status sanad hadits ini dan juga konteks kemunculannya? Saya berbaik sangka para ustaz tidak punya kesempatan yang cukup untuk menjelaskannya di video youtube mereka yang viral itu. Wa Allahu a’lam.

Sungguh betapa pentingnya memahami hadits sesuai konteksnya.

Misalnya ada riwayat:

“Berbedalah kalian dengan Yahudi, karena mereka salat tidak pakai sandal dan sepatu.” (HR Abu Daud).

Prof Dr KH Ali Mustafa Ya’qub, pernah menjelaskan bahwa kondisi masjid di zaman Nabi itu tidak pakai lantai. Hanya beralaskan tanah atau pasir. Maka, kita paham konteksnya. Bayangkan kalau hadits ini sekarang kita pakai apa adanya dan kita masuk masjid dengan sandal dan sepatu. Kita akan diteriakin bahkan mungkin dianggap penista Islam. Itulah gunanya memahami konteks hadits.

Yang dulunya diwajibkan, malah bisa dilarang, ketika konteksnya berubah. Abu Yusuf, murid utama Imam Abu Hanifah, dengan cerdas mengeluarkan kaidah: “Jika suatu nash muncul dilatarbelakangi sebuah tradisi, dan kemudian tradisi itu berubah, maka pemahaman kita terhadap nash itu juga harus berubah.”

Di samping itu, tidak benar kalau Rasulullah selalu hendak berbeda dengan kaum non-Muslim. 

Misalnya HR Bukhari-Muslim ini:

“Nabi SAW tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya, “Apa ini?” Mereka menjawab : ”ini sebuah hari yang baik, ini adalah hari di mana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka, beliau Rasulullah menjawab: ”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.”

Saya sudah jelaskan bahwa cara berpakaian orang Arab baik Muslim maupun non-Muslim saat itu serupa, maka penanda yang tampak seperti tampak di wajah itu menjadi penting bagi identitas keislaman pada saat itu.

seperti riwayat ini:

“Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR Muslim).

Tapi bagaimana dengan model sisiran? Ternyata Nabi tidak menyelisihi non-Muslim. Kenapa? Karena rambut tertutup sorban sehingga apa pun model sisiran rambut tidak akan menjadi penanda identitas.

Perhatikan riwayat ini:

“Dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah dahulunya menyisir rambut beliau ke arah depan hingga kening, sedangkan orang-orang musyrik menyisir rambutnya ke bagian kiri-kanan kepala mereka, sementara itu Ahlul Kitab menyisir rambut mereka ke kening. Rupanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lebih suka bila bersesuaian dengan apa yang dilakukan oleh Ahlul Kitab dalam perkara yang tidak ada perintahnya. Namun kemudian hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyisiri rambutnya ke arah kanan-kiri kepala beliau”. (HR Bukhari)

Nah, kalau kita memahami teks riwayat di atas secara apa adanya, apa kita berani mengatakan bahwa Rasulullah serupa dengan non-Muslim dan telah menjadi bagian dari mereka hanya karena model sisirannya sama?

Jika begitu, kafirkah kita jika hanya soal model sisiran rambut saja kita heboh dan saling debat kusir tak berkesudahan? Entah lah.

Begitu pula soal jenggot dan kumis, kini tidak lagi menjadi satu-satunya pembeda antara identitas Muslim dengan non-Muslim. Banyak selebriti yang sekarang memelihara jenggot dan tidak berkumis, begitu juga para tokoh non-Muslim. Apakah mereka menjadi Muslim atau justru kita yang menjadi kafir hanya gara-gara punya jenggot?

Sekarang bagaimana dengan perayaan tahun baru? Bagaimana dengan perayaan Valentine? Bagaimana dengan ucapan selamat hari ibu, selamat ulang tahun, selamat atas wisuda, selamat atas promosi jabatan? Bagaimana kalau kita pakai celana jeans, atau dasi dan jas?

Untuk para kaum perempuan, tahukah Anda sejarah bra? pada zaman rasul gak ada muslimah yang pakai bra, itu tradisi Eropa abad ke-18. Bolehkah Anda sekarang pakai bra? Untuk yang lelaki, bagaimana kalau kita pakai topi cowboy atau topi ulang tahun, atau topi santa?

