YANG TAK PERLU DIBELA

Gus Dur merupakan salah satu tokoh yang tak pernah usai untuk kita serap setiap lontaran-lontaran pengetahuan dan prilakunya. Sikapnya yang tenang, bijaksana dan penuh dengan pengetahuan, membuatnya (Gus Dur) tak pernah prihatin dan reaksioner dengan berbagai macam persoalan yang ada. Sosok Gus Dur hanya akan prihatin, marah dan lantang bereaksi jika asas-asas dan pilar kebangsaan diotak-atik apalagi ingin dirubah.

Bagi Gus Dur falsafah negara sudah tuntas dan final. Tak perlu diperdebatkan, apalagi dirobek, dihapus kemudian diganti dengan model falsafah baru. Memang, berbagai macam persoalan bakal selalu ada, namun spirit untuk terus mempelajari asas nilai kebangsaan dan keagamaan harus selalu diupayakan dan senantiasa didewasakan secara terus menerus.

Sikap Gus Dur terbukti jelas saat dirinya menjabat sebagai presiden, misal. Kebijaksanaan, prinsip, kometmen dan keberaniannya muncul dan hadir dalam setiap kesempatan yang cenderung dianggap tak tepat dan konyol oleh kebanyakan. Sikap kekesatriaannya tak pudar meski hantaman dan posisinyapun berada pada keterhimpitan yang menegangkan. Ia tak pernah sepakat berkompromi selama ada pelanggaran yang menciderai konstitusi negara. Padahal ketika ditelaah secara mendalam, setiap yang terlontar dari Gus Dur tak pernah ada habisnya untuk terus digali dan dipakai untuk menyikapi berbagai realitas keindonesiaan kala itu, kini dan yang akan datang.

Sejenak kita kembali pada 23 Juli 2001, dimana seorang Gus Dur menghebohkan negeri ini bahkan dunia. Ia ditetapkan lengser secara politis oleh sidang istimewa MPR kala itu. Apakah Gus Dur melakukan pembelaan kala itu meski sampai saat ini Gus Dur tak terbukti bersalah? Jelas tidak. Justru, tanpa meminta dan menghimbau, ribuan bahkan jutaan orang memadati istana negara bertanda tangan dan meminta Gus Dur untuk tidak berhenti menjadi pimpinan negara. Itu terjadi tanpa diminta dan dipolitisasi oleh Gus Dur.

Padahal, ditengah kegentingan mempertahankan jabatan kala itu, Jelas pembelaan tersebut merupakan sebuah keuntungan besar bagi Gus Dur. Sebab mayoritas dan kebanyakan umat islam membela tanpa diminta dan tanpa dikondisikan. Namun gusdur justru meminta jutaan masa yang memadati istana untuk segera balik ke tempat (rumah) masing-masing. Gus Dur rela berhenti dari tampuk kepemimpinan tertinggi negara, dan Gus Dur pun lengser. Baginya apalah arti mempertahankan jabatan jika bangsa ini pecah belah dalam pertempuran dan betumpah darah. Bagi Gus Dur, persatuan dan kesatuan Indonesia menjadi prioritas utama dan harus diutamakan. “Di dunia ini, tak ada jabatan yang perlu dipertahankan mati-matian.” (Gus Dur)

Tak sebagaimana gaya dan prilaku Gus Dur, tibalah saat dimana bermunculan berbagai kelompok, aliansi, front, dan semacamnya, yang menganggap mampu mempersatukan umat dengan status sosial atas dasar agama. Tumpukan masa atas dasar seruan-seruan moral itu dianggapnya suatu keberhasilan dan dipercayai sebagai potret kemajuan keberagamaan. Padahal banyak diantara mereka yang berada ditengah-tengah kerumunan itu tak lain hanya ikut-ikutan saja. Kata kawan saya. Artinya bukan lahir dari panggilan moral personal, tapi dipengaruhi oleh tingginya pengaruh status sosial belaka.

Uniknya, oleh mereka (kelompok tersebut), setiap persoalan selalu ditangkap sebagai suatu kepanikan dan selalu digenting-gentingkan. Padahal, banyak sekali dibalik layar sikap dan tindakan merekalah, Kebhinekaan yang jelas merupakan sunnaatullah dan keniscayaan, selalu saja dibikin alat untuk dimanfaatkan sebagai keperluan yang materialis dan kapitalis (keuang-uangan, nominal dan angka)

Prilakunya selalu ingin menerka persoalan dengan cara kolektif. Islam yang secara jelas dan tegas mengajarkan tabayyun-dialogis kini dibalikkan menjadi seruan-seruan atas nama agama dan dikumandangkan pada khalayak umum untuk menciptakan suatu pembelaan yang harus dengan masa sebanyak mungkin. Tumpukan massa itu kemudian diklaim menjadi suatu kekuatan atas dasar agama islam, padahal klaim tersebut sama sekali tak representatif dengan kalkulasi masa ummat islam secara keseluruhan. Jelas kurang masuk akal.

Agama islam hadir di Indonesia sebagai suatu bentuk wujud pengejawantahan ajaran untuk menjaga kelangsungan hidup bersama, menebar rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin), memberikan kenyamanan dan menyamankan. Bukan justru, islam dipakai sebagai pembelaan dan pengutukan terhadap tindakan-tindakan yang salah. Islam memiliki tanggung jawab moral untuk mengingatkan yang salah, namun bukan lantas dengan spontan melantangkan ujaran-ujaran yang cenderung diskriminatif dan menyalah-nyalahkan.

Islam juga menganjurkan sikap tegas terhadap terjadinya berbagai realitas hidup. Islam menyeru untuk menjaga idealisme, menyatakan yang haq meski pahit sekalipun. (Qulil haqqa wa law kaana murran). Namun tegas bukan berarti mengeluarkan seluruh otot dan melantangkan seruan-seruan menghujat, menyalahkan dan mengutuk. Sebab berhati-hati dan menjaga untuk tidak menyakiti perasaan orang lain adalah prilaku yang harus selalu beriringan dengan sikap tegas itu. Kata kawan saya.

Artinya, bukan berarti tegas jika dalam menyikapi realitas justru melahirkan suatu ancaman dan tak menyamankan sekitar. Tegas berarti suatu upaya mengambil tindakan sebagai bentuk saling mengingatkan antara satu dengan yang lain guna terciptanya kenyamanan dan kesadaran bersama. Tentunya prilaku tegas harus tetap dengan norma dan nilai-nilai keislaman yang semestinya. Yakni memberikan kenyaman terhadap sekian penghuni alam-Nya. Sebab hakikat agama adalah nasihat. “Addinu nashihah.

Bangsa ini terlalu besar dibanding hanya sibuk fokus ngurusi persoalan cadar dan adzan yang hanya menjadi debat kusir dan tak kunjung tuntas. Demikian mestinya terselesaikan secara dialektis dan melakukan perjumpaan. Bukan justru saling sibuk nuding dan menyalah-nyalahkan. Pun, jika media dianggap sebagai salah suatu faktor penjajahan dan penyebab mudah tersebarnya fitnah-finah yang cenderung memecah belah, Maka sikap sigap dan tegas untuk memprioritaskan tabayyun dan dialogis harusnya lebih utama untuk diprioritaskan dan dikedepankan. Apalah arti kesadaran terhadap adanya kolonialis jika sikap dan prilaku kita masih mampu dipengaruhi dan mudah dibawa oleh prilaku kolonialis itu. Bukankah itu prilaku konyol memprihatinkan, bukan?

Pada akhrinya, kesadaran akan pentingnya pengetahuan nilai-nilai keagamaan harus selalu tersemai sedini mungkin. Keberlangsungan hidup hanyalah sebatas kompetisi dan upaya semaksimal mungkin untuk menjadi semakin dekat pada-Nya, tanpa harus sok angkuh dan sombong untuk membela agama. Apa dengan cara membela agama kemudian dinganggap tuntas meraih cinta-Nya? Konyol.

Ingat, Tuhan tak dapat diraih hanya karena pembelaanmu terhadap Agama yang kau klaim sebagai pembelaan agama Tuhan. Tanpa dibelapun ia bakalan tetap menjadibTuhan. Sebab Ia maha segalanya. Pun Ia (Tuhan) tak dapat diraih hanya dengan sekedar pelurusanmu terhadap masalah cadar dan adzan yang semestinya tak begitu penting untuk dipersoalkan itu. Akan skriptualis cara beragama kita, jika kita masih over fanatik terhadap simbol-simbol, atribut-atribut dan slogan. Ia (Tuhan) hadir dalam wujud prilakumu terhadap mereka yang tertindas, terinjak-injak, terdiskriminasi, dan diberlakukan tak adil.

Sebab, “Tuhan tak perlu dibela, bela lah mereka yang diperlakukan tidak adil.” Ujar Gus Dur.

RSU dr. H. Koesnadi, 06 April 2018

YANG TAK BOLEH DIPAKSA

“Hari ini kita telah kehilangan semua akal sehat, kita menjadi dungu.”Ujar Mahatma Gandhi.

Perkataan tersebut terlontar saat tanah Hindustan yang mulanya satu itu, terpaksa harus terkoyak dua dengan dalih agama. Satu tempat untuk orang Hindu-India dan satunya lagi bernama Pakistan-Muslim.

Demikian potret sederhana Hindustan saat orang-orang saling membenci dan membantai satu sama lain. Gandhi dengan ahimsa (perlawanan tanpa kekerasan), melakukan puasa nyaris lima hari tanpa makan minum.

Aksi Gandhi merupakan reminder dan sekaligus kecaman keras pada rakyat Hindustan tanpa kecuali.

Khusus Indonesia yang berada di pelosok garis khatulistiwa, ada satu nama yang layak kita sandingkan terkait peran Gandhi. Nama tersebut menggugah bagi sebagian orang dan memancing sinis bagi sebagian yang lain.

Namun hingga hari ini kita semua sepakat bahwa identitasnya masih mampu menggetarkan kata dan makna “damai” di berbagai penjuru negeri dasawarsa ini dan silam: Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Damai”, yang menurut pengharapan kita hari ini berarti matinya kekerasan, laku diskriminatif, dan tindak intoleran yang terjadi di Indonesia selama ini.

Sosok Gus Dur sendiri sejauh yang kita ketahui lebih cenderung mengarah sebagai vrijdenker (pemikir bebas) yang melengkapi status negarawan dan agamawan yang disematnya. Pendidikan Islam klasik ia peroleh semenjak di pesantren, lalu melanjutkan tempuhan pendidikannya ke Kairo dan terus berbelok ke Baghdad, kemudian selanjutnya menikmati kemodernan Eropa selama beberapa waktu.

Pergulatan akademik, selingkung pengalaman, dan melebarnya wawasan seorang Gus Dur-lah yang berhasil membawa Gus Dur muda yang Islam-Tradisionalis menuju Islam-Progresif. Bersama akumulasi rekam jejak tersebut, Gus Dur dapat dan selalu siap menerima pemikiran modern yang sejatinya, menurutnya, menyegarkan kembali khazanah keislaman itu sendiri.

