Dalam The Heart Of Man, Fromm menyatakan “Kesenangan untuk berkuasa mutlak atas diri orang lain (atau makhluk hidup lainnya) sesungguhnya adalah didorong sikap kejiwaan yang sadistik. Dengan kata lain bahwa tujuan sadisme adalah mengubah manusia menjadi benda. Mengubah yang berjiwa menjadi tak berjiwa. Karena dengan adanya pengawasn mutlak dan menyeluruh maka kehidupan kehilangan salah satu kualitasnya yang sangat mendasar yakni kebebasan”.
Tak jarang manusia mempraktekkan serangaian cinta palsu. Dengannya berimplikasi pada lahirnya simplifikasi (pengenyampingan/merendahkan). Ia menjadi fenomena realitas yang lumrah dan diwajar-wajarkan untuk membabakbelurkan manusia lain yang dianggap lawannya. Cinta palsu itu bukan cuma menjelaskan kelebihan-kelebihan tapi secara tak sadar membuka medan pertarungan yang tak akan pernah usai.
Olehnya, hilang humanisasi dalam ketidaksadaran, memancing benih pertikaian tak sehat. Cara apapun serentak diuntai untuk mensuperiorkan yang tak superior, menjunjung janji-janji idealistik palsu. Dan merusak eksistensi kemanusiaan sejati.
Tiap kecerdasan terus dipakai untuk menindas yang tak cerdas. Ikhlas yang tak perlu terucap, terdeklarasi dengan semboyan-semboyan palsu menyakitkan. Misi mencerdaskan dibuatnya seefektif mungkin dalam rangka menghemat dan memanipulasi hakikat perjuangan. Baginya tak penting mengerti atau tidak, yang terpenting tersampaikan. Misi-misi (berkedok cinta palsu) itu melahirkan pertikaian keras, miris menakutkan. Implikasipun muncul sebagai lahirnya penindasan dan ketertindasan berpayung perjuangan-perjuangan itu.
Perjuangan sebagai suatu yang fitrah, pun menjadi alat berteduhnya penindasan dan penindasnya. Sebab itu, muncul gejala-gejala baru sebagai garis kesadaran perjuangan kaum tertindas. Kaum tertindas yang merasa prihatin dengan kehumanisannya, membawanya pada pengakuan terhadap adanya masalah dehumanisasi. Tak cuma sebagai sebuah kemungkinan ontologis tetapi sebagai sebuah realitas sejarah.
Kesadaran akan meluasnya gejala dehumanisasi itu, melahirkan pertanyaan-pertanyaan, apakah humanisasi masih merupakan sebuah kemungkinan yang bisa dipertahankan. Dalam konteks kongkret dan objektif, humanisasi dan dehumanisasi adalah dua kemungkinan yang tersedia bagi manusia untuk menyadari ketidaksempurnaannya.
Namun, sepanjang humanisasi ataupun dehumanisasi merupakan pilihan-pilihan nyata, humanisasi itulah yang merupakan fitrah manusia. Dalam frame ini, humanisasi menjadi titik tekan yang selalu diingkari. Dipungkiri melalui perlakuan tak adil, pemerasan, penindasan, dan kekejaman kaum penindas.
Implikasinya, dehumanisasi tak hanya bermuara pada mereka yang telah dirampas kemanusiaannya, tapi juga meraka yang merampas adalah sebuah penyimpangan fitrah untuk menjadi manusia sejati. Penyimpangan itu terus terjadi sepanjang sejarah, namun bukan fitrah sejarah. Sebab, mengakui dehumanisasi sebagai suatu fitrah sejarah akan membawa pada suatu sinisme atau sikap putus asa menyeluruh.
Oleh karena hal itu merupakan suatu penyimpangan dari usaha untuk menjadi lebih manusiawi, maka cepat atau lambat keadaan yang kurang manusiawi itu akan mendorong kaum tertindas untuk berjuang menentang prilaku penindasnya. Dan ruang ini merupakan tugas kesejarahan dan kemanusiaan terbesar bagi kaum tertindas.