Dalam kaidah ushul fiqih ada ungkapan, “al-‘adah muhakkamah.” Kebiasaan (tradisi) bisa menjadi hukum. Yakni tradisi yang tidak bertentangan langsung dengan pokok-pokok akidah itu bisa diakui dan diakomodir dalam praktik maupun ekspresi keislaman kita. Kaidah ini membuat Islam bisa menerima berbagai budaya tanpa harus kehilangan identitas keislaman kita.

Bukankah itu pula yang dilakukan Walisongo saat mengakomodir budaya dan tradisi Nusantara saat penyebaran islam?

Tulisan ini tak bermaksud memberi fatwa boleh atau tidaknya merayakan ini dan itu, boleh tidaknya memakai ini dan itu. Silahkan putuskan sendiri. Semoga beberapa catatan ini bisa menjadi bahan pertimbangan dalam beragama yang semestinya. 

Sebab hidup ini tak lain adalah sebuah pilihan.

Selamat memilih, dan Selamat Tahun Baru 2018.

*Prof Nadhirsyah Husen

Pejaten, 01 Januari 2018

BERHALA-BERHALA IDENTITAS

cc084a0ff6cb2acfc4b3abe3f5fa6af7--art-quotes-l-art

“…dan berhala-berhala yang mereka seru selain allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang.” (An-Nahl: 20)

Dalam islam, berhala adalah karya buatan manusia yang berbentuk makhluk hidup atau benda. Oleh orang jahiliyah, ia didewakan, dipuji dan disembah. Berhala bermakna luas, bisa, matahari, bulan, malaikat bahkan hewan. Apa saja yang disembah selain perintah Allah adalah berhala.
Memberhalakan, berarti memuja dan mendewakan, bisa bermakna sebagai pemujaan yang tak mesti bersujud dihadapannya, bisa pula dimaknai sebagai bentuk rasa suka sesorang terhadap sesuatu melebihi rasa suka kepada-Nya.

Teks suci, menjelaskan kata berhala dan digunakan untuk beberapa istilah yang berbeda. Berhala yang berbentuk namanya Asnam. Sementara yang berbentuk ataupun tak berbentuk namanya Awsan.

Dalam sejarah penyembahan berhala orang arab jahiliyah (pra islam), untuk mendekatkan diri pada dewa-dewanya, mereka sering melakukan persembahan qurban berupa binatang ternak, terkadang pula manusia. Sebagaimana Abdul muthallib kakek dari Muhammad yang hampir mempersembahkan Abdullah, putranya sebagai kurban. Artinya, penyembahan berhala bertumpu pada pemuasan hawa nafsu dan kekuatan fisik duniawi untuk mencapai surga dunuawi.

Islam berkembang sedemikian rupa, perkembangannya pun memberikan nilai tersendiri untuk memberikan pengertian logis dan realistis bagi pemeluk-pemeluknya. Sebab dalam ajarannya, setiap persembahan dan pemujaan kepada yang selain-Nya adalah musyrik (laa ma’buda illallah).

Di Indonesia, islam muncul dengan wajah-wajah baru. Lahir organisasi-organisasi kemasyarakatan keislaman dengan berbagai bentuk dan model. Ada yang modernis, ialah mereka yang melakukan gerakan- pembaharuan tepat sesuai dengan situasi zamannya. Ada yang tradisionalis, ialah merekan yang tetap menjunjung tinggi nilai leluhur dan kebudayaan lokal yang merupakan pembeda dari kelompok modernis. Bahkan ada yang betul-betul memurnikan islam dengan wajah kearab-araban.

Setiap dari mereka memiliki desain dan gaya masing-masing dalam menyebarkan nilai-nilai keyakinannya. Islam yang harusnya memberikan rahmat bagi seluruh alam, “wa maa arsalnaaka illa rahmatan lil ‘alamin”, dan tidak kami utus engkau (Muhammad) kecuali menjadi rahamat bagi sekian alam, kini tak lagi terletakkan pada poros fungsi yang semestinya. Mengapa?