Sehingga dalam suatu pernyataan Gus Dur soal melahirkan suatu kedamaian, menurutnya perlu kesadaran dan sikap saling memahami antara hak masing-masing dan tak saling memaksa. “Memaksakan kebenaran pada orang lain adalah cara yang tak rasional, meskipun isi kandungannya sangat rasional.” Ujar Gus Dur.

Ada suatu situasi dan kondisi dimana perlu menempatkan posisi dan tindakan yang semestinya. Menempatkan posisi artinya menjadi suatu keharusan untuk mengerti dan sadar atas, apa, siapa dan bagaimana kita. Jika demikian, maka penempatan seluruh tindakan kita tak cenderung merampas ruang hidup dan ekspresi orang lain.

Tak cukup disitu, keberadaan Iman dan agama pun tak menjamin keberlangsungan eksistensi baik dan benar jika keberadaan keduanya tak mampu memberikan pemahaman kepada manusianya. Maka kesadaran terhadap ke-aku-an (mengenal diri) dalam segala bentuk sekmen perjalanan realitas hidup harus senantiasa dipupuk dan ditumbuhkembangkan.

Barangkali setiap yang di bumi memang telah tergariskan rapi di Lauhil mahfudz sana, tapi apalah arti hidup jika tak melakukan pencarian dan terus menerus memperbaiki diri dan berbuat baik serta melahirkan kenyamanan dan menyamankan yang lain.

Dengan demikian, ditengah marak dan menjamurnya tindakan-tindakan serta sikap saling menyalahkan dan berebut saling mengokohkan kebenaran, perlu ada semacam ritual refleksi personal secara rutin yang terus menerus. Perlu permenungan yang ekstra serius guna terus mengenal dan mampu memposisikan diri yang semestinya.

Dalam sabda suci ada bunyi ayat begini, “Man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa rabbahu” Ketahuilah diri kalian, maka kalian telah benar-benar mengetahui Tuhan. Seruan Tuhan ini mengajarkan pribadi kita agar selalu senantiasa menyisir dan menelaah diri sendiri, bukan orang lain. Harus selalu mencari kekurangan kita, bukan kekurangan orang lain. Mencari keslahan kita, bukan kesalahan orang lain. “Sebab hakikat agama adalah mengkritik diri, bukan orang lain” (Dalai Lama).

Jika kesibukan selalu kita tempatkan dan kita pakai untuk berfikir mengoreksi diri sendiri, maka tak bakal ada kesempatan sedikitpun untuk sibuk mengorekosi orang lain. Demikian pula dalam berinteraksi, jelas amanah manusia sebagai hamba hanyalah sebagai penyampai. “Ballighu ‘anni walaw ayah.” Sampaika apapun dariku (Muhammad) walau satu ayat. Perihal kebaikan maupun yang keburukan. Namun, baik bukan justru menghadirkan keangkuhan dan melahirkan rasa paling suci diantara yang lain. Demikian pula ketidakbaikan, bukan malah menganggap yang lain tak baik, apalagi dijadikan sebagai doktrin percontohan yang berunsur kebencian. Hakikat kita hanya penghamba, bukan penghakim. Apalagi pengecap. “Wa maa kholaqtul jinn wal insa illa liya’budun.” (QS. Addzariyaat: 56)

Tiap manusia memiliki ruang privasi dan hak asasi yang tak boleh kita ikut campuri dengan menggunakan cara-cara tak tepat. Semacam mempengaruhi, mendoktrin, apalagi memaksa. Walaupun pandangan kita dianggap benar dan cara yang kita lakukan pun benar-benar benar. Menjadi keliru dan tak logis ketika kebenaran itu dipaksakan pada orang lain meski caranya pun sangat logis.

Sementara Gus Dur berpendapat bahwa, solusi untuk masalah itu sudah ada dari dulu-dulu. Al-Qur’an menegaskan bahwa iman yang terbaik adalah iman yang dialogis-empatik (wajaadilhum billatii hiya ahsan, [16]:25) dan menghargai perbedaan keyakinan (lakum diinukum waliyadiin, [109]:6).

Gus Dur dinilai berhasil membawa “Islam Kita”, sebagai instrumen religio-sosial dalam upaya menciptakan perdamaian dan kerukunan di tengah-tengah keragaman beragama Indonesia. Perbuatan dan perkataan Gus Dur lantang dalam hal ini, “kalau ada yang berpendapat Ahmadiyah salah, silahkan. Tapi UUD Dasar 1945 memberi mereka kebebasan untuk menyatakan pendapat.”

Dalam pernyataan ini, bukan berarti Gus Dur membela keyakinan Ahmadiyah, tetapi membela hak warga minoritaslah yang tetap harus dilindungi. Toleransi memang mengizinkan seseorang untuk menawarkan pandangannya kepada orang lain, tetapi dengan syarat tanpa ada paksaan untuk menerimanya.

Namun toleransi sesungguhnya juga mempunyai batas dan rambu-rambu. Toleransi bukan berarti menoleransi tindakan-tindakan intoleran. Setiap orang boleh diputuskan bersalah atas keyakinannya, tapi tidak setiap dari mereka dapat diperlakukan dengan sewenang-wenang dan seenaknya.

Dengan demikian, jika berinteraksi dengan siapapun berprilakulah sebaik dan sedamai mungkin tanpa harus berucap dengan unsur menyalahkan, membenci, dendam dan semacamnya.

Sejenak Coba telaah bagaimana kanjeng Nabi Muhammad menggauli musuh-musuh dan para pembencinya. Dalam interaksi dan penyebaran islam, beliau tak pernah melakukan pemaksaan. Kepada musuh dan para pembencinya beliau menampakkan prilaku nilai ajaran keislaman yang santun, lembut dan sejuk. Dia (Muhammad) tak pernah dendam dan melakukan pembalasan. Justru kepada mereka yang berbuat jahat pada dirinya lah ia membalas dengan kebaikan. Sehingga banyak dari kalangan mereka (musuh dan pembenci) tertarik untuk masuk islam bukan sebab dakwah-dakwah dan pidato beliau, tapi dari prilaku dan usawah-uswah yang ditampakkan. “Ahsin ilaa man asa a ilaika.” Kata Muhammad. Berbuat baiklah pada yang berbuat jahat terhadapmu. Sungguh luar biasa, bukan?

Hingga pada akhirnya, bahwa ‘perdamaian Indonesia’ haruslah mensyaratkan perdamaian yang berhasil meramu dan merangkul ke(r)agaman Indonesia, bukan ke(s)eragaman. Ada yang muslim, ada pula yang non-muslim, tapi ingat, kita tetap dalam satu rumah yang sama, Indonesia.

RSU Dr. H. Koesnadi, 31 Maret 2018

DUIT DAN KEPERCAYAAN

Malam, selepas berkeliaran tak jelas, saya dan kawan saya menyempatkan mampir sowan ke dhalem Nyai Surti. Sampai di dhalemnya, kudapati Nyai Surti masih istirahat. Namanya murid, saya harus menunggu beliau bangun. Sekitar dua jam lamanya, saya dan kawan saya duduk bermenung sambil ngobrol banyak hal dipendopo kuno beratap jerami tepat depan rumah Nyai Surti.

Kawan saya yang dari dulu penasaran prihal sosok Nyai Surti, sampai malam itu ia penuh kehatian-hatian. Bicarapun ia pelan, semacam berbisik. “Soalnya yang saya tahu Nyai Surti itu kasar kan, kang.” Kata kawan saya saat saya tanya.

“Nyai Surti memang tipikal orang yang secara kasat mata kasar dan menakutkan, tak banyak yang bisa mengenalnya sedalam mungkin, kecuali orang-orang tertentu, Kang.” Kata saya.

“Ilmu beliau dalam dan luas, Kitab-kitab klasik seperti Riyadhoh, Bidayah, Al hikam, Taklimul muta’allim mampu beliau sulap menjadi elaborasi kekinian yang melahirkan kajian menarik dan sangat substansial bin ajaib.” Tambahku.

Wah, kok bisa, kang?” Kawan saya penasaran.

Ya bisa lah kang, yang tak bisa kan kita-kita yang goblok ini.” Jawabku ngakak.

Kawan saya pun ikut ngakak. Hwakakakak. Pertengahan ngakak, pintu Nyai Surti berbunyi, kita lupa kalau beliau lagi istirahat.

Cekrek… Ngapain kok rame-rame disini,? Dasar santri tak beradab!” Nyai Surti membuka pintu sembari sangar menyapa.

Saya kaget, lalu bergegas salaman ke beliau.

Aduh, maaf Nyai. Kita habis keliling-keliling, terus mampir kesini.” Jawabku takdzim.

“Masuk” Ajak Nyai Surti.

“Siap, Nyai.” Jawabku.

Saat di ruang tamu Nyai Surti yang berarsitektur ukiran kuno berselimut bau pekat kemenyan, kudapati kawanku tolah toleh kebingungan.

Aku pun memulai perbincangan.

Cabis ndhalem, Nyai. Jika mau jadi pemimpin bagsa ini, mengapa harus banyak duit Nyai?” Tanyaku.

“Apa? Banyak duit? Duit mbahmu. Dasar ngawur.” Nyai Surti spontan.

Ampun, Nyai. itu saya dengar langsung dari para Tuan-tuan di negeri ini, Nyai.” Responku nakal.

“Tuan siapa? Yang mana? Yang suka pencitraan itu? yang sok manis ditengah kepahitan rakyat itu? Yang berkuasa dengan melemahkan rakyat itu? Yang hanya pinter nyerocos di kaca-kaca tivi itu?” Nyai Surti menjadi.

“Tapi mereka kan pemimpin-pemimpin masa depan kita, Nyai. Yang menampung aspirasi, memberi bantuan, membuat visi-misi dan lain-lain.” Jawabku.

Ndasmu kacau. Visi-misi yang mana? Yang mana? Yang mana?” Nyai surti melotot sangar.

Ampun, nyai.” Aku takdzim.

“Visi-misi yang keluar dari bualan pemimpinnya uang yang kamu maksud tadi, itu? Hah? Iya? Dasar guoblok.” Nyai surti semakin meninggi.

Ampun, Nyai. Saya semakin tak paham.” Jawabku.

“Sebelum kau bicara soal pemimpin, pelajari dulu Ledership (kepemimpinan). Begini, Leadership itu ketauladanan, prilaku dan tindakan. Bukan sekedar mereka yang muncul mendadak ingin jadi pemimpin lalu memunculkan gaya-gaya dan akting yang meracuni rakyat itu. ” Bentak Nyai Surti.

“Maksudnya, Nyai?” Responku.

“Begini, Soal rekrutment kepemimpinan yang wujudnya adalah demokrasi, saat ini lemah dan kering. Sebab pendidikan politik membuat partai politik cenderung melakukan langkah-langkah cepat, cenderung bergantung, tak punya eksistensi, dan pinjam nama.” Jelas Nyai surti sembari menyeruput jamu pahit kesukaannya.