Sebab kaum penindas yang menindas, memeras, dan memperkosa melalui kekuasaannya, tidak dapat menemukan dalam kekuasaannya itu kekuatan untuk membebaskan kaum tertindas dan diri mereka sendiri. Berbagai usaha “memperlunak” kekuasaan kaum penindas dengan alasan untuk lebih menghormati kelemahan kaum tertindas hampir selamanya mewujudkan diri dalam kemurahan hati palsu; usaha itu tak pernah lebih dari ini. Hanya kekuasaan yang bersemi dari kaum tertindaslah yang cukup kuat untuk membebaskan keduanya.
Demi keberlangsungan pameran “kemurahan hati” mereka itulah, maka kaum penindas juga mau tak mau harus mengelakkan ketidakadilan. Suatu tatanan sosial yang tak adil merupakan alasan yang harus ada dan dijadikan mata-gelap atas kemurahan hati palsu yang dibayangi maut, keputusasaan, dan kemelaratan.
Demikian, kaum tertindas perlu langkah kongkrit untuk kebebasan dan melepas citra diri kaum penindas. Ia harus menolak citra diri itu dan menggantinya dengan perasaan bebas (otonomi) serta tanggung jawab.
Dalam bukunya, “pendidikan kaum tertindas” Paulo friere menyerukan, “kebebasan bukanlah sebuah impian yang berada diluar manusia; bukan pula sebuah gagasan yang kemudian jadi mitos. Ia memang merupakan keniscayaan dalam rangka mencapai kesempurnaan manusiawi.” Maka, kebebasan harus diperjuangkan dan direbut dengan keteguhan hati, bukan semata dihadiahkan.
Agar perjuangan itu bermakna, dalam merebut kebebasan dan mengembalikan kemanusiaan itu, kaum tertindas tak wajar jika berbalik menjadi penindas kaum penindas, harusnya ditekan pada memulihkan kembali kemanusiaan keduanya.
Mengapa demikian, sebab realitas sosial yang objektif mengada bukan karena kebetulan, tapi lahir dari tindakan manusia. Maka, ia tak dapat diubah dengan cara kebetulan pula. Jika manusia membentuk realitas sosial (dimana “hasil praksis” berbalik kepada manusia dan mengkondisikan mereka), maka mengubah realitas itu adalah tugas kesejarahan, tugas bagi manusia.
Maka jelas benar yang dijelaskan Karl Marx, “Doktrin kaum materialis (penindas) bahwa manusia adalah hasil dari lingkungan dan pendidikannya, dan bahwa, karena itu, manusia yang berubah adalah hasil dari lingkungan yang berbeda dan pendidikan yang diubah, melupakan bahwa manusialah yang mengubah lingkungan dan bahwa pendidikan itu sendiri membutuhkan pendidikan”. (Selected works, lawrence and wishart, 1965)
Selaras dengan teks suci, “Innallaha laa yughayyiruu maa biqoumin hatta yughayyiru maa bi anfusihim” Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga ia merubah dengan diri mereka sendiri. (QS. Ar-Ra’du. 11)
Lebih dari sekedar itu, kaum tertindas harus dibekali pendidikan yang dijiwai oleh kedermawanan sejati, kemurahan hati humanis (bukan humanitarian) menampikan diri sebagai pendidik bagi seluruh umat manusia. Sebab jika pendidikan dimulai dengan kepentingan egoistis kaum penindas (egoisme dengan baju kedermawanan palsu dari paternalisme) dan menjadikan kaum tertindas sebagai objek dari humanitarianisme mereka, justeru mempertahankan dan akan terus menjelmakan penindasan tak berjangka.
Menyakitkan, bukan?
Kalibaru, 26 Januari 2018







Rohatil atyaru tasydu, fi layalil maulidi, wa bariqunnuri yabdu, min ma’aani ahmadi.