Perbedaan kepentingan dan identitas menjadi penyebab utama terbatasinya para warga ormasnya. Bukan disebabkan oleh keyakinan teologis yang sama-sama sunnis. Artikulasi atau pengungkapan kepentingan setiap anggota masyarakat, bentuk emperiknya akan dipengaruhi konseptualisasi nilai kebenaran dan kebaikan sesuai akar sosial-budaya masing-masing. Formula kepentingan ini seringkali diperkuat, dilegitimasi dan disimbolisasi oleh identitas kelompok masing-masing.

Kesamaan kepentingan simbolis pun dibuat beda oleh kebutuhan identitas organisasi masing-masing pihak. Sehingga konflik lebih sering muncul dan lebih sering terjadi di struktur sosial tingkat bawah atau komunitas-komunitas kecil.

Hubungan antar sesama juga akan menjadi rumit jika mayoritas warga dari sekian kelompok keberagamaan menjadikan kelompoknya sebagai identitas diri, bukan sebagai wahana. Bukan kepentingan nilai etika keberagamaan universal yang didahulukan, tapi kepentingan kelompok yang mudah dimanipulasi atas nama agama melalui tafsir-tafsir sepihak. Persoalan ini akan menjadi lebih kompleks jika semua tradisi dan wilayah kehidupan sosial atau ritual telah dipetakan kedalam identitas kelompok masing-masing. Misal, soal doa panjang atau pendek, tahlil atau yasinan, cium tangan atau jabat tangan, peci atau topi hingga soal gerak dalam ritual keagamaannya. Kadang, soal ritual, secara teologis merasa kurang sreg jika shalat di masjid yang bukan satu kelompok atau se-aliran paham dengannya. Bahkan seringkali merasa, pahalanya terkurangi. Nyatanya semuanya berkiblat pada madzahibul arba’ah, bukan?

Akibatnya, struktur sosial-ekonomi berubah menjadi ruang dimensi teologis yang berimplikasi pada pembahasan halal-haram bahkan surga dan neraka. Tak jarang umat beragama menjadikan benda-benda fisik atau artifisial menjadi perangkap berhala yang sejatinya itu tak tercermin dalam ajaran kelompoknya.

“Identitas sering memerangkap manusia dan menjadikan dirinya sebagai korban.” Kata seorang sosisolog, Emile Durkheim. Menurutnya, manusia dipaksa oleh fakta-fakta sosial yang dibuat oleh dirinya sendiri. Sehingga kelompoknya tak lagi sekedar lembaga profan atau sekuler dan duniawi, tapi berubah sebagai lembaga sakral yang mutlak benar dan salah. Dialaminya ideologisasi atau teologisasi yang kadang justru lebih penting dari Al-quran dan assunnah, bahkan lebih penting dari tuhan.

Jika begitu, realitas akan selalu stagnan dan berkutat di persoalan saling kritik oleh fanatik menuhankan identitasnya. Dampaknya, keberadaan kelompok-kelompok yang seharusnya menjadikan sebuah kehidupan mapan dan berkemanusiaan, berubah menjadi sebuah kompetisi yang saling menyalahkan, bahkan jatuh-menjatuhkan antara satu dan yang lainnya. Bukankah tuhan menyeru untuk tak bercerai-berai? “wa’tashimu bihablillahi jami’aw wala tafarroqu.” (Ali Imran: 103)

Menjadi perlu, pembangunan hubungan sosial integratif, interaktif dan dialogis untuk mengeleminir terlalu melekatnya fatanatisme agar tak terlalu sibuk menyalahbenarkan dan saling proaktif berkompetisi dalam memamerkan identitas yang tak sadar telah mereka berhalakan.

Purnama, 20 Desember 2017

NASEHAT JIWAKU

Jiwaku berkata padaku dan menasehatiku, agar mencintai semua orang yang membenciku, dan berteman dengan mereka yang memfitnahku, serta menolong mereka yang senantiasa menghinaku. Karena cinta tak hanya menghargai orang yang mencintai saja atau orang yang dicintai, tapi juga menghargai yang tidak peduli dan mereka yang tidak mencintai.

Jiwaku memintaku untuk menatap semua yang buruk dengan tabah sampai nampak keelokan dan keindahan. Karena bahwa keindahan itu tidak hanya diperoleh dengan sekejap dan sejenak, tetapi juga melalui kemauan, melalui kemampuan untuk bersabar.