“Belum lagi melambungnya kost perpolitikan, prilaku pungli, mahar politik, jual beli jabatan dan semacamnya. Artinya, demokrasi semenjak dua puluh tahunan lamanya, hanyalah semacam investasi dengan berbagai transaksi, deal-deal dan jaminan-jaminan. Ngerti?” Bentak Nyai Surti.

“Mengapa demikian, Nyai?” Tanyaku.

“Kepercayaan kering dan hilang. Sulit ditemui tauladan-tauladan pemimpin negeri ini. Leadership hanya dihabiskan di panggung-panggung formal. Leadership hanya ditampakkan dengan style-style layaknya manggung dan kondangan. Leadership hanya tinggal bualan-bualan janji gratis di sepanjang jalanan.” Nyai Surti menunduk.

“Padahal kepercayaan merupakan satu-satunya nilai yang sulit digoyah dan digombalin. Ia didasari prinsip kometmen yang kuat. Stephen Covey Jr dalam buku The Speed of Trust menyebutkan, kepercayaan itu di tingkat personal, di tingkat organisasi, di tingkat pasar, dan di tingkat masyarakat.” Lanjut Nyai Surti.

“Maka dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara, kepercayaan tersebut kemudian berwujud pada kepercayaan pada figur-figur utama pemimpin negeri, tokoh masyarakat, termasuk tokoh agama; kepercayaan kepada lembaga pemerintah dan negara; kepercayaan pasar yang berpengaruh pada iklim investasi dan ekonomi; serta kepercayaan pada sistem dan budaya yang berkembang dalam masyarakat. Dari sekian yang saya sebut barusan, kepercayaan itu timpang dan ngambang. Kadang tinggi dan kadang rendah.” Nyai Surti cemas.

“Lalu Bagaimana tingkat kepercayaan bisa terbentuk menjadi tinggi atau rendah, Nyai? Tanyaku

“Tentu kondisi itu bukan tak bersebab. Pada intinya, tingkat kepercayaan yang tinggi menghadirkan rasa yakin dan nyaman atas niat dan tindakan orang lain. Begitupun sebaliknya, saat tingkat kepercayaan rendah, maka yang lahir adalah rasa curiga atas niat, tindakan, integritas, dan kepentingan orang lain tersebut. Nah, menariknya, praktik kehidupan berbangsa saat ini membawa banyak konsekuensi yang mempertebal ketidakpercayaan antara satu sama lain, utamanya pada penyelenggara negara.” Nyai Surti semakin mendalam.

“Masyarakat kehilangan kepercayaan kepada para figur dan tuan-tuan itu. Sebab mereka terlalu asik dalam lingkaran sandiwara kekuasaan, terlalu sibuk mengkokohkan diri dengan frame keoligarkiannya.” Nyai Surti melanjutkan.

“Barangkali prosedur dan perundang-undangan rekruitment kepemimpinan negeri ini sudah jelas dan lengkap, namun lagi-lagi keringnya kepercayaan masyarakat, hadirnya calon-calon prematur yang krisis eksistensi, serta meluasnya paradigma keduit-duitan itu jelas telah menumpulkan demokrasi dan hukum. Hukum tak lagi dipandang sebagai penegakan keadilan, tapi dirasa parsial, tinggal pasal-pasal dan dibikin seenaknya. Yang penting sesuai dengan maksud pihak-pihak yang berkepentingan. Maka, tak usah heran jika seorang nenek yang mengunduh tiga kakao atau mengambil kayu dipenjara tahunan, sementara mantan narapidana korupsi masih bisa mencalonkan diri menjadi pemimpin negeri. Konyol, bukan?” Nyai Surti meratap bengong.

“Masyarakat hanya diharapkan bahkan dituntut untuk percaya kepada semua perangkat negara tanpa ada upaya yang jelas untuk meraih kepercayaannya. Bisa kita bayangkan betapa besar biaya materiil ataupun imateriil akibat tingkat kepercayaan yang rendah ditengah-tengah masyarakat. Dan persoalan ini tidak pernah ditanggapi dengan serius. Tidak ada upaya untuk menilai dampaknya dan lalu menyusun langkah komprehensif untuk mengatasi keroposnya kepercayaan yang terus menerus ini. Baru kalau yang berkaitan dengan iklim investasi dan industri, berbondong-bondonglah mereka para tuan-tuan dalam memutilasi norma hukum dan menjilat penuh rakus.” Nyai surti ngelus dada.

“Lalu, Nyai?”

Lalu,.. lalu,.. mbahmu! Sana, pulang! Pimpin dulu dirimu sendiri. Sebab pemimpinmu ya dirimu sendiri, bukan yang lain. Paham? Sampai kapan kau pelihara tololmu itu? Banyaklah belajar soal leadership dari sosok Gus Dur. Beliau menjadi pemimpin bangsa ini tanpa tim sukses dan tanpa duit serupiahpun. Sebesar Indonesia, Bekal Gusdur, satu. Kepercayaan masyarakat. (Wawancara; Kick Andi) Ngerti?” Nyai Surti berdiri siap-siap meninggalkan tempat.

“Siap, Nyai.” Aku salaman dan pamit pulang.

Aku pulang, jarum jam menunjukkan pukul 01.00 WIB. Jalanan gelap pekat, aspal berlubang dengan genangan air keruh memprihatinkan.

Pejaten, 20 Maret 2018

SIRKUS – SIRKUS BODONG

Subuh, di ruang tamu kediaman Nyai Surti, saya mendapatkan wejangan-wejangan konyol perihal realitas sosial kemanusiaan. Bagi Nyai Surti saat ini manusia tak lain hanyalah ‘Sirkus-sirkus Bodong’. Manusia selalu saja membikin kerusakan dengan akting-akting yang oleh mereka sediri pun tak dimengerti. Nyai Surti yang merupakan nyai kampung si penguasa segala ilmu itu membuka wejangannya,

“Dalam teks suci sudah jelas, ketika Tuhan bakal mencipta Adam sebagai khalifah di muka bumi. Malaikat telah mempernyatakan, kan? Bahwa Adam dan cucu-cucunya hanya bakal menjadi pengacau, perusak dan saling membunuh. ‘Ataj’alu fiha man yufsidu fiha wa yasfikuddimak’. Terhadap pernyataan itu, kemudian Tuhan menjawab simpel, ‘Inni a’lamu ma laa ta’lamun’ saya lebih tahu dari apa yang tak kamu ketahui. Pernah dengar?” Nyai surti menyodori aku pertanyaan.

Ampun, Nyai. Belum pernah dengar.” Jawabku takdzim.

“Ya benar, pantesan hidupmu kacau dan mengacaukan. Atau jangan-jangan justru kekacauan yang kau buat itu tak kau sadari, ya? Dasar Santri Goblok!” Nyai Surti meninggi.

Ampun, Nyai. Saya benar-benar bingung, Nyai.” Sahutku sungkem.

“Bagaimana kau tak bingung, lah wong kepalmu cuma kau pakai buat mikiri perut dan pantat keparatmu itu. Santri iku kudu cerdas, Goblok!” Nyai Surti sangar.

“Sumet kemenyan disampingmu itu!” Nyai Surti memintaku meyumet butiran kemenyan kuno dalam plastik tepat disampingku. Sepertinya kemenyan itu kemenyan arab, sebab baunya betul-betul menyengat hidung.

Sembari ku sumet kemenyan, Nyai Surti melotot tajam, fokus memandangiku, aku tolah toleh, plonga plongo, grogi dan ketar-ketir. Sepertinya bakal ada omelan lanjutan. Namun, Bagi saya, tiap omelan Nyai Surti tak ada yang tak filosofis. Tak lama berselang, sambil menghirup aroma kemenyan arab kesukaannya, Nyai Surti melanjutkan.

“Kenapa kok plonga plongo, Goblok? Lagi mikir tololmu? Dasar santri tak berkelamin!. Teks suci tadi itu terdapat di Qur’an Surat Al-Baqarah; Ayat 30. Santri harus tahu dan paham itu, sebab sejarah keberadaan kepala tololmu yang sekarang didepanku ini, ada lengkap dan orsinil dalam ayat itu. Jadi Santri, gak jelas kelamine. Dasar!” Nyai Surti semakin menjadi.

Aduh, ampun, Nyai aku tak berkutik.

“Tuhan menciptamu bukan tak bermaksud, Goblok!. Pun bukan tak melalui sejarah ilmiyah yang panjang dan lebih dari sekedar filosofi-filosofi. Teks suci itu tadi penjelasan wahyu, bukan sebatas segmen-segmen sinetron buatan akal pengacau seperti yang dikepalamu itu.” Bentak Nyai Surti.

“Beri saya gambaran, Nyai. Sungguh sangat pusing kebingungan, saya, Nyai.”

Innalillahi wa inna ilahi raji’un. Kamu ini benar-benar musibah ya. Begini, Tolol. Kerjaan manusia sepertimu itu, saat ini hanya disibukkan oleh sikap sikap tergagap-gagap menangkap keadaan, jargon-jargon perubahan revolusioner diuntai dipermatakan, padahal jelas-jelas nyata sering gagal dalam merumuskan dasar-dasarnya secara detail dan prinsipel. Mereka gampang puas diri, tak mampu meyakinkan publik, tak supel bergaul, tak kuasa keluar dari stigma yang mengkerdilkan jalan otaknya, gampang berantem, berebut paling pintar, bahkan dari saking kelewatan ber-akting kadang mereka lupa dan tak sempat untuk ketawa. Tualah mereka sebelum waktunya. Akalnya muda, kulitnya kriput. Persis sepertimu itu.” Hwakakakak. Nyai surti ketawa terbatuk-batuk.

Aduh, sendiko dawuh, Nyai.”

“Itu sekilas beberapa potret dasar kawan-kawanmu yang persis dengan goblokmu. Ngerti?” Nyai surti mengelus keris pusaka kunonya.

Enggeh, Nyai. Tapi belum begitu nyantol, Nyai.” Sahutku nakal.

“Ya iya, kamu kan memang produk kegagalan berjamaah dari mereka-mereka yang bisanya hanya sok-sok-an itu. Ya jelas dirimu tolol kuadrat. Goblok!” Nyai Surti meninggi.

Aduh, ampun beribu ampun, Nyai.”

“Begini, Saat ini manusia hanya pintar bikin sekolah-sekolah, pelatihan, kongkow-kongkow, kemudian bikin Grup WhatsApp (GWA) dan dikelompokkan. Dengannya dianggap cara efektif untuk menunaikan pengakomodiran proses dan membikin lebel pejuang humanisasi. Kau kira semudah dan sesimpel itu bikin kemanusiaan yang memanusiakan? Lalu, usai dilatih di sekolah-sekolah, kongkow-kongkow dan lainnya itu, mereka bisanya hanya berebut di depan dan harus dianggapnya paling pintar. Jalannya dimodel sedemikian rupa, aktingnya makin menjadi, doktrin-doktrin pedas selalu diuntai dan ditularkan dengan sikap ketakwarasannya. Ini kan jelas-jelas penyakit. Padahal, tak usah jauh-jauh, kondisi empiris yang saat ini lumrah terjadi, misal, mereka dan pasukan-pasukan tadi punya tiga puluh anggota, tak sampai sebulan paling selamat tinggal dua puluh. Diajak rapat, semuanya saling merapatkan alasan. Dikeluarkan dari Grup, jadi persoalan baru. Sebulan-dua bulan sudah tinggal nama dan jargon-jargon. Sebegitu biasakah realitas itu dapat cukup kita terima?” Nyai surti mendalam.

