Ustadz, begitu orang kampung menyebut seseorang yang mengajar di pesantren. Ustadz, merupakan kosa kata bahasa arab yang berarti “guru”. Ia menyandang sub nilai kejiwaan yang luhur. Ia penyampai, pendidik dan panutan (uswah). Mendengar sosoknya (ustadz), yang terbesit dipikiran, ia yang pitar, cerdas, berakhlaq dan berwawasan keagamaan yang luas.
Dengan wawasan keagamaan yang luas, wajar ketika ustadz lazimnya santun, arif, sejuk, berwibawa dan menenangkan. Ia penyebar syiar kenabian, penyampai pesan-pesan moral kemanusiaan, pembuka wawasan hidup berkeseharian. Di dirinya melekat pertanggungjawaban mutlak. Dalam kesadarannya tersimpul, “bermanfaat bagi orang lain, berarti bermanfaat bagi diri sendiri”. Ia pemegang pesan singkat sang maha guru (Muhammad), “kullu mukminin halka illa ‘alimun, wal ‘alimuna kulluhum halka illal ‘amilun, wal ‘amiluna kulluhum halka illal mukhlisun”. Setiap orang yang beriman rusak, kecuali yang berilmu, dan yang berilmu rusak kecuali yang mengamalkan, dan yang mengamalkan rusak kecuali yang ikhlas. (Al-hadist). Tepatlah jika ustadz dianalogikan sebagai pemberi tanpa diminta, penyampai tanpa dipaksa, dicontoh dan tak banyak bicara. Hebat, bukan?.
Ia (ustadz) bermakna universal, siapapun bisa menjadi ustadz, dan ke siapapun kita bisa berustadz. Tapi ingat, “jangan sekali-kali menggurui…!” kata kawan saya. Guru tak terbentuk oleh sekedar lembaran-lembaran kertas berisi keterangan fiktif terkaan akal. Bukan pula sebatas nama yang dimaktub di gedung-gedung para tuan yang kata persepsi, ia ahli (maha) ustadz. Padalah, kata kawan saya, di gedung itu masih sangat perlu dipertanyakan keustadzannya. Tapi sudahlah, tak penting memikirkan yang hanya mementingkan kepentingan yang dipenting-pentingkan. Hehehe
Justru saya ingat kata guru kampung saya, waktu itu. ”deddhih ghuruh artenah a didik benni ngajher. Adidik artenah kodhuh ngisseeh loar delem, tak bhuto belessen. Ikhlas mikkeren tengkanah muretah“ (bahasa madura). (Menjadi guru berarti mendidik bukan mengajar. Mendidik berarti harus mengisi luar dan dalam. Tak ada pamrih, ikhlas semata memikirkan karakter anak didiknya). Pernyataan beliau yang sehari-harinya hanya sebagai buruh tani itu, memukul dan membuat aku malu. “ini pukulan buat saya”, bisikku, singkat. “kira-kira apa bedanya guru saat ini dengan guru dimasanya jenengan?”, tanyaku, kala itu, semakin penasaran. Dengan paras sedih, beliau menjawab, “Tak taoh se ngucaah kok cong, se jellas bhidheh jheu. Mun lambek maskeh elmo sakonnik, ghuruh riyah e katodusin, muretah dheddih oreng kabbhi san lah toron ka masyarakat. Mun satiyah jhek ghurunah bengtabengan bik muretah”. (tidak bisa aku ungkapkan nak, yang jelas beda jauh. Kalau dulu, meski ilmu sedikit, guru disegani, murid-muridnya jadi orang semua (bermanfaat) ketika turun ke masyarakat. Kalau sekarang, sudah biasa guru main kejar-kejaran dengan muridnya).
Begitu, dialog singkat malam itu. Waktu berjalan tak ubahnya kedipan mata. Semakin berbeda pula tantangan yang dihadapi oleh seorang ustadz. Dalam perjalannya, ustadz dihadapkan dengan berbagai tontonan menarik. Hegemoni menjanjikan tersebar sana-sini. Paradigma guru mulai diputarbalikkan secara tak sadar oleh imajinasi jenius berangka. Ia dijamin negara, sebab ia telah dianggap pahlawan yang potang-panting keras memikirkan kecerdasan bangsa. Apa iya, begitu yang disebut “pahlawan tanpa tanda jasa”?. Entahlah.
Perlahan nilai keustadzan luntur termakan birokratisasi sistem. Saking derasnya, si ustadz terkapar lemas, luluh lantah tak bisa bangun. Ia terpaksa masuk disistem itu. Akhirnya, Oleh angka itu, dibentuk lah motif, model-model dan tangga kelas keguruan. Berbondong-bondong si ustadz sigap berlarian takut tak kebagian tangga. Ada yang jujur (sistemik), ada yang bohong (manipulatif), bahkan ada yang saling menjatuhkan teman, termasuk saudaranya. Terjadilah komedi koplak, bertokoh ustadz. Gemasmegesalkan, bukan?
Dengan komedi itu, artinya, ustadz telah menyumbang penyakit di rumah besar (Indonesia) yang sedang merintih kesakitan ini. Saat ustadz kehilangan wibawa, artinya telah tiba pada masa dimana krisis tauladan menjadi hal yang biasa. Jika begitu, tak ada pilihan lain. Saatnya buka hati dan sadarlah, menjadi ustadz bukan sebatas profesi, tapi pertanggungjawaban diri serta mempersiapkan generasi emas pemimpin negeri. Bukan sekedar menyuguhkan pengetahuan, tapi mengikat batin yang tak berkesudahan. Angkat telunjuk tangan bersama-sama, tunjuk diri, akui kebejatan dan kemunafikan kita. Kembalilah ke hakikatnya. Singkirkan sikap tak mencerminkan teladan, sebab ustadz adalah guru yang senantiasa digugu dan ditiru sebagai panutan.
Tegal ampel, 25 November 2017