Jiwaku memintaku dan menasehatiku untuk tidak hanya mendengar suara yang keluar dari lidah maupun dari tenggorokan. Sebelumnya aku hanya mendengar teriakan dan jeritan di telinga yang bodoh dan sia-sia, tapi sekarang aku belajar mendengarkan keheningan, menamatkan malam dan mempelajari kesunyian yang menggema dan melantunkan lagu dari zaman kezaman, menyanyikan nada langit dan menyingkap tabir rahasia keabadian.

Jiwaku memintaku dan menasehatiku untuk mencari yang tak dapat dilihat oleh mata dagingku. Pun jiwaku menyingkapkan kepadaku bahwa aoa yang kita sentuh adalah apa yang kita impikan.

Jiwaku menasehatiku dan memintaku agar tidak merasa mulia dan tidak merasa besar karena pujian, dan agar tidak disusahkan oleh ketakutan karena makian. Karena aku tak lebih tinggi dibanding kurcaci, ataupun tak lebih rendah dibanding raksasa. Sebelummya aku melihat manusia ada dua; Seorang yang lemah, yang aku caci atau aku kasihani dan seorang yang kuat, yang aku ikuti atau kulawan dalam pemberontakan dan perang-perang. Tapi sekarang aku tahu bahwa aku dibentuk oleh tanah yang sama, darinya semua manusia diciptakan. Bahwa unsur-unsurku adalah unsur-unsur mereka, dan pengembaraan mereka adalah juga milikku.

Jiwaku menasehatiku dan memnitaku, untuk tidak menempuh dunia, serta tidak memburu akhirat. Dan untuk tidak berurusan dengan lumpur-lumpur kotor kehidupan.

Jiwaku memintaku dan selalu menerangiku, dalam gelapnya siang dan hitamnya malam.

Jiwaku terus menasehatiku dan meyakinkanku, bahwa hidupku hanyalah untuk memandangNya. Sampai kembali ke hakikat tiadaku.

Blindungan, 19 Desember 2017

MUHAMMADKAH AKU?

f94678682a900469d9b9f514a25b78f5--nabi-muhammad-islamic-calligraphyRohatil atyaru tasydu, fi layalil maulidi, wa bariqunnuri yabdu, min ma’aani ahmadi.

“burung-burung berkicauan teramat bahagia di malam kelahiranmu (Muhammad), dan kilatan cahaya terpancar penuh makna di dirimu”.

Begitu, kumandang ramai perkampungan mengenang dan menceritakanmu. Dengan tembang sastra beriramakan lantunan rebana, tak ada bekas penghalang kegembiraan mereka selain menyatu dalam pujian kagunganmu. Tak berhenti sejenakpun. Sungguh mereka tak lain hanya berharap mampu meniru teladanmu.

Wahai lelaki matahari dan bulan, bersamaan dengan suara-suara rebana itu, izinkan kami menengadah sembari merintih dalam sirah-sirahmu. Kami hanya ingin terus menerum bejalar dari uswah-usawahmu. Meski sedikit, izinkan pula kami menceritakan diri sebagai umat yang jauh dari yang menyamaimu.

Wahai lelaki sejuta gelar, ketika musibah banjir menenggelamkan kota Mekkah, engkau aktif terlibat bersatu padu, saling bahu membahu dalam pembangunan ka’bah. Pembangunan memasuki tahap peletakan Hajar Aswad, selisih pendapat bermunculan. Siapakah tokoh yang layak mendapatkan kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad?. Masing-masing saling ingin mengedepankan pemimpin kelompoknya sendiri.

Dengan kebijaksanaan, engkau hadir ditengah-tengah mereka dengan ungkapan santun halusmu, ”Siapa pun yang besok pagi datang paling awal ke tempat pembangunan, maka dialah yang berhak atas kehormatan untuk meletakkan Hajar Aswad.” Masyarakat pun menyetujui dan mereka yakin itu adalah jalan terbaik bagi mereka.

Keesokan harinya, ternyata engkau sendiri yang datang paling pagi dan paling awal. Namun rupanya engkau bukanlah seorang yang egois. Engkau bentangkan sorbanmu, engkau taruh Hajar Aswad itu di atasnya, lalu engkau ajak beberapa tokoh lain untuk turut serta meletakkannya bersama-sama. Sungguh mereka puas atas keputusan bijak akal sehatmu.