Ampun, Nyai.”

“Ompan Ampun, makanya punya kepala jangan cuma dibawa kesana-kemari dalam kegoblokan, goblok! Itu baru di internal, belum keluar. Soal faktor (gejala) nya, Gambaran sederhana saya begini, ditengah maraknyanya gerakan gerakan kolektif berlebel progresif itu, manusia lebih-lebih anak mudanya terlalu berlebihan berfikir maju dan justru membabi buta dalam menyikapi kondisi politik yang buntu dilingkaran oligarki, atau sebab faktor lahirnya perpecahan dari hal-hal yang sepele, tak prinsip yang dibesar-besarkan, Atau bahkan justru mereka hanya teracuni oleh uforia sekolah-sekolah, kongkow-kongkow manis mematikan yang tak substantif itu.” Nyai surti mendalam.

“Sehingga, dugaan saya, jangan-jangan munculnya lebel-lebel revolusioner kolektif yang penuh dengan spekulasi itu tadi justru bukan pertanda kemajuan, tapi kemunduran kolektif. Nah, ini jelas kacau mengacaukan, bukan?” Mata Nyai Surti melotol keatas atap.

Ampun, Nyai. Saya makin tak paham.” Jawabku.

“Udah lah, bagaimana kamu paham, wong kerjaanmu cuma tidur, makan, jalan, ngopi tak jelas. Bahkan parahnya, jangankan memahami Qur’an, tahu aja kamu, enggak. Kau kira Qur’an itu fosil-fosil di museum Stasiun kereta Api itu?. Nyai Surti menggebrak meja ukirnya.

Aduh, ampun. Nyai.” Aku menyimak, takdzim.

“Kembali ke awal cerita penciptaan Adam tadi. Guna meyakinkan pertanyaan (ragu) Malaikat terhadap penciptaan Adam dalam ayat tadi diawal (Al-Baqarah; 30), tuhan melanjutkan sabdanya, begini. ‘Wa ‘allama adamal asma a kulkaha tsumma ‘aradahum ‘alal malaikah.’ Maka Adam diajari seluruh nama-nama dan kemudian dipresentasikan didepan malaikat. Malaikatpun keteteran penuh kagum menyaksikan pengetahuan adam (nama-nama tadi) yang sama sekali tak ia miliki. ‘Subhanaka laa ‘ilma lanaa illa maa ‘allamtana innaka antal ‘alimul hakim’, kata Malaikat. Intisarinya, Kalimat ‘asma a kullaha’ bukan belaka nama-nama saja (skriptualis), melainkan mencakup seluruh kandungan nilai yang terdapat dalam nama-nama itu (substansi). Sebab setelah kalimat ‘asma a’ (nama-nama) ada ‘kullun’ dan dhomir ‘ha’ yang kembali pada kalimat ‘asma a’. Yang dalam terminologi logisnya itu adalah penjelaskan secara mendalam (substantif) perihal nama-nama itu tadi. Jelas?” Nyai Surti melotot.

Aduh, makin kacau pikiran saya, Nyai.” Jawabku menggerutu.

Dasar guoblok! Begini saja, diantara mereka (manusia) saat ini terbuai oleh kemasan-kemasan fisik yang menipu. Termanipulasi oleh yang tampak luar. Ya, jelas hanya lelah dan payah yang bakal mereka dapat. Sebab bukan isi dan nilai yang mereka tuju. Buku selalu dilambai-lambaikan dikeseharian, padahal pengetahuanlah dasar pokok isinya. Kaya mereka anggap tujuan (isi), padahal hati yang gembiralah isi yang sejatinya. Kharismatik selalu saja mereka kejar, padahal karakter maksud utama yang semestinya. Jabatan dan kekuasaan mereka anggap paling penting, padahal pengabdian dan pelayananlah substansi pokoknya. Jelas?” Bentak Nyai Surti.

Enggeh, jelas, Nyai” Sahutku.

“Sudah, sana keluar, kasi makan burung kakak tuaku. Lalu pulanglah!. Saya Istirahat dulu.” Nyai Surti meninggalkan kursi ukirnya.

“Siap, Nyai”

Usai ngasih makan burung, mentari terbit, saya bergegas pulang sembari meratapi kesabaran manusia-manusia pinggiran ditengah becek dan mencemaskannya aktifitas pasar-pasar tak berkemanusiaan itu.

Pejaten, 05 Maret 2018

AGAMA ILMUWAN, TUAN DAN TUKANG BECAK

Imam Al Ghazali berkata begini;
“Fasadur ro’iyah bifasadil umaro wa fasadul umaro bifasadil ‘ulama wa fasadul ‘ulama bi hubbil mal wal jah”. Rusaknya rakyat sebab rusaknya pemimpin, rusaknya pemimpin sebab rusaknya para ilmuwan, rusaknya ilmuwan sebab cinta harta dan kedudukan.

Pagi itu mendung, hitam pekat. Di warung bu Ruk, warung yang sangat sederhana tepat di depan kantor PC NU Bondowoso, seorang tukang becak setengah tua menghampiriku. Namanya kang Edi.

“Oreng benyak se penter, tapeh sakonnik se ngarteh (orang banyak yang pintar, tapi sedikit yang mengerti)” Kata kang Edi, Spontan.

“Loh, kok bisa, kang?” Tanyaku.

“Satiyah riya elmo benyak, tapeh tatakramah tadhek (sekarang ilmu banyak, tapi akhlak tidak ada)” Kang Edi semakin mendalam.

Sambil menyeruput kopi hitam pekatnya, kang Edi melanjutkan,

“Akhir-akhir ini, tak jarang dijumpai para ilmuwan memberi pendapat pesanan, memberi masukan manipulatif hanya untuk kedudukan dan kekuasaan semata. Banyak kawan-kawan saya dulu yang wajahnya gelap saat ini terang terawat, dulu dungu saat ini mampu berkhutbah ditengah-tengah kerumunan para wartawan. Tapi sayang daya ingatnya luntur tak kaprah. Mereka terlalu banyak memikirkan rakyat, negara, politik, kebudayaan, ekonomi, cita-cita, kepahlawanan, kegagahan, kekayaan, kekuasaan, kemewahan, bahkan wanita-wanita simpanan.” Kang Edi mengepulkan rokok Dji Sam Seonya.

“Mengapa begitu ya, kang?” Aku semakin penasaran.

“Maka tak usah heran jika rakyat rusak. Bagaimana tidak, lha wong mereka bertindak selalu pakai akal dan seenaknya sendiri. Nafsu-nafsunya selalu melahirkan keambisian yang membabibuta, hatinya tak dipakai.” Kang Edi tangkas.

“Inna fil jasadi lahdhotun, idza hasunat hasunat jasadu kullun wa idza fasadat fasadat jasadu kullun, hiya Al-Qolbu.” Sungguh dalam jasadmu itu terdapat segumpal darah, jika itu baik maka baik seluruh jasadmu, begitupun sebaliknya.” Kang Edi lantang.

Hmmm, apa itu, kang?” Tanyaku.

“Ya hatimu itu, cong” kang Edi mulai sangar.

Kang Edi yang bertubuh mungil, hitam dan bertopi koboy itu, sepertinya bukan orang biasa. Besitku dalam hati. Aku pun mendengarkan saja tanpa banyak omong.

“Oleh prilaku-prilaku biadab itu (tak pakai hati), tak jarang kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan aparat mulai luntur, masyarakat bingung, mereka krisis panutan. Setiap keterangan dicemooh, setiap informasi dianggap bohong dan dianggap permainan. Maka, kosekuensi logisnya masyarakat akan berjalan sendiri-sendiri. Dan itu bahaya. Paham?” Kang Edi makin sangar.

“Seringkali terjadi hambatan-hambatan yang membuat pelaksanaan kenegaraan macet sebab selalu saja dipolitisir. Akibatnya bukan keadilan dan pemerataan yang hadir di negeri yang kaya ini. Para ilmuwan terlalu sibuk dengan peci putih, surban, beristri banyak, bahkan menjadi makelar haji dan sedekah. Iklan-iklan menjadi ayat suci dan sulit dibantah.” Kang Edi semakin mendalam.

“Bukankah itu semua wajar, sebabkan perbedaan kang? Dalam agama, berbeda kan wajar-wajar saja kang?” Tanyaku, nakal.

“Betul, perbedaan itu memang mutlak ciptaan tuhan. Artinya, siapapun yang tak percaya perbedaan berarti melawan tuhan. Tapi bukan disitu masalahnya, cong. Ingat! Satu, dalam bertindak dahulukan hatimu, jangan akalmu. Biar gak pelupa diluar kodrat kayak teman-temanku yang tadi aku ceritakan. Yang kedua, Agama sebagai washilah penjunjung kemanusiaan jangan kau campuri dengan keperluan-keperluan tak prinsip (dehumanisasi). Beragama jangan terlalu ekstrim yang pakai akal itu tadi. fanatik penting dalam beragama dengan baik, tapi bukan untuk melahirkan prilaku ekstrim, ingin berkuasa atas dasar agama, dan seenaknya sendiri, Ngerti?” Bentak kang Edi.

“Aduh, enggeh enggeh siap, kang.” Jawabku konsentrasi.

“Sebab perbedaan yang mutlak ciptaan itu tadi, sering dijadikan alat berpecah belah untuk menguasai. Ya tuan-tuan dan para ilmuwan yang salah cara beragamanya itu tadi pembikinnya. Mereka yang hanya pakek akalnya itu tadi, hatinya dibuang. Padalah, terhadap hambanya, Allah sungguh sangat toleran dan agung menyikapi perbedaan dalam kepemimpinan. Kalo gak percaya, ini. Disetiap tuhan menyeru pada yang beriman, pasti tuhan menyebut dirinya sebagai ‘Allah’ (Ya ayyuhalladzina amanu ittaqullaha. Wahai orang yang beriman takutlah kalian kepada Allah). Tapi kepada manusia yang belum tentu beriman, dan belum tentu tuhannya bernama Allah, Dia menyebutnya sebagai ‘tuhan’ (Ya ayyuhannasu i’budu rabbakum. Wahai manusia, sembahlah tuhanmu). Jelas kan?” Kang Edi sambil menghitung uang receh hasil nariknya.

“Makanya hidup itu jangan cari nama, posisikan dan hibbahkan dirimu untuk kemanusiaan. Berikan kenyamanan pada sekitar. Jangan terus-terusan berspekulasi di panggung dengan seragam dan topeng-topeng palsumu itu. Kau kira hidup ini sirkus?” Tatapan kang Edi tajam.