Rupanya, di era kami, “Gelar-gelar semakin tinggi justru akal sehat semakin rendah”. Sungguh berbanding terbalik dengan yang engkau teladankan wahai penghimpun yang bercerai berai’. Hadirlah ditengah-tengah hamba, meski sebentar.

Wahai lelaki pemegang kesetiaan, engkau senantiasa meletakkan cinta istri kinasihmu itu di serambi sanubarimu. Saat Fath Makkah, engkau mengambil waktu khusus di sela-sela Yaumul Marhamah ini dengan menziarahi pusara Khadijah, meletakkan jubahmu di sisi makam, dan engkau pun bernostalgia dengan menyebut kemuliaan perempuan agung itu. Khadijah tak pernah pergi dari sanubarimu, duhai Khairul Bariyyah. Ketika engkau diberi hadiah daging, yang engkau ingat adalah Khadijah. Engkau mengambil bagian terbaik dari daging itu, lalu menyedekahkannya atas nama Khadijah kepada kaum miskin. Engkau memahat nama ibunda anak-anakmu itu dalam amal keseharianmu, hingga dalam berbagai kesempatan dirimu memujinya dalam kalimat-kalimat indah dengan balutan cinta.

Rupanya di era hamba, ”Perselingkuhan semakin marak, justru kesetiaan yang semakin punah”. Sungguh kami jauh dari risalah perjalananmu wahai pemilik kesetiaan cinta.

Wahai lelaki yang senantiasa tersenyum, seorang perempuan pernah sowan kepadamu dan memberi hadiah. Ini adalah kain yang kutenun sendiri, semoga engkau berkenan menggunakannya, wahai utusan Allah. Kata perempuan itu. Engkau berbahagia menerimanya hingga ada seorang sahabat yang menginginkan dan memberanikan diri meminta kain indah itu, padahal engkau belum pernah sama sekali mengenakannya. Engkau tersenyum, masuk kamar, kemudian melipat kain indah itu lalu menghadiahkannya kepada sahabatmu tadi. Duhai Rasulullah, demi Allah, aku menginginkan kain ini bukan untuk kupakai, tapi untuk kujadikan kafan saat mati kelak. Kata sahabatmu dengan suara bergetar. Engkau lagi-lagi tersenyum mendengar alasan sahabatmu. Sungguh mempesona kedermawananmu, duhai Shahib al-Maqam al-Mahmud.

Lantas di masa kami, “pengetahuan semakin banyak, justru kearifan semakin berkurang”, sungguh kami bejat, ngawur dan sama sekali tak mampu meniru arif dermawanmu ya karimal anbiya.

Wahai Annajmu ats-tsaqib, suatu ketika, seorang Arab Badui buang air kecil di dalam masjid (tepatnya di sudut masjid). Orang-orang lantas berdiri untuk memukulinya. Dengan gegas, engkau mencegahnya, lalu berkata, “Biarkanlah dia, siramlah air kencingnya dengan seember atau segayung air. Sesungguhya kamu ditampilkan ke tengah-tengah umat manusia untuk memberi kemudahan bukan untuk membuat kesukaran.” Begitu lembut caramu menghakimi ummatmu.

Tapi mengapa, disekitar kami yang kualitas ilmunya semakin tinggi, justru kualitas emosi semakin rendah. Tak jarang kami temui, ummat yang selalu mengagung-agungkanmu, justru menghujat dengan luapan klimaks emosi tak berkesudahan. Apakah begitu, cermin keagunganmu?. Hadirlah ditengah-tengah kami meski hanya sebentar ya atqol atqiya.

Wahai lelaki penutup aib, suatu hari para sahabat sedang berkumpul di masjid. Lalu terciumlah bau kentut diantara mereka, sehingga membuat para sahabat tidak tahan dengan bau tersebut, salah seorang dari mereka berdiri dan berkata, “Barangsiapa yang kentut, silakan bangun”. Hening, tak seorang pun berdiri. Ketika datang waktu ‘Isya mereka berkata, “Orang yang kentut pasti akan berwudhu setelah ini”. Lalu, para sahabat menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang keluar. Masih seperti tadi, tak seorang pun yang beranjak dari tempat duduknya, mungkin malu. Lalu Bilal bangun untuk mengumandang kan adzan. Tapi engkau justru berkata, “Tunggu dulu, aku belum batal, tapi aku hendak berwudhu lagi.” Para sahabat pun ikut berwudhu dan tidak diketahui siapa yang kentut waktu itu. Subhanallah. Sungguh, dalam diri engkau terdapat teladan mulia, ya asfal asyfiya.