“Tapi jarang loh, kang. Tuan-tuan dan para ilmuwan yang begitu.” Sambungku.

Wes lah, jangan sibuk ngurus mereka. Sekarang ajari dirimu untuk tak memaksa orang sama denganmu, agama itu sumbernya satu (Tuhan). Jangan selalu meributkan hal yang sejatinya tak perlu diributkan. Junjunglah kemanusiaan, keadilan, dan kemaslahatan” Kang Edi penuh tatap.

Soal pemimpin tadi diawal, Ibnu Taymiyah pernah ngomong begini, cong. “Tabqo addaulah al ‘adilata wa law kanat kafirotan, watafna addaulah addholimata wa law kanat muslimatan. Akan kuat suatu negara kalau dipimpin dengan adil meskipun yang mimpin kafir atau tidak. Akan hancur suatu negara yang dipimpin dengan dholim tak perduli pemimpinnya muslim atau tidak. Artinya yang perlu diprioritaskan itu keadilan dan kemaslahatan, bukan agama. Ngerti? Sebab Tashorroful imam ‘alarroiyati manutun bil mashlahah. Pemimpin terhadap rakyatnya harus melahirkan maslahat bukan tipu muslihat. Jangan sibuk menyimpulkan sesuatu, salah, haram, kafir dan lain-lain. Wabil khusus membid’ahkan manusia. Teruslah koreksi dalam dirimu dan semai nilai-nilai kemanusiaan. Jangan sibuk menyimpulakan manusia. Bukankah tuhan maha bid’ah (kreatif)?.

“Satu lagi, hidup jangan terlalu pemarah dan reaksioner, semua ingin baik dan ingin menyembah tuhannya dengan baik dan ingin melaksanakan ajaran tuhannya dengan baik. Jangan menganggu. Sebab hakikatnya agama itu pembawa damai. Adalah salah kamu beragama ketika kamu tidak damai. Harusnya orang yang beragama itu tidurnya nyenyak, makannya enak, selalu tersenyum saat bertemu orang lain, senang kepada orang lain dan disenangi orang lain.” Kang Edi menyedot rokok kreteknya.

“Aduh, siap siap kang. Lalu, kang?” Aku semakin mendalam.

“Perlu kerjasama antar semua elemen. Perlu membangun kesadaran bersama bahwa kondisi mengambang layaknya saat ini sungguh membahayakan. Edukasi akhlak perlu terus ditekankan, bukan justru terus-terus membenarkan semuanya atas dasar kedekatan dan kekeluargaan. Agama terlalu berharga untuk ditukar dengan bualan-bualan yang menjanjikan jalan pintas. Sebab Tuhan tak mudah ditemukan lewat khayalan dan halusinasi.” Kang Edi mematikan putung rokok kreteknya.

“Sudah, begitu aja dulu ya. Aku narik dulu, ini sudah jamku narik.” Kang Edi bergegas mengayuh becaknya menuju pasar induk Bondowoso yang mencemaskan.

Blindungan, 1 Maret 2018

AKU DAN KIAI SUTARA

“Diluar banyak dan padat godaan, beda sama kehidupan di pulau.” demikian pernyataan Aji Santa dalam sireal Legendha Angling Dharma.

“Benar dan salah sulit dibedakan. Membela kebanaran memang gampang. Iya, tapi kadang nafsu membelokkan kebenaran dengan iming-iming (godaan itu tadi)” Lanjut Aji Santa sambil menyiapkan pelayaran dengan perahu kayu itu.

Pernyataan Aji Santa soal realitas, menarik jika dipadukan dengan relaitas dalam pandangan Kiai Sutara.

“Hampir semua manusia menganggap semua yang dilakukan benar, hingga benar dan salah kadang kacau, sebab Kebenaran terlalu banyak pemiliknya. Sementara kebenaran yang hakiki adalah milik-Nya dan setiap yang murni dari nuranimu, bukan?.” Mungkin begitu yang dapat sedikit saya simpulkan substansi dari beberapa teks-teks dalam ‘Serat Kiai Sutara’.

Setahu saya, Kiai Sutara ialah kiai nyentrik 87 tahunan yang masih teguh kokoh dan rutin dengan ciri khas perokok berat dengan kopi pahit kesenangannya. Tanpa keduanya, seolah otak kiai Sutara tak encer dan beku. Dengak bekal kitab-kitab klasik yang langka dan jarang dikeramaian, kiai sutara mampu menjelmakan kemampuannya untuk menyulap realitas dengan kedalaman pengetahuan yang substansial. Menariknya, di tengah perkembangan yang serba cepat ini, tak ada satupun yang tak bisa ditashih oleh kiai Sutara.

“Agama bukan yang di tivi, bukan yang di masjid-masjid, bukan yang dibuku-buku hasil cetakan itu. Pun bukan yang keluar dari mulut-mulut para da’i, ustad dan iklan-iklan. Agama itu dihati dan perbuatan yang luhur, meringankan sesama, dan melunasi nilai-nilai kemanusiaan.” Demikian tutur kiai Sutara.

Beragama tak mesti memberhalakan Al-quran, Hadist dan kutipan-kutipan yang diindah-indahkan dari tulisan-tulisan arab itu. Agama itu prilaku, berbuat, menangkap sekitar dengan sigap tanpa tirai-tirai pencitraan. Beragama perlu keimanan, iman harus dibuktikan bukan dijadikan barang bukti. Ia sejatinya prilaku bukan pengakuan.

Hidup menjadi ngawur jika hanya diuntai dengan khutbah-khutbah dan pidato-pidato gombal. “Udah lah, cukupkan lagu-lagu itu saja yang gombal.” Kata kawan saya. Berlakulah hidup yang wajar dan tak timpang. Sebab ketimpangan melahirkan ketidak seimbangan. Ketidakseimbangan mengacaukan bahkan menghancurkan.

Kesadaran yang tertutup dan tak seimbang akan selalu merendahkan yang lain. Olehnya rakyat dikhutbahi, ia cabuli kedaulatannya, ditepuknya dada naasnya dan membaiat dirinya sebagai pahlawan kesejahteraan, pahlawan kepedulian bahkan pahlawan keperihatinan.

Demikian, akan selalu terbangun sebagai pemilik kebenaran dan harus selalu dibenarkan. Setiap sekitar didefinisikan sebagai yang salah, yang sesat, yang lemah dan tak bisa apa-apa. Akalnya dikuasai prilaku kebinatangan. Nafsunya buas, angkuh, dan menjijikkan.

Olehnya, agama dijadikannya bahan untuk menyatakan diri sebagai yang paling sempurna. Dengan agama, dianggapnya ialah satu-satunya yang selamat dan penyelamat. Tak ada yang mampu menyelamatkan selainnya. Padahal agama belaka wasilah (perantara) untuk sampai kepada-Nya.

Agama hadir sebagai alat berkasih, bersantun, dan berarif. Menjadi tak benar jika agama selalu dijadikan bahan untuk membenarkan diri dan menyalahkan, pun tak menjadi benar dengan mempersalahkan yang lain. “Innaddina ‘indallahil islam” Sebab Agama adalah memberikan keselamatan (bukan agama islam), kata Gus Dur.

Konyol dan biadab jika agama tak menyelamatkan dan tak melahirkan kenyamanan. Agama, pun hadir tak untuk membandingkan diri dengan yang lain, bukan berlomba saling menilai mana yang terbaik beragama. Hakikat agama berbuat baik tanpa harus dinilai baik, memberikan ketenangan tanpa harus diangap penenang, mendamaikan tanpa lebel pejuang damai, membijakkan tanpa predikat, menyamankan tanpa pringkat. Sebab beragama bukan berkalkulasi dan berhitung dalam angka-angka. Ia menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.

Sehingga, bagi saya, spirit penularan nilai kemanusiaan yang selalu terlontar dari diri kiai Sutara membuatnya tak hanya dimiliki oleh orang islam saja, orang dengan agama lainpun merasa tenang dan banyak belajar oleh tarian serat-seratnya. Oleh kiai Sutara yang bagi saya adalah ma’rifat, permenungan-permenungannya sangat mendalam. Baginya tak ada realitas yang perlu dipersoalkan. Semua hanya berjalan dan harus seyogianya menshalehkan diri dan terus menebar keshalehan tanpa mengutuk dan mengkafir-kafirkan yang lain.

Sudut pandang luas dengan sajian bentakan-bentakan tegas spontan selalu kaya makana, menghidupkan setiap yang mati, meng-universalkan cara berfikir dan melebarluaskan setiap yang sempit. Siapapun yang bertatap langsung dengan kiai sutara, pasti didapatinya nilai dan tak pernah berbeban. “Tertawa dan menertawakan diri adalah kunci menjelajah hidup.” Tutur kiai yang hobi dengan rokok kretek ini.

Oleh kiai Sutara, dibuka seluruh satir yang condong memenjarakan akal dalam berpersepsi dan mendefinisikan realitas hidup. “Apalah arti hidup, jika tak menghidupkan dan menghidupi? Tak guna kuat, tapi tak menguatkan yang lemah, tak manfaat jika besar hanya membesar-besarkan diri tanpa menoleh dan terus menginjak-injak yang kecil dan lemah.” Begitu seruan-seruan kiai yang kerap menghutbahi relaitas dengan uswah-uswah kesehariannya.

Barangkali hidup memang perlu permenungan mendalam yang terus-menerus. Namun hidup tak akan hidup jika hanya terus-terusan capek menyembah Allah tanpa meneladani sifat dan nama-namaNya. Dia maha pengasih, pun penyayang. Maka kasihi dan sayangi setiap yang disekitar.

Hidup bergama memang harus didasari keimanan yang diamini. Tapi, apalah arti beriman yang diamini jika tak melahirkan kemananan, kenyamanan dan ketenangan.

Pada akhirnya, kita tahu bahwa iman dan agama tak lain adalah integral yang selalu menyemai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bukan?

Gebang, 27 Februari 2018

SALAH PENGERTIAN

Ditengah ramainya teror yang tak lagi asing di negeri ini. Ada yang menarik untuk dapat diuntai sebagai kerangka pemahaman yang lebih serius. Perlu kacamata yang lebih universal dan koperhensif dengan berbagai sudut pandang yang arif, bijak dan tak jomplang.

Artinya, Bhineka Tunggal Ika sudah perlu direvitalisasi dan direposisikan ke tempat semula. Banyak aksi kekerasan dengan motif agama dan perbedaan keyakinan. Implikasi nyata perusakan rumah ibadah, aksi bom bunuh diri dan aksi terorisme lainnya sudah menjadi sarapan kita sehari-hari.

Dalam kitab at-Tabaqat karya Ibnu Sa’d dikisahkan bahwa, suatu ketika datang utusan Kristen dari Najran berjumlah enam puluh orang ke Madinah untuk menemui Nabi, Nabi menyambut mereka di mesjid Nabawi. Menariknya, ketika waktu kebaktian tiba, mereka melakukan kebaktian di masjid. Sementara itu, para sahabat berusaha untuk melarang mereka.
Namun nabi memerintahkan: “da’uuhum” biarkanlah mereka.

Melalui perintah tersebut, sahabat memahami bahwa Nabi mempersilahkan mereka untuk menggunakan masjid Nabawi sebagai tempat kebaktian sementara. Mereka melakukan kebaktian dengan menghadap ke timur sebagai arah kiblat mereka. Peristiwa bersejarah yang menunjukkan sikap toleransi nabi ini terjadi di hari minggu setelah Asar tahun 10 H.

Sebagian ahli tafsir modern mengaitkan hadis tersebut dengan sabda suci surat al-Baqarah ayat 114.

“Wa man adhlamu mimman mana’a masajidallaha an yudzkara fihasmuhu wa sa’a fi khorobiha, ulaaika ma kana lahum ian yadhuluha illa khoifina lahum fiddunya khizyun wa lahum fil akhiroti ‘adzabun ‘adzim”

“Lalu, siapakah yang tepat dianggap lebih zalim daripada orang-orang yang berusaha melarang dan menghalang-halangi disebutnya nama Tuhan di tempat-tempat peribadatan serta berusaha menghancurkan tempat-tempat tersebut. Padahal mereka tidak berhak memasukinya kecuali dalam keadaan takut kepada Tuhan. Kelak mereka (yang menghancurkan tempat-tempat peribadatan) akan mendapatkan kesengsaraan di dunia dan siksaan yang berat di akhirat.”

Dalam The Message of The Quran, Muhammad Asad menerjemahkan kata masajid pada ayat di atas sebagai Houses Of Worship ‘tempat-tempat peribadatan’. Tak hanya Muhammad Asad, dalam Tafsir al-Mannar, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha juga menerjemahkan masajid pada ayat di atas sebagai ma’abid ‘tempat-tempat peribadatan’ umum, bukan sekedar peribadatan umat Islam. Penerjemahan masajid sebagai ‘tempat peribadatan’ secara umum dan bukan sebagai ‘tempat peribadatan Islam’ secara khusus. pada ayat di atas jelas merupakan terjemahan yang merujuk kepada makna generik dari masjid itu sendiri.

Dalam kaidah sorfiyyah, Masjid berasal dari kata sajada-yasjudu-sujudan-masjidan, yang secara harfiah berarti tempat bersujud, tempat menyembah, apapun sesembahannya. Baik itu agama Majusi, Budha, Hindu, Konghucu dan lain-lain.

Seiring perkembangan, masjid sering diidentikkan sebagai tempat peribadatan umat Islam. Ketika mendengar masjid, benak kita akan segera tertuju kepada mesjid yang merupakan tempat ibadah agama islam. Konsekwensinya, jika pemahamannya terus-terusan begitu, jelas akan susah memahami al-Quran dan beberapa hadith Nabi.

Sebab ketika menelusur lebih jauh penggunaan kata ‘masjid atau masajid’ dalam al-Quran, kita akan menemukan bahwa kata masjid tidak selalu merujuk kepada ‘tempat peribadatan Islam’ melainkan bisa bermakna sinagog, amalan ritual, tempat konspirasi dan lain-lain.

Sebagai misal Masjid dalam arti tempat peribadatan Yahudi atau sinagog, dapat pula kita temukan dengan mudah pada penggunaan katamasjid al-aqsha pada QS. al-Isra: 1 dan penggunaan kata masjid pada QS. al-Isra: 7.

Sedangkan masjid dalam pengertian sebagai amalan ritual terdapat pada QS. al-A’raf: 31.

Masjid dalam pengertian sebagai tempat konspirasi orang-orang munafik dengan Abu Amir ar-Rahib dan kaum Musyrik Quraish untuk menghancurkan umat Islam dari dalam terdapat dalam QS. at-Taubah: 107.

Masjid yang difungsikan sama dengan sinagog, gereja dan biara (yakni sebagai tempat untuk menyembah Tuhan) terdapat QS. al-Hajj: 40.

Dengan pemaknaan yang lebih luas terhadap bentuk plural dari masjid pada ayat ini, Asad menjelaskan, bahwa salah satu prinsip yang paling fundamental dalam Islam, yakni prinsip bahwa setiap agama yang memiliki keyakinan terhadap Tuhan sebagai ajaran utamanya harus dihormati dan dihargai meski dilihat secara keyakinan sangat bertentangan.

Karena itu, menurut Asad, setiap muslim diwajibkan menghormati dan menjaga tempat peribadatan agama apapun yang diperuntukkan untuk menyembah Tuhan, baik itu masjid, gereja atau sinagog. Dan karena itu pula segala usaha untuk mencegah dan menghalang-halangi para penganut agama lain untuk menyembah Tuhan menurut keyakinannya sangat dilarang dan bahkan dikutuk oleh al-Quran sebagai sebuah kezaliman, bahkan dianggap sebagai bentuk kezaliman yang paling besar.

At-Thabari dalam Jami al-Bayan fi Tafsir ayat Min Ayil Quran menafsirkan ayat di atas sebagai ‘Siapa yang lebih ingkar kepada Allah dan menyalahi segala aturannya selain dari orang yang menghalang-halangi disebutnya nama-Nya di tempat-tempat peribadatan dan berusaha menghancurkannya.’

Dalam pandangan ini, jelas bahwa at-Tabari mengkategorikan orang-orang yang tidak menghargai tempat peribadatan sebagai orang yang paling ingkar terhadap eksistensi Allah.

Kisah yang dikutip dari kitab at-Tabaqat karya Ibnu Sa’ad di atas dan kaitanya dengan QS. al-Baqarah: 114 menunjukan bahwa Nabi menerjemahkan secara langsung semangat al-Quran untuk menghormati segala bentuk tempat peribadatan dalam praksis nyata.

Demikian juga semakin dipertegas dengan kenyataan bahwa Nabi selalu memerintahkan para sahabat untuk tidak merusak tempat-tempat peribadatan dalam peperangan. Artinya Nabi sangat menghormati dan menghargai tempat-tempat peribadatan agama lain meski secara keimanan sangat berbeda secara amat mendasar. Bahkan pasca perang Hunain, ketika menemukan lembaran kitab Taurat di sela-sela harta rampasan perang, Nabi memerintahkan untuk mengembalikan lembaran kitab tersebut kepada kaum Yahudi.

Namun kendati berbeda secara keyakinan, Nabi tetap menghormati dan menghargai keyakinan mereka. Inilah yang dibuktikan dengan tindakan Nabi yang mengizinkan mereka melakukan kebaktian di masjid Nabawi yang tidak mesti diartikan setuju dengan ajaran mereka. Sebuah sikap yang langka dan jarang ditemukan dalam tokoh-tokoh lainnya sepanjang sejarah.

Namun, ajaran Nabi ini diselewengkan oleh oknum tertentu demi hasrat politik. Beberapa kelompok umat Islam yang ekstrim salah memahami semangat Nabi yang inklusif ini. Di antara mereka ada yang membakar, membom, meruntuhkan bangunan peribadatan seperti gereja, sinagog dan lain-lain dengan dalih agama. Membakar, membom dan aksi-aksi kejahatan lainnya yang ditujukan untuk menghancurkan tempat-tempat peribadatan tersebut jelas merupakan tindakan yang menurut al-Quran sebagai ‘azhlam’ yang paling zalim atau yang paling ingkar.

Artinya, teroris yang melakukan aksi bom bunuh diri di gereja atau melakukan pemboman terhadap gereja, (bahkan masjid seperti yang pernah terjadi di Cirebon beberapa tahun lalu) dianggap sebagai bukan orang yang taat beragama, bahkan ia ingkar terhadap eksistensi Tuhan dan tak beradab.

Dengan meminjam bahasa al-Quran untuk Ahli Kitab yang telah menyelewengkan ajaran Taurat dan Injil, muslim yang merusak gereja, sinagog atau bahkan mesjid sendiri dengan dalih agama, sama-sama dianggap telah yuharrifuna al-kalima ‘an mawadi’ihi ‘telah menyelewengkan ajaran asli dari Nabi’. Karena itu sebagai agama yang terbuka dan dialogis terhadap seluruh ciptaan, Islam mengutuk keras segala bentuk tindakan umatnya yang bertentangan dengan misi utamanya, yakni menyebarkan kasih sayang bagi semesta alam (rahmatan lil alamin).

WAllahu A’lamu bisshawab

*Dari Berbagai sumber

Kaliwates, 23 Februari 2018

MUSUH YANG SALAH

Oleh berbagai kalangan, terlebih remaja, 14 Februari kemaren deperingati sebagai hari valentine atau hari kasih sayang. Bersamaan dengan maraknya remaja dalam memperingatinya, mari kita jadikan kemarakan tersebut sebagai moment yang tak perlu melahirkan hujatan dan penyalahan-penyalahan. Semua biasa saja, hanya mungkin perlu memberikan pemahaman dan melahirkan prilaku yang santun, sejuk dan mampu menghadirkan refleksi ke ruang yang lebih luas dan substantif.

Bagi saya, memperingatinya adalah hal yang wajar-wajar saja. Tak perlu memeras otak. Pun tak perlu digenting-gentingkan. Sebab kasih sayang merupakan prilaku niscaya yang harus disemai, diselenggarakan dan terus disebarluaskan ke seluruh ciptaanNya. Siapapun itu. Bahkan, berperilaku dengan kasih sayang nyata dan jelas diseru dan tegas diperintahkan agama, bukan?

“Irhamu man fil ardhi yarhamukum man fissama” Kasihilah siapa yang di bumi, maka yang di langit akan mengasihi. (Al-Hadist)

Masih seputar kasih sayang, dalam pelaksanaan dan realitanya, manusia sebagai yang beragama dan pelaku kasih sayang, cenderung sempit dan dangkal dalam berprilaku dan memerankan kasih sayang itu. Kasih sayang yang sejatinya bersifat universal dipaksa menjadi pengelompokan-pengelompokan secara tak sadar. Akibatnya lahir sensitifitas, kaku, dan terjerumus dalam frame saling mempertahankan kebenaran dan cenderung menyalahkan.

Sekarang, sensitifitas serta sikap saling mempertahankan kebenaran tersebut wajar dan lumrah kita terka disekitar. Sensitifitas dengan prilaku reaksioner dan mudah terpengaruhnya (krisis prinsip dan nilai). Sementara mempertahankan kebenaran dengan kecenderungan egosentrik, sekuler serta menutupi kewajaran yang seharusnya, bahkan ekskulisif.

Artinya ditengah kenormalan dan kewajaran yang absurd, banyak prilaku manusia yang tak manusiawi. Akal sehatnya sakit berat, darurat, gawat bahkan fatal. Ia dirasuki virus tak beradab dengan krisis teladan dan nilai.

Perlu pengkajian lebih mendalam untuk memaknaartikan agama sebagai suatu sumber ajaran dan nilai yang dipercayai. Agar prilaku dan tindakan keberagamaannya kembali normal, tak kaku dan tak menakutkan.