Tapi, mengapa di era kami, malah mencemaskan. “Teknologi informasi semakin canggih, mengapa justru fitnah dan aib yang semakin tersebar?”

Sangat bodoh, prilaku hamba yang selalu lalai akan uswahmu ini. Hamba gelap dalam kegelapan. Hamba butuh pancaran sinar cerah budi pekertimu ya nurun fauqo nur. Hadirlah ditengah-tengah kami meski sebentar wahai utusan yang bersandang gelar misbahus sudur.

Kami sadar, kami hanya pengagungmu yang angkuh dan sama sekali tak mencerminkan keagungan yang selalu kami agung-agungkan.

Marahi kami, bentak kami, sebagaimana nyai Surti mengupas tuntas ketololanku ini, wahai pemberi syafaat.

Hingga pada akhirnya aku berbesit, “Aku sama sekali bukan Muhammad.”

Tenggarang, 01 Desember 2017

AGAMA NYAI SURTI


Konon, di suatu kampung itu ada seorang “nyai” yang ‘alim dan spritualistik, namun jarang diketahui banyak orang, bahkan tetangganya sekalipun. Namanya nyai Surti. Selain nyai Surti yang tak berpenampilan khalayaknya orang ‘alim, ia memang tak suka memamerkan ke’alimannya. Kata kawan saya.

Penasaran, saya datangi si nyai itu. ”Sekalian aku belajar banyak hal”, besitku. Hampir sampai di kampung itu, gerimis diikuti hujan lebat mengguyur perjalananku, sore itu. Aku pun basah kuyup, menggigil kedinginan.

Dari kejauhan, kudapati bangunan tua menohok dengan gambut ilalang menutupi halaman rumahnya. Seram, menakutkan. Ternyata itu rumahnya nyai Surti. ”semacam di film horror saja”, di benakku.

Perlahan kulangkahkan kaki sembari tolah toleh kanan-kiri, keatas dan kebawah. “Assalamu’aikum”, ucapku, sembari ku ketuk pintu kuno berukiran naga itu. “assalamu’alaikum, assalamu’alaikum”.

“Wa’alaikum salam, ada perlu apa kau kesini?”, Tanya nyai Surti, sangar bergelung.

“Maaf nyai, saya mau belajar agama”, jawabku singkat.

“Kamu pernah mondok?, dimana?. Lanjutnya.

“Iya, nyai. Di Madura”, jawabku menggigil.

“Berapa tahun?”

“Cukup lama, nyai.”, jawabku, sungkem ketakutan.

“Iya, berapa?, laki-laki kok melempem”, bentak, nyai Surti.

“Empat tahun, nyai ”, jawabku, makin ketakutan.

“Empat tahun kau bilang lama?, dasar santri tolol. Belajar agama tak sesingkat itu, tolol.”

Ampun, nyai.”

“Beragama itu jangan separuh-separuh!. Udhulu fissilmi kaffah.”

“Maksudnya, nyai?”

“Maksudnya-maksudnya, ndasmu!, beragama itu memasukkan intisari agama secara universal. Melihat, berfikir, dan berbicaralah dari berbagai sudut pandang. Implikasinya, mengarifi, melandasi hidup bersama, menumbuhkan sikap adil dan toleran, serta merawat kehidupan bersama secara berdampingan. Baru kau bisa menyatakan diri sebagai santri.”

“Bukankah, yang saya tau, kebanyakan orang beragama selalu saling mengancam, menyalahkan, bahkan mengutuk, nyai?”

“Iya, betul. Termasuk tololmu itu.”

Aduh, ampun, nyai”. Sambil ku garuk-garuk kepala.