Implikasi empirik yang jelas nyata adalah tak henti-hentinya bersitegang dan terus-terusan saling serang dengan modal balutan sensitifitas dan pembenaran-pembenaran itu tadi. Olehnya, hilang prilaku kasih sayang antar sesama dan melahirkan tebang pilih. Sebegitu terus meneruskah, kita berprilaku?

Cak Nun dalam suatu kesempatan pernah menyatakan begini;
“Saat ini kita tiba pada keadaan sejarah dimana kebenaran saling berbenturan dengan kebenaran. Manusia saling mempertahankan kebenarannya, waktu dan tenaganya selalu dihabiskan untuk selalu menyalahkan yang lain. Tak sinergis dan bertengkar tanpa ujung.”

Pertanyaannya, mengapa kebenaran bisa mempertengkarkan manusia?

Begini, oleh manusia kebenaran sering dibawa keluar dari dirinya. Padahal itu tak perlu. Pun tak penting. Sebab kebenaran harus melahirkan kebaikan, keindah, kemuliaan, upaya untuk nyaman satu sama lain, kebijaksanaan dan kearifan yang merangkul. Jadi yang dikeluarkan bukan kebenaran itu sendiri. Dan ingat, kebenaran lahir tidak untuk mengutuk dan meyalahkan yang lain.

Benar itu bermacam-macam, kata Cak Nun. Ada benarnya sendiri yakni kebenaran subyektif masing-masing orang. Ada kebenaran orang banyak, yakni lahir dari elaborasi, rembuk dan perbincangan-perbincangan. Akhirnya ketemu demokrasi, kesepakatan nasional, dan lain-lain.

Namun benarnya orang banyak tak sama dengan benar yang sejati. Ia sesuatu yang bersifat cakrawala, harus ditempuh dan harus berjalan terus menerus hingga nanti ada hubungan langsung dengan sang pencipta. Dan demikian itu jelas dinyatakan tuhan. “kebenaran itu datangnya dariKu, manusia hanya mendapatkan jipratannya dan hanya berhak menafsirkan.” Maka tafsir kebenaran ini perlu kehati-hatian dan pengetahuan luas dan koperhensif.

Sebab, tafsiran kebenaran saya, jelas tak sama dengan bagaimana hasil tafsir kebenaran anda. Dan saya harus tidak mempertengkarkan tafsir saya dengan tafsir anda. Yang harus keluar dari diri saya adalah berusaha menggembirakan anda, membuat anda nyaman, aman, barang anda tidak saya curi, harga diri anda tidak saya nista dan anda tidak saya bunuh.

Hentikan tudingan, mambenci dan ingin memusnahkan siapa yang salah. Sebab bagi mereka yang kita tuduh salah, kita lah yang salah. Jadi harus kita mulai untuk mencari apa yang salah dan apa yang benar. Bukan siapa yang salah dan siapa yang benar. Artinya kita mempersoalkan nilai, bukan manusia. Kita sebagai manusia dan sebagai bangsa wajib menerima, mengasihi dan menyayangi semua.

Sebab kalau mempertengkarkan siapa yang salah dan siapa benar, implikasinya bukan pembuktian kebanaran, tapi soal kalah menang dalam kekuatan. Kalah dan menang dalam kekuatan tak lain adalah tatanan paling rendah dari manusia. Jelas manusia dicipta tidak untuk mengalahkan yang lain melaikan mengalahkan diri sendiri.

Jangan mau kalah dan menang, posisilah diantara keduanya. Sibuk dan berlomba-lombalah untuk saling mengamankan, saling menyamankan, saling menyumbang kebijaksanaan, kearifan agar output dari kita mampu memberikan keseimbangan bersama (sosial).

Sebab realitas dilapangan nampak jelas ketidak seimbangan yang terajut rata dimana-mana. Cara berfikir tidak seimbang, cinta tidak seimbang, fikiran dan hati tidak seimbang, hubungan individu dengan masyarakat tidak seimbang, antara kelompok masyarakat dengan yang lain juga terdapat ketidakseimbangan, rakyat dan pemerintah penuh ketidakseimbangan, bahkan tekhnis perekonomian pun penuh dengan ketidakseimbangan.

Dari pada saling memamerkan dan menyombongkan kebenaran, mending mencari cara dan berprilaku untuk bagaimana melahirkan keseimbangan nasional.

Maka, dalam ber-Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), cara berfikir kita harus menggunakan frame NKRI, harus bersikap NKRI dan berprilaku NKRI. Bukan cara berfikir keormasan, kefronan, kepartaian dan lain-lain. Kita berkewajiban berfikir dan memikirkan NKRI, berfikir utuh dan tunainya NKRI, bukan memikirkan karir sebagai profesi masing-masing dan kelompok.

Sebab Bhineka Tunggal Ika bukan kelompok, segala apapun masuk didalamnya, penduduk manusia, jin, bahkan iblis sekalipun. Jangan kalian kira NKRI hanya milik manusia. Dan itu tak bisa kita tolak. Menerimanya harus dengan kematangan, harus punya keluasan cara berfikir, kebijaksanaan dan saling mengapresiasi satu sama lain.

Sebab kita tak bisa melanjutkan negara bila yang satu menganggap dirinya malaikat dan yang lain syetan, atau bahkan membai’at dirinya malaikat dan yang lain diyakini syetan. Tidaklah prilaku itu cukup lucu menyakitkan, bukan?

Pejaten, 15 Februari 2018

PATRONASE

Hujan lebat, di pendopo depan rumahnya, nyai Surti dawuh kepada saya;

“Pengaruh seringkali dijadikan alat untuk merampas kemanusiaan agar ikut pada apa yang kita inginkan. Tak lain prilaku itu adalah menyandera dan merampok kedaulatan nurani personal kemanusiaan.” jelas nyai Surti sambil menyeruput kopi pahit kesukaannya.

“Maksud nyai?” Responku.

“Setiap orang punya misi mempengaruhi, ia cenderung menyatakan dirinya sebagai patron untuk dihamba dan diikuti setiap ingin dan kehendaknya.” Nyai surti bernada meninggi.

“Makin tak nyantol saya, nyai” sahutku, menunduk.

Dasar, masih saja kau tolol. Oleh manusia, pengaruh, kekuasaan, uang, bahkan pengetahuan sering dijadikan rujukan untuk dijadikan patron. Padahal secara tak sadar ia telah dilucuti kebebasan dan ditelanjangi kemanusiaannya.” Bentak nyai Surti.

“Iya juga ya, nyai” Aku menggerakkan kepala.

“Iya juga, iya juga, ndasmu itu kebesaran, Goblok..! Berpatron tak pernah mendaulatkan. Jika begitu maka selamanya kau tak akan merasakan kebebasan. Terpengaruh dan akan terus-terusan bergantung dan dikendalikan.” Nyai Surti menggebrak meja kunonya.

“Lalu, Apakah saya yang mahasiswa dan berorganisasi masuk dalam kriteria itu, nyai?” Tanyaku, sungkem.

“Pertanyaanmu yang salah, goblok. Bacalah dalam dirimu itu. Kamu yang tau jawaban itu. Apa perlu tak antemi gelas, biar kepalmu mikir?” Nyai Surti marah.

Aduh, Ampun, nyai.” Sahutku.

“Mahasiswa sepertimu yang sejatinya merawat kemerdekaan dari kebergantungan, saat ini tak lain hanya berpatron pada senior-seniornya dengan dalih karir kekuasaan, modal, dan uang. Dianggapnya semua itu adalah satu-satunya jalan meraih kesuksesan dan kemapanan. Padahal sewaktu-waktu mereka hanya dipakai untuk mengkonfensi pengaruh karir dan modal-modal yang lebih besar. Bukankah itu tak lain prilaku borjuistik yang selalu kau gaung-gaungkan di gedung mayat itu, eh maksudku gedung perwakilan rakyat?” Nyai Surti sangar.

“Kalau organisasi, nyai?” Tanyaku, ketakutan.

“Sama, organisasi juga berpatron pada organisasi diatasnya. Organisasi hanya tinggal nama. Ia kehilangan marwah dan nilai-nilainya. Misinya hanya dimaksudkan untuk terus-terusan menguasai dan saling bantai. Dengannya dikejar ketokohan dan kefiguran yang semestinya tak perlu dikejar. Implikasinya bukan berjuang untuk kesejahteraan umum, justru kesejahteraan individualistik atau kelompoklah yang dihimpun melalui topeng perjuang palsu yang tertunggangi. Paham?” Nyai Surti memanas.

“Kau kira organisasimu yang ngasih kamu rezeki? Organisasimu yang ngasi kamu makan? Otakmu itu kebalik, tolol.” Bentak nyai Surti.

Aduh, sendiko dawuh, nyai.” Responku.

“Bahkan tak cuma itu, ingat, Partai politik elektoral dan kepartaian feodalistik disekitarmu, pun berpatron pada tokoh-tokoh politik yang mereka anggap sebagai imam besar yang kalau tak ikut kata mereka (para imam) seolah keimanan pengikutnya dianggap bulsit. Padahal yang mereka lakukan tak lain hanya untuk menguatkan patron masing-masing. Oleh patronase itu semua dijadikan sebagai perajut gosip-gosip, mengada-ada yang tak ada, bahkan mementingkan yang tak penting. Bukankah prilaku itu sangat tak manusiawi? Paham?” Nyai Surti menyeruput kopi pahit kesukaannya.

Ampun nyai.” Jawabku kaget.

Ampun… ampun… pertanyaanku ‘paham?’, malah dijawab ampun. Mahasiswa kok terus-terusan goblok. Ini lagi, Asal kamu tahu, lembaga-lembaga survey itu, dibuat sebagai media untuk mempengaruhi, memungkin yang sejatinya tak mungkin dan melahirkan kalkulalsi-kalkulasi dengan persentase buatan. Lagi-lagi, jelas itu juga merupakan patron-patron kapitalistik, bukan?” Jelas nyai Surti sambil membakar kemenyan.

Enggeh, enggeh, nyai.” Jawabku.

“Oleh semuanya, jadilah relasi kekuasaan dinegeri ini tak stabil, kapanpun bisa berubah-ubah. Sekarang idealis besok bisa pragmatis, saat ini pragmatis, sehari kemudian tampak idealis. Sekarang membela ‘A’esoknya bisa membela ‘B’.”

Lalu, nyai?” Tanyaku.

“Patronase semacam itu jelas tak menguntungkan siapapun, kecuali membuat rakyat dan umat tak berdikari dan tak berdaulat. Dengannya ia dibuat bergantung sebab pengaruh sudah merasuk tak disadari. Dibuatnya bergerak tanpa tahu siapa yang menggerakkan. Fanatik pada simbol, nama, pamflet dan untaian-untaian dengan alih-alih gagasan palsu.” Terang nyai Surti sambil melonjorkan kaki.

“Kira-kira apa yang harus saya lakukan, nyai?” Tanyaku.