“Beragama akan menjadi ancaman, jika kamu eksklusif (merasa paling benar). Sebab, hakikat agama itu terbuka bukan tertutup, dialogis bukan egaliter. Pun, tak ekstrime, tak profokatif, apalagi mengutuk. Bukankah kamu pernah ngaji dulu, bagaimana keluwesan Nabimu (Muhammad) ketika memberi makan seorang nenek buta beragama yahudi?, padahal si nenek selalu memaki Muhammad dengan makian si penyihir, si pembohong dan justru dianggap sebagai pembawa agama baru (islam). Pada akhirnya si nenek bersyahadat sebab prilaku nabimu, bukan?”

“Iya, pernah dengar cerita itu, nyai.”

“Jangan hanya didengar, tolol!. Beragama yang kaffah tak cukup mendengarkan. Jadikan etnografi reflektif, artinya mengkaji diri, relitas hidup, budaya, sebagai refleksi universal cara beragamamu. Biar tak menuhankan fanatik, menghamba pada symbol, apalagi semboyan-semboyan gemulai yang cenderung mengutuk.”

“Siap, siap, nyai.”

“Siap… siap…, santri kok goblok. Negerimu ini multikultural (majemuk), paham?. Hati-hati kalau bicara, jangan mudah menyimpulkan. Kunyah dulu baru ditelan, bukan ditelan dulu baru dikunyah. Ngerti?. Ingat, satu lagi, beragama dalam kemajemukan, harus kuat, kometmen dan bersama-sama. Laa quwwata illa bil jamaah. Lafadz “al jama’ah” umum, tak khusus menyebut agama, suku, atau ras tertentu (kullu ma sigha allah).”

“Lalu, apa yang harus saya lakukan, nyai?”

“Kamu ini orang apa bukan sih, memang dari tadi, kupingmu kesumbat ya?”

Ampun, nyai.”

“Cara pandangmu itu yang membuatmu semrawut dalam beragama. Agama langit datang mendaku sebagai yang paling benar, kepercayaan lokal yang datang lebih dulu dianggapnya sebagai yang kuno, sesat dan terkutuk. Dikira semudah itu, mengokohkan diri sebagai yang beragama?. Tolol. Jika ingin menilai, lihat dulu yang ingin kau nilai dari berbagai sisi. Baru kau simpulkan. Jelas?. Jangan kau habiskan beragamamu dengan tudingan-tudingan subjektif. Dalam cara pandang purifikasi ajaran, dunia ini dipilah secara arbitrer (semena-mena). Hitam-putih, misal. Salah satunya merasa lebih superior dan menjastis yang lain sebagai yang kecil, rendah, lemah (inferior). Oleh yang putih, hitam adalah gelap. Dianggapnya Ia musuh dari terang. Padahal hanya kekhawatiran eksklusi, perdikan, ekskomunikasi, dan alienasi.”

“Lalu?, nyai?.”

“Astaghfirullah al adzim. Tolol amat sih kamu.”

Sendiko dawuh, nyai.”

“Begini saja, ndasmu itu biar nyantol. Beragama, jangan sekali-kali anti pati, ketika anti pati, kamu akan enggan mendengarkan, dampaknya akan gagal paham. Kegagalfahaman mengakibatkan kekacauan (menyalahkan, mengkafirkan, bahkan mengutuk)”. Paham?. “Atau begini, biar mudah. Aku ada empat kalimat sakti, agar mudah introspeksi cara beragama dalam kemajemukan ini:

Pertama, kau dan aku beda, kita musuh,

Ke-dua, kau dan aku beda, kita tak ada urusan

Ke-tiga, kau dan aku beda, kita bisa kerjasama

Ke-empat, kau dan aku beda, kita dapat saling memperkaya,

renungkan, internalisasikan nilai agamamu, pilih, lalu posisikan diri!”. Paham?. Kalau belum faham ini, kubur diri saja sana…! Dasar goblok.

Enggeh-enggeh, paham, nyai.”

“Pulang sana! Rutinkan buka kitab dalam dirimu itu!.”

Siap-siap, nyai.”

Eh, eh, eh, seruput dulu kopinya, biar gak salah faham”. Hwakakakak, nyai Surti terbahak-bahak.

Enggeh, siap, nyai”. Suasana kembali encer.

Dengan penuh malu, aku berjalan mudur, lalu menyegerakan diri untuk pamit pulang.

Tenggarang, 29 November 2017