Aduh, begini aja, sebelum kau berbuat, baiknya sadari dulu. Ini lahan subur politik massa yang reaksioner. Mengapa? Sebab realitas tak dibangun dari kesadaran dan permenungan yang mendalam. Pun politik tidak tumbuh dari dasar yang edukatif, bukan dari perlawanan-perlawanan ketertindasan yang meninabobokan kehumanisan. Ngerti?” Tandas nyai Surti.

“Maksudnya, nyai?”

Waduh, goblok bener kamu ini…! Makanya jangan hanya sibuk mencari bangkai orang, cari bangkai didalam dirimu itu, tolol..!” Bentak nyai Surti.

Enggeh, siap. Nyai.” Jawabku menggerutu.

Siap… siap… tok ndasmu iku. Jadi mahasiswa jangan cuma pintar pasang badan dan cari muka. Lepaskan dirimu dari patronase-patronase itu. Jangan biasakan bergantung dan tergantung. Mahasiswa harus berprinsip dan bebas berekspresi. Jelas?” Nyai Surti melotot.

“Satu lagi, saya pesan. Tak mau berpolitik bukan berarti diam tak melakukan apa-apa. Hadir dan ikut sertalah membangun sekitar! Sebab terlalu banyak topeng-topeng tak berkelamin berkeliaran di sekelilingmu. Jangan habiskan waktumu berkoar-koar tak jelas. Segeralah putus mata rantai yang terus menjerujimu dalam idealisme dungu itu. Jelas?” Tutup nyai Surti.

Enggeh, jelas. Nyai.” Jawabku.

Uwaaaaay, udah, sana pulang…! Aku ngantuk mau istirahat.”

Enggeh, nyai”

Tak sempat pamit, Nyai surti masuk rumah dengan buku “Islam, Negara dan Demokrasi” karya Gusdur ditangan kanannya.

Pejaten, 13 Februari 2018

SANDIWARA

Beberapa hari yang lalu, saya menerima pesan dari kawan saya, pesan itu mengajak saya untuk mengenal lebih jauh soal struktur organisasi kemasyarakatan (ORMAS) Nahdlatul Ulama (NU).

Oleh berbagai kalangan, NU dinilai sebagai ormas yang katanya terbesar dan terbaik. Saya sebagai kader yang sampai saat ini masih was-was untuk mempercayai itu, dari pesan teman saya tadi, keyakinan saya mulai bertambah. Bagaimana tidak, kira-kira isi pesannya begini,

“Kang, Dibawah komando Pengurus Besar (tingkat Pusat), di NU ada sebanyak 33 Wilayah (tingkat Provinsi), 439 Cabang (tingkat Kabupaten/Kota),15 Cabang Istimewa (untuk kepengurusan di luar negeri), 5.450 Majelis Wakil Cabang (tingkat Kecamatan), dan 47.125 Ranting (tingkat Desa / Kelurahan). Belum lagi Lembaga, Lajnah dan Banomnya. Banyak sekali, bukan?” Jelas kawan saya.

“Saking bayanyaknya kang, total 53.062 struktur tersebut dikomando oleh tiga frame model kepemimpinan. Mustasyar sebagai Penasehat, Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi dan Tanfidziyah sebagai Pelaksana Harian.” Lanjut kawan saya.

Dari pesan tersebut, saya sebagai kader NU abangan yang berkeseharian dengannya, jelas, rincian-rincian itu memberikan kebanggaan yang sangat telak, di satu sisi. Namun di sisi yang lain ada yang membuat saya sedih, cemas, dan menyakitkan. Sebab dalam beberapa temuan saya yang mungkin sulit bisa dipertanggung jawabkan keafsahannya, puluhan ribu bahkan jutaan orang-orangnya masih saja sibuk dan ribut dengan gambar-gambar, jargon dan perang identitas hanya untuk diakui ke-NUannya. Termasuk saya.

Tepat pada 31 Januari kemaren, umurmu genap 92 tahun. Kalkulasi permenungan saya, ibarat umur manusia, sembilan puluh dua tahun bukanlah waktu yang sebentar. Tak ubahnya sebuah dimensi zaman, harus diakui, NU adalah ormas pengagung dan pelestari nilai-nilai luhur. Banyak olesan yang dikiprahkan NU dalam melukis bangsa ini. Luar biasanya, ukiran tinta emas yang harus terabadikan, ketika para ulama NU tampil terdepan dalam merebut kemerdekaan negeri ini dari dedengkot kolonial keparat.

Tak hanya disitu, Hasil rampasan-rampasan berwujud kedaulatan itu, oleh NU senantiasa dirawat, dipupuk dan disiram melalui suplay nilai kesejukan, perdamaian, kebersamaan dan spirit nasionalisme yang semakin hari semakin kokoh. Seolah tak satupun yang mampu merasukinya. Jangankan masuk, menyentuhpun seolah tak ada yang sampai. Bukan karena tak ada yang mau merusak dengan berbagai pancingan. Tapi semangat menjaga dengan kesadaran nilai dan kesejarahanlah NU masih tetap utuh dan kometmen dengan sikap kekesatriaan. Dengannya lahirklah kebebasan beragama, kerukunan berbangsa dan kesatuan bernegara.

Kembali ke soal kekayaan (struktural kelambagaan) NU, diumurnya yang semakin hari semakin berkurang (bukan bertambah), bersamaan dengan gebyar politik yang penuh dengan kepura-puraan, pencitraan, kepalsuan-kepalsuan, dan ramainya sandiwara ini, izinkan saya sedikit menyelipkan harap;

Wahai ormas penebar dakwah, diumurmu yang sudah jelas-jelas menua, semoga dakwah tak hanya menjadi ocehan dahsyat dengan sejuta kepura-puraan yang melahirkan ancaman-ancaman antar sesama pengikutmu. Bingkailah dakwah-dakwahmu itu dengan kejelasan prilaku sebagaimana para pendirimu mewarisi nilai-nilai itu. Sebab “lisanul hal afshokhu min lisanul maqol”.

Wahai ormas pegiat pendidikan, di-hampir se-abad usiamu, semoga pendidikan tak hanya menjadi ladang penggiringan manusia yang seolah diberdayakan tanpa difikirkan mau dikemanakan manusia-manusia itu. Kembalikan misi meng-karakterkan, berikan uswah dengan tindakan dan prilaku. Jangan hanya terus-terusan berorasi ilmiyah yang berujung tegang tak menarik. Murnikan kembali kapitalisasi kelas. Kembalikan sanderaan nurani kemanusiaan.

Wahai ormas pemilik pesantren terbanyak, Pondok pesantren sebagai bagian terpenting dalam penjagaan dan pemberdayaan umat, di usiamu yang sudah sepatutnya menjadi panutan, semoga pondok pesantren tak tercerai berai oleh prilaku yang semata-mata dikemas dengan tanggung jawab diplomatis yang terdramatisir.

Wahai ormas penegak keadilan, Ditengah marak dan lumrahnya ketidakadilan, Lembaga bantuan hukum yang telah kadung kau rajut, semoga tak hanya menjadi formalitas pewarna buatan yang dengannya kesehatan hukum di bangsa ini tak lagi terus-terusan tajam kebawah dan tumpul keatas. Dengar dan terlibatlah atas seruan-seruan masyarakat dan realitas ketidak adilan serta penindasan disekitarmu.

Wahai ormas pecinta dan pelestari seni dan budaya, ditengah bombardiran global yang serba canggih dan kerobot-robotan, semoga engkau masih terus tegak dan gegap gempita melirik seni-seni dan budaya yang katanya itu semua adalah kekuatan dan kekayaan bangsa. Jangan biarkan semuanya menjadi fosil. Berhentilah sejenak beralasan, akuilah dan hidupkan budaya-budaya itu lewat adonan sistem buatanmu.

Wahai ormas penyelamat tanah, bangsa ini subur dan terlalu istimewa untuk dirangai dengan kata. Mengapa engkau jarang hadir disaat masyarakat bawah menjerit lantaran tanah-tanah mereka dirampas dan diolah diluar yang seyogyanya. Jangan biarkan beton dan besi-besi yang tumbuh di tanah-tanah mereka. Berhentilah sejenak, sapa, tanyakan nasib dan kabar tanah-tanah mereka.

Wahai ormas pengkaji dan pembangun sumberdaya manusia, sudahkah klimaks kajian dan pembangnan sumberdaya manusiamu kau anggap berhasil? Jika iya, mengapa prilaku tak berkemanusiaan masih saja berkeliaran diareamu dengan payung pernyataan-pernyataan kobong “berjuang atasmu”. Miris diri ini melihatmu terinjak-injak dijadikan jembatan dalam kesemangatan konyol materialis tak ideologis.

Wahai ormas penangulang bencana, sebagai manusia dengan kejiwaan yang sama, saat bencana melanda, saya yakin kita berkeprihatinan dan turut berduka dengan rasa yang sama. Namun, apakah kita akan terus-terusan hidup dalam kesimpatian yang tak berujung apa-apa? Kapan kita mengeluarkan ke-empatian kita? Berlarilah sejanak, ulurkan tangan kepada mereka, simpuhlah punggung mereka meski sekedar membisikinya dengan seruan “aku turut berduka cita”.

Pada akhirnya, NU sebagai ormas yang berprinsip pada permusyawaratan yang lumrah dengan duduk-duduk melingkar. Kini hanya menjadi kerumunan tanpa sinergi, pun tak kolaboratif. Implikasinya justru terus-terusan mengembang biakkan persoalan-persoalan yang kabur, meski kadang masih saja dibenar-benarkan dan seolah mengaggap tak ada apa-apa. Bak api dalam sekam.

Pertanyaannya, Apakah kita sudah merasa puas dengan kemerdekaan yang diberikan para pendahulu kita?, Atau justru kita sendirilah yang sedang menjajah kemerdekaan?

Mungkin tulisan ini akan dinilai keras jika membacanya dengan intonasi keras, namun akan menjadi lembut jika membacanya dengan intonasi lembut pula. Atau justru ditafsikan sebagai kritik pedas yang dianggap tak sopan dan melampaui batas. Tak masalah.

Yang jelas, tulisan ini saya buat atas dasar harapan nurani bathiniyah, agar lahir dan tumbuh permenungan perseorangan sebagai NU yang harus senantiasa dihidupkan secara terus menerus. Sebab, NU tak semurah prilaku-prilaku keji, keparat dan ke-kurangajar-an kita yang kerap kali hanya sibuk membangun eksistensi ke-NUan lewat tempelan simbol-simbol dan bualan-bualan diplomatis buatan.

Saatnya kita sudahi ketidak pedulian berwangi kemaslahatan, entaskan penindasan beraroma kemakmuran dan cukupkan kemelaratan berbau kesejahteraan. Bersatulah, hadirlah, dan tampakkan pesonamu.

Sebab, “Laa yamutu wa laa yahya” itu sangat lucu menyakitkan, bukan?

Wallahu a’lam bisshawab

Pejaten, 08 Februari 